Jumat, 27 Juli 2012

PRAJURIT, TERIMA KASIH!

Salah satu peran pembantu yang paling saya sukai adalah karakter Letnan atau Kapten entah siapa dalam film Forrest Gump. Kalau tidak salah dalam film itu ia kena ledakan granat atau apa, lalu diselamatkan oleh Forrest. Walhasil ia tetap hidup mesti harus kehilangan kakinya. Kemudian mereka berpisah dan beberapa tahun kemudian Forrest menjumpai Letnan atau Kapten ini dalam kondisi mengenaskan: awut-awutan, kumuh, memancarkan kesan bau busuk, buntung, dan selalu mabuk serta menyemburkan sumpah serapah untuk apapun dan siapapun termasuk Forrest yang menyelamatkannya, karena pria malang ini berpikir bahwa lebih baik mati terhormat di medan perang ketimbang hidup buntung merana tersia-sia. Lalu Forrest menggandengnya sebagai partner dalam bisnis penangkapan udang dan sosok buntung frustrasi itu singkat kata berakhir kaya raya dan bahagia dengan istri orientalnya.

Letnan di atas bukan satu-satunya sosok veteran yang otaknya jadi miring akibat perang  dalam film-film perang yang saya tonton, baik itu fiksi maupun based on true story. Dan meskipun memang film memang sering dilebih-lebihkan demi alasan visual dan lainnya, tetap saja di luar sana banyak orang yang jadi sinting akibat perang. Saya jadi ingat berita heboh beberapa tahun lalu ketika seorang anggota polisi yang tengah bertugas mengamankan acara kenegaraan entah apa lupa (biasa:)), tiba-tiba memberondongkan peluru tanpa alasan jelas. Lalu semua orang menggoblok-goblokkan polisi itu kemudian mencapnya sinting, yang sayangnya benar, karena setelah ditangani tim psikiater terkuak bahwa ia menderita depresi akut lantaran tekanan pekerjaan dan tugas berat sebagai prajurit polisi.

Lalu ass media -oop, sori, keseleo:). Habis, dalam banyak sekali hal memang benar, sih:)- ganti memberondongkan peluru penghakiman mereka yang adil dan manusiawi, sesuai dengan jargon mulia mereka yakni 'tak berpihak', termasuk betapa negara ini mengabaikan para prajuritnya blablabla. Tapi yang paling 'cerdas' menurut saya adalah ulasan sebuah koran yang terkenal, intinya: 'Kalau sudah siap jadi prajurit ya musti siap secara mental dan fisik. Kalau tidak mendingan tidak usah ketimbang jadi prajurit cemen, dll.' Sampai di titik ini darah saya benar-benar mendidih, lalu spontan menyemburkan makian -pada sehelai kertas koran-:), begini: "Hellllooooo....why don't you try to be one of them, you stupid a*shole?", lalu meremas dan membuang kertas tak bersalah tersebut, untuk kemudian berikrar tak lagi sudi mengeluarkan seperakpun demi membeli koran tersebut (tapi kalau pinjam tetangga sih, masih:).

Itu baru yang ketahuan dan bikin gempar karena melibatkan berondongan peluru. Jadi bagaimanapun masih mending, karena prajurit malang tersebut setidaknya berakhir di tangan tim ahli dan namanya tertulis di media massa meskipun dalam tinta kelam. Tapi bagaimana dengan yang lain? Bagaimana dengan prajurit lain dari kesatuan manapun yang ditugaskan di daerah-daerah konflik, tercerabut dari sanak keluarganya sampai entah kapan? Bagaimana dengan para marinir yang musti siap sedia untuk ditugaskan daerah operasi militer dan tetap harus siaga, terus menerus waspada, dengan darah yang terpompa cepat ke jantung, menanti untuk diterjunkan dalam ketidak pastian dalam kapal yang diombang-ambingkan gelombang selama berminggu-minggi? Ya pembaca, hal ini nyata, senyata barisan huruf yang saat ini tengah anda baca. Dan bagaimana dengan prajurit lain yang menjaga perbatasan, hidup dalam kesunyian -benar-benar sendirian- hanya berteman pohon-pohon, serangga dan mahluk-mahluk hutan, dan setelah senja turun dicekam kegelapan dengan ransum yang pasti bakal kita muntahkan secepat kilat? Bagaimana dengan petugas pengendalian massa yang musti berhadapan dengan segerombolan manusia beringas bersenjatakan badik, clurit, batu segede hohah, dan senjata tajam atau tumpul lainnya? Bagaimana dengan petugas yang terkena lemparan bom molotov? Paling banter kita hanya bilang, "Ah, itu kan sudah bagian dari tugas." Tapi giliran petugas menindak tegas para perusuh, sontak media berlomba-lomba -seakan mereka sedang mengikuti kejuaraan dunia 'MR. SUCKER'- menurunkan tajuk utama dengan tema "AROGANSI APARAT". 

Dan bagaimana dengan mereka yang ditugaskan di wilayah-wilayah pemberontak? Atau berhadapan dengan teroris? Pilihannya: ditembak atau ditembak. Dan ini sama sekali bukan GTA, yang kalau ada kepala menggelinding dan darah muncrat kita justru berseru "YES!!!" sambil mengepalkan tangan. Saya banyak berbincang dengan anggota militer atau polisi yang tentu saja identitasnya tak bisa saya buka, dan dengan jujur serta rendah hati mereka mengakui bahwa melepas peluru adalah hal paling mengguncang nurani, kendati dari awal memang mereka sudah dipersiapkan untuk keadaan seperti itu. "Banyak dari kami yang jadi bocor (maksudnya otaknya jadi 'miring') setelah terpaksa menembak, apalagi sampai beberapa kali. Bagaimanapun kami juga manusia, mbak," kata mereka mengingatkan saya pada sebuah judul lagu rock Indonesia.

Hal-hal seperti itulah yang sama sekali tak pernah kita pedulikan. Kita baru mau membuka mulut -dengan sinis, tentu saja- kalau ada petugas terima suap, aparat jadi peking rumah pelacuran, dll, seakan-akan mereka pemain tunggal dan tidak ada anggota masyarakat yang terlibat di sisi lain dalam pertunjukan kotor ini. Lalu kalau ada apa-apa, contohnya prajurit stres di atas, tentu saja dengan kompak seakan-akan ada konduktor, dengan gegap gempita kita melantunkan koor menimpakan semua kesalahan pada pemerintah. Saya adalah bagian dari rakyat, dan dengan jujur saya mengakui bahwa dalam banyak hal pemerintah masih jauh lebih baik ketimbang kita. Paling tidak seperti hasil curi dengar kata-kata KJ pada istrinya soal biaya rumah sakit (tengok posting saya sebelumnya). Hal terhebat yang bisa kita lakukan adalah melecehkan para prajurit dalam program AMD atau mereka yang membersihkan rernutuhan bangunan bekas bencana alam, dengan kalimat-kalimat seperti, "Dasar tentara kurang kerjaan. Nggak pernah perang, sih." Padahal Indonesia tidak pernah perang salah satunya adalah pamor prajurit kita yang dikenal militan dan berani mati, mengingat kualitas persenjataan kita yang patut dipertanyakan.

Saya tidak tahu dengan anda, tapi saya sangat mencintai prajurit Indonesia, dari kesatuan manapun mereka. Dan apapun kata orang tentang mereka, saya tetaplah bangga. Saya kadang-kadang membayangkan diri sebagai seorang prajurit yang baru pulang dari tugas di daerah pemberontak, dan di antara keluarga yang menyambut, terselip orang yang tak saya kenal, tiba-tiba menyalami saya sambil berkata, "Terima kasih karena sudah bertugas dengan gagah berani, Prajurit." Itu mungkin akan jadi penghargaan paling indah bagi saya sebagai seorang prajurit. Namun dalam kehidupan nyata saya memang sering mendatangi seorang petugas lalin, menjabat tangannya (sambil cengengesan malu), berkata, "Pak Polisi, terima kasih sudah mengatur lalu litas dan menjaga keamanan, ya." Kali lain saya mendatangi seorang tentara yang sedang berjaga di pos, hanya untuk bilang, "Terima kasih sudah membuat negara kita aman, Prajurit."

Ada dua kemungkinan sehubungan dengan kelakuan saya di atas, yakni: 1. Anda menganggap saya lebay dan cari perhatian. 2. Anda mengira saya baik hati dan tidak sombong.  Untuk pilhan pertama saya akan menjawab,"No coment," sambil tersenyum a la Dessy Ratnasari. Dan jika anda menjatuhkan pilihan pada yang kedua, ijinkan saya jelaskan lebih dahulu kronologi setiap kali saya melakukan hal tersebut: setelah  saya mengucapkan apresiasi sambil cengengesan malu, biasanya para prajurit itu lengucap terima kasih dengan tulus dengan ekspresi lebih malu ketimbang saya. Tapi setelah pudar rasa terkejut, mata mereka akan berbinar-binar, persis seperti ekspresi anak-anak saya jika mendapat hadiah kejutan yang sama sekali tak mereka sangka-sangka. Persis seperti saya ketika mendapat pujian tak terduga dari bapak saya,  yang biasanya irit kata-kata, dan justru itu merupakan penghargaan paling bernilai buat saya ketimbang apapun. Dan setiap kali mendapat pujian dari bapak saya, suasana hati saya -seburuk apapun- akan langsung membaik dan dampak dari rasa cerianya bisa saya rasakan sampai beberapa hari kemudian. Saya juga jadi bersemangat dan sangat produktif, serta memandang dunia ini sangat indah. Benar-benar luar biasa pengaruh sepenggal kata manis dari bapak saya tersebut.

Saya bukan orang kaya, terkenal, arif dan bijaksana, dan sebagainya. Saya ingin memberi banyak bagi para prajurit yang saya cintai dan hargai di negeri ini, tapi benar-benar tangan saya tak sampai. Tapi setidaknya lidah dan senyum saya sampai. Lidah saya bisa mengucapkan hal-hal manis yang menggugah semangat mereka untuk berbuat lebih baik lagi bagi negeri ini saat mereka menjalankan tugas, seperti yang dilakukan oleh pujian bapak saya terhadap jiwa dan semangat saya. Sayang lidah saya cuma satu. Kalau saja ada lidah-lidah lain yang membantu saya, betapa bahagianya para prajurit yang telah memberi banyak bagi kita dan negeri ini...... (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga). 



Senin, 16 Juli 2012

KOPRAL JONO

Pasti di luar sana setidaknya ada satu pembaca yang bertanya-tanya: "Apakah Yuanita Maya sudah dipanggil yang Maha Kuasa?":). Tenang saudara-saudara, ajal saya belum tiba dan saya baik-baik saja. Hanya selama sekitar dua bulan ini saya sedang bergumul dengan banyak sekali hal , sehingga saya putuskan untuk off dulu ketimbang maksa dan endingnya manimal (usaha maksimal hasil minimal:)). Plus beberapa waktu lalu putri saya, Kinasih, kena DB dan sangat kritis sampai di ambang koma. Ia dirawat di RS Tentara Wolter Monginsidi Manado (oh ya pembaca, saya sudah kembali ke haribaan ibu Minahasa). Kami tiba di sana subuh dan tidak ada tempat yang tersisa bagi kami selain bangsal, begitu pula rumah sakit tempat Kinasih dirujuk. Akhirnya untuk melengkapi derita, ia terpuruk di boks di sudut bangsal D RS Tentara Teling, Manado, dan saya terpuruk di lantai bila hendak mengistirahatkan tubuh. Tertekan dan terhina? Wow,  tentu saja:). Tapi seperti pepatah yang mengatakan 'Every cloud has its silver linings', maka di sudut derita ini saya menyerap banyak sekali hal yang akan saya turunkan mulai posting ini hingga beberapa posting ke depan. Salah satunya adalah sosok luar biasa tokoh utama posting kali ini.

Saya tak tahu pangkatnya, karena pada dasarnya saya juga tak tahu jenjang hirarki dalam kemiliteran. Mungkin saja ia seorang kopral. Pun saya tak tahu namanya, bisa jadi Jono. Jadi saya menyebutnya Kopral Jono. Ya, saya menamainya Kopral Jono begitu saja karena kami memang tak pernah bertukar kata biar sepatahpun. Saya hanya mengamati segala tindak-tanduknya selama sekitar 4 hari dalam radius satu meter, sebab sekat dan privasi apa yang bisa kami harapkan dari sebuah bangsal?

Kali pertama saya melihat Kopral Jono adalah saat ia datang waktu sore di hari pertama saya di sana. Ia membawa tas-tas plastik berisi tetek-bengek khas orang tua yang anaknya diopname. Seharian itu istri KJ  -sama halnya ibu-ibu lain di zaal D- sangat kelelahan menjaga bayinya yang berumur sekitar 1 tahun dan terserang muntaber. KJ (demikian saya menulis Kopral Jono mulai kini sampai akhir artikel nanti) mendapat sambutan berupa omelan meriah dari sang istri. Kendati mereka menggunakan bahasa Sanger yang tak saya ketahui artinya biar satu katapun, tapi istri KJ menggunakan bahasa omelan istri yang universal dan bisa dipahami oleh istri lain dari suku dan belahan dunia manapun. KJ menanggapi rentetan omelan istrinya dengan mengulurkan sekotak minuman sambil tetap berdiam diri. Istrinya mengambil jeda untuk menyeruput minuman, lalu melanjutkan omelan dengan semangat  baru karena telah mendapat suntikan cairan. Sementara itu 2 anak mereka yang lebih besar -sekitar kelas dua dan lima- petakilan sendiri. Yang laki-laki -dan sangat menjengkelkan- memanjat boks yang berisi adik dan ibunya. Ia melompat dengan suara 'gedebug' yang sangat mengganggu, memanjat lagi, melompat lagi, demikian seterusnya, sampai si ibu dengan kesal mengancam akan menghajarnya dengan balok dan rangkaian ancaman lain (beberapa hari berada dekat istri sang Kopral, saya percaya bahwa ia adalah perempuan yang penuh vitalitas dan stamina tinggi, karena sekalipun tenaganya tersedot untuk mengurus anak sakit yang luar biasa melelahkan dan berpotensi besar mengundang stres -apalagi kamarnya zaal- ia masih mampu menyediakan cadangan energi untuk menghardik anak-anaknya dengan rupa-rupa ancaman seperti lazimnya ibu-ibu Manado, bahkan kadang mewujudkan ancamannya dalam tindakan nyata). 

KJ dengan cerdik memanfaatkan momen tersebut untuk menghindar dari omelan babak 3. Sementara si istri sibuk mendamprati anak laki-lakinya, KJ menyambar si kecil dari boks lengkap dengan infusnya. Dengan kagum saya mengamati betapa tangan kirinya memegang si kecil yang berjalan tertatih-tatih dan tangan kanannya teracung tinggi-tinggi mengangkat tabung infus sambil berjalan jongkok. Ini bukan main-main, kata saya dalam hati sambil bertanya-tanya, mungkinkah ini hasil push up, sit up, geluntungan di lapangan, dll sebagai bagian rutin dari perannya sebagai seorang prajurit? Aktifiitas tersebut baru berhenti sekitar 1 jam kemudian, ketika tiba waktu rombongan dokter tiba untuk memeriksa pasien. KJ diam-diam menyelinap ke luar, mungkin untuk merokok atau sekedar melamun merenungi nasib.

Begitulah KJ melewati hari-harinya. Pagi-pagi ia berangkat dengan seragam tentaranya -sangat gagah dan layak dipercaya untuk melindungi negara- sore ia datang untuk mencurahkan waktu demi merawat dan memerhatikan keluarga dan menerima omelan. Malam hari dalam tidurnya yang tak pernah lama karena musti bergantian dengan istrinya, KJ tak pernah benar-benar lelap. Ia bangun beberapa kali untuk mengecek segala sesuatu, kadang mengoleskan lotion anti nyamuk pada anak-anaknya yang besar, membetulkan letak selimut mereka, memeriksa selang infus si kecil, dan hal-hal sederhana lainnya. Hal-hal sederhana yang mengingatkan pada bapak saya yang lembut hati dan penyabar. Mereka punya banyak kemiripan, dan sejauh pengamatan saya terhadap KJ, hal-hal yang membedakan mereka hanyalah:
1. KJ tegap dan berkulit pekat, sedangkan bapak saya kurus kecil bagai cotton bud:).
2. Bapak saya berangkat ke kantor dengan sedan ber-AC di gedung Pertamina yang megah dan full AC pula. Bapak saya melewatkan makan siangnya dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya. Lalu sorenya beliau pulang ke rumah yang lapang, bersih, tenang, berhalaman luas lengkap dengan pekarangan samping tempatnya menghibur diri dengan pohon-pohon mangka, sirsak, matoa segala rupa dan ayam-ayam kampung yang dipeliharanya penuh cinta. Bapak saya bekerja di kantor dengan fasilitas menyenangkan dan pulang ke rumah yang menenangkan, jadi wajar kalau beliau mampu memertahankan kelembutan dan kesabaran yang didapatnya sejak lahir itu. Tapi KJ lain. Ia prajurit. Dalam menjalankan tugasnya ia jauh dari pendingin ruangan dan segala kenyamanan. Saya tak tahu apa dan di bagian mana ia ditempatkan. Mungkin ia menghabiskan seharian yang membosankan di pos penjagaan. Mungkin ia mengawal komandannya. Mungkin ia mengangkut amunisi dari truk ke gudang dan sebaliknya, diselingi bentakan dari komandan dan push up dan hal-hal lain macam itu. Dan ia tidak pulang ke rumah dengan halaman luas dengan segala pohon buah dan ayam kesayangan, namun ke petak asrama yang sempit dan disesaki manusia, jerit tangis anak-anak sendiri dan anak-anak tetangga, omelan istri sendiri dan istri-istri tetangga, dan segalanya. Ia mungkin bahkan sama sekali tak punya tempat dan waktu yang tenang bagi dirinya sendiri. Tapi ia bertahan.

Dan hanya manusia luar biasa yang bisa memertahankan kelembutan dan kesabaran seperti yang diperagakan KJ yang sama sekali tak menyadari bahwa selama hari-hari tersebut saya mengamatinya bagai pencuri. Saya juga tak tahu ia pernah ditempatkan di mana saja, yang jelas suatu hari ia pernah memakai kaos seragam dengan tulisan pasukan ini atau itu dan Aceh itu atau ini. Jadi kemungkinan besar ia pernah ditempatkan di sana. Mungkin 1 tahun, mungkin pula 2 tahun. Bisa jadi pula selama itu ia terpisah total dari anak istrinya. Dan siapa yang tahu berapa kali nyawanya nyaris melayang oleh peluru anggota GAM, di tengah-tengah usahanya untuk mempertahankan kewarasan akibat terpisah sekian lama dari orang-orang yang dicintainya? Saya hanya menerka-nerka, karena saya tak pernah tahu apa isi hati KJ.

Saya ingin sekali mengajaknya mengobrol, tapi saya merasa rendah diri. Saya merasa tak berarti di hadapan pria sekitar 40 tahun, prajurit berpangkat rendah yang tak menuntut banyak, yang hanya tahu berkata "SIAP!" untuk apapun yang dikatakan komandannya, kemanapun ia ditempatkan, seberat apapun tugas yang harus ia laksanakan. Saya merasa kecil di hadapan prajurit yang demikian setia memersembahkan yang terbaik yang ia miliki untuk keluarga dan negaranya. Dan ia sangat menghargai apa yang sudah diberikan oleh negara kepadanya, karena dalam tanggapannya terhadap salah satu rentetan omelan istri ia berkata begini (yang untunglah waktu itu dalam dialeg Manado): "Baele dorang masi bole mo urus pa torang. Hele doi biar satu perak torang nyanda takaluar (Masih beruntung mereka (maksudnya pemerintah) mau mengurus kita. Sedangkan uang biar seperak kita tidak perlu keluar)."

Saya jadi teringat pada kebanyakan dari kita yang hanya tahu memikirkan kepentingan diri sendiri dan mencaci maki apapun yang dilakukan negara ini. Kita semua tidak ada apa-apanya dibandingkan prajurit yang telepon genggamnya sangat sederhana ini. Telepon yang tak mungkin memuat aplikasi twitter atau FB, tempat di mana banyak dari kita memanfaatkannya untuk mengumpati negara, mengatai-ngatai Indonesia, seakan-akan kita sudah mempersembahkan sesuatu yang berarti untuk negeri ini, seakan-akan kita terlalu agung dan mulia, seakan-akan Indonesia terlalu hina untuk jadi tanah air kita. Tapi memang di sinilah letak paradoksnya: KJ mampu menghargai apapun yang diberikan oleh negeri dan negara ini, karena ia TELAH memberi, sebab hanya mereka yang mampu memberi dengan tuluslah yang bisa menerima segala hal baik yang ia dapat dengan kaca mata syukur. Tapi mereka yang bebal -yang bisa jadi saya dan anda termasuk di dalamnya- adalah orang-orang yang hanya tahu menggerutu, karena sama sekali tak tahu rasanya memberi, terlebih berkorban. 

Saya tak begitu yakin KJ mengetahui bahwa J.F. Kenedy pernah berkata, "Jangan tanya apa yang sudah diberikan oleh negaramu, tapi tanyalah apa yang sudah kau beri untuk negaramu", karena selain pendidikannya terbatas, waktu dan tenaganya juga sudah habis untuk menjalankan tugas dan mengurus keluarganya. Kecil kemungkinan KJ punya waktu untuk memikirkan hal-hal lain, hal-hal 'cerdas' lain macam mengorek-orek kekurangan negeri ini, membuat analisa kritis tentang good governance, bobroknya sistem pendidikan dan hal-hal macam itu (sambil di lain waktu menyuap petugas lalin, memberi bingkisan mahal untuk guru di sekolah supaya nilai anak terdongkrak, dan lain-lain-lain). Kecil pula kemungkinan KJ memahami arti 'Vox Populi Vox Dei' yang sering dijadikan tameng untuk mengumbar omongan dan kehendak seenak jidat sembari melupakan prinsip keberimbangan setidaknya sesuai sila-sila Pancasila dan butir-butirnya. Mungkin malah KJ sama sekali tak tahu arti kata 'people power', tapi bagi saya semua itu sama sekali tak penting, karena KJ -tanpa sama sekali disadarinya- telah membutikan bahwa ia jauh lebih cerdas daripada kita semua. Kecerdasannya begitu sederhana dan berarti, yakni memberi dan menghargai negara dan negeri ini.

Kopral Jono, engkau membuat Indonesia terberkati!

 

Kamis, 26 April 2012

Tak Mau Jadi Bebal Gara-gara Israel-Palestina


Komentator link www.indonesiasaja.com di FB pada posting ‘Pecahlah Indonesia Gara-gara Israel-Palestina: “Di dunia maya ini ternyata ada orang Kristen seperti Mbak. Hebat!!!”.
Mbak Kristen yang hebat: “Di dunia maya dan dunia nyata banyak orang Kristen yang seperti saya. Hanya saja kebanyakan pendiam dan pemalu. Saya saja yang cerewet dan banyak mulut, dan nggak peduli dimusuhi siapapun sepanjang saya tahu saya benar. Dan kebenaran yang saya maksud di sini adalah menentang segala bentuk kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh siapapun, dalam hal ini Israel terhadap Palestina”.

Lalu jempol bertebaran untuk komen Mbak Kristen yang hebat di atas, yang tak lain tak bukan  adalah saya sendiri:). Namun di balik pujian itu ada sebuah ironi: saking lebar dan dalamnya jurang kebencian dan kecurigaan, sampai-sampai saya dibilang ‘Kristen yang hebat’ hanya karena menentang pembunuhan. Dan ‘dituduh’ bahwa Kristen model begini hanya saya seorang diri.  Namun nyatanya memang bukan perkara mudah untuk menentang arus, apalagi di luar sana memang harus diakui banyak orang Kristen yang termakan propaganda Zionist yang lihai sekali memutar-balikkan firman Tuhan tersebut. Apalagi saya tinggal di negeri yang kaum kristennya adalah minoritas. Sudah temennya dikit, menentang arus lagi. Tambah kesepian, dong:). Itu sebabnya sekali lagi saya hendak menandaskan, bahwa posisi saya di sini sama sekali bukan untuk cari pujian dan atau musuh, melainkan menyuarakan kebenaran (setidaknya menurut perspektif saya). Karena sehubungan dengan artikel tersebut selain pujian baik dari Muslim dan Kristen, saya juga menuai banyak kecaman (hehehe….). Ini di antaranya, berikut tangkisan a la Yuanita Maya:):
1.     Saya dituduh terlalu banyak menonton tivi Indonesia, yang mana dalam reportase konflik 2 bangsa di atas tentu saja banyak menggunakan perspektif Islam (jelas, media itu kan pedagang, tentu mereka tau betul pasar mana yang terbesar di Indonesia). Namun faktanya saya nyaris tak pernah nonton televisi, kecuali Sponge Bob dan Shawn the Ship, itupun kalau sempat. Jadi tuduhan di atas gugur dengan sendirinya (kecuali si penuduh tak percaya saya tak doyan nonton tivi:)).

2.     Kedua, muncul tangkisan bahwa tindak pembunuhan dan kekerasan bukan hanya dilakukan oleh pihak Israel terhadap Palestina, melainkan juga sebaliknya. Ya mesthiiiii…!!! Namanya juga perang, gitu loh, capeeeeek.… Sama halnya bukan hanya pihak Belanda yang membunuh pejuang RI, demikian sebaliknya. Pertanyaannya: akankah kita membunuh pihak Belanda jika mereka tidak memulainya? Sudah, itu saja balasan saya:).

3.     Kemudian ada upaya untuk membelokkan pendirian saya dengan pendekatan penderitaan bangsa Yahudi, sejak jaman pembuangan hingga holocaust jaman Hitler. Please, hanya orang tidak waras saja yang tidak merasa pilu melihat penderitaan bangsa Israel, terlebih pada era si megalomaniak sinting berkumis sepenggal yang tampangnya lebih pantas jadi pelawak itu. Tapi segala penderitaan bangsa Israel tersebut tidak serta-merta mengesahkan Zionis melakukan kejahatan serupa terhadap bangsa lain (sebagai catatan perlu saya tambahkan betapa pendudukan Israel ke tanah status quo tersebut dilakukan dengan pendekatan yang sangat licik sekaligus keji. Dan perlu saya garis bawahi pada awal-awal penderitaan bangsa Palestina tak ada satupun negara Arab yang peduli pada mereka. Bahkan para pengungsipun mereka usir secara terang-terangan).

4.     Beberapa dengan tegas menggaris bawahi bahwa dengan segala macam penderitaan toh bangsa Israel tetap surfive, yang mana semakin memperjelas fakta bahwa inilah bangsa pilihan Tuhan dan ada rencana Tuhan di balik semua ini. Baiklah, silakan anda kembali ke posting saya sebelumnya di mana saya mengatakan bahwa memang bangsa ini telah dipilih oleh-Nya dengan alasan-Nya sendiri. Dan sekali Ia mengucapkan janji setia serta berkat, maka Ia akan menepatinya sampai kiamat. Jadi segala kelebihan, kehebatan, dan keini-ituan bangsa Israel jelas sama sekali tak ada hubungannya dengan kehebatan bangsa itu sendiri. Tuhanlah yang hebat! Dan sampai di sini SAYA TIDAK MAU BERDEBAT.

5.     Sekali lagi banyak yang membawa-bawa Tuhan dalam hal ini dan melibatkan janji-Nya pada bangsa Israel. Tapi saya tegaskan, bahwa mereka sendiri telah menolak Mesias yang dijanjikan bahkan menyalib-Nya (camkan bahwa saya hanya mengatakan fakta, bukan mengobarkan semangat antisemitisme). Mereka lebih percaya MESIAS BUATAN MEREKA SENDIRI, yakni ZIONIS. Dan meskipun saya akan menjadi orang yang sangat sombong sekaligus bodoh jika berani memosisikan diri sebagai pembela Tuhan seakan-akan Dia lemah dan lunglai tanpa pembelaan saya, namun saya punya kewajiban untuk menyatakan kebenaran bahwa SANGAT TIDAK PANTAS BILA JANJI KESELAMATAN TUHAN YANG KUDUS DISAMAKAN DENGAN PENYELAMATAN PENUH KESOMBONGAN DAN BERGELIMANG DARAH A LA ZIONIST! Tentu saja saya tidak hendak mengingkari fakta bahwa tak ada satupun perkara yang terjadi di dunia ini tanpa ijin-Nya bahkan luput dari pengawasan-Nya sekalipun. Namun antara kehendak serta rencana Tuhan dengan ijin-Nya seringkali terbentang jarak yang dalam dan lebar, demikian juga dalam hal ini.
6.     Sesudahnya adalah penjabaran panjang lebar tentang sejarah permusuhan yang panjang antara kedua bangsa ini dan rencana Tuhan di balik konflik mereka. Dan di sini saya mendapat kesan bahwa sejarah permusuhan tersebut justru digunakan sebagai legalitas bagi dua bangsa ini untuk terus berseteru hingga sekarang, bahkan melibatkan bangsa-bangsa lain, termasuk (yang mana saya sama sekali tak bisa terima) Indonesia! Dan bicara soal rencana Tuhan, bagi saya pribadi, rencana-Nya yang paling dalam perkara ini adalah bergandengnya semua tangan untuk menghentikan konflik menjemukan antara dua bangsa keras kepala ini, sebab permusuhan mereka yang tak terbilang abad ini jelas telah melibatkan banyak pihak di  luar mereka, yang mana sama sekali tidak adil. Dan betapa butanya kita semua, anda dan saya, yang menolak rencana Tuhan yang sangat indah ini. Cara paling sederhana untuk menolak terlibat dalam rencana besar yang kudus ini adalah dengan terus membenarkan tindak kejahatan Zionis sambil membawa-bawa nama Tuhan di satu sisi, dan percaya serta membenci umat Kristen sebagai kaki tangan Zionist. Untuk yang kedua ini perlu saya tambahkan, bahwa saya mau tak mau harus mengakui bahwa di luar sana memang banyak orang Kristen yang TERMAKAN PROPAGANDA LICIK ZIONIST, semata-mata karena keluguan mereka. Mereka terlalu polos dan lugu. Dan dalam bentuk berbeda dengan sebagian umat Muslim yang menganggap kejahatan Zionis adalah bagian dari agama Kristen, dalam derajat yang sama orang-orang Kristen lugu ini juga menganggap bahwa segala tindakan Israel modern adalah merupakan bagian dari rencana indah Tuhan, dus satu paket dengan agama. Dan di sini saya hendak menyatakan sikap: jika memang terbukti Tuhan punya urusan, menghendaki, bahkan merencanakan pekerjaan jahat terhadap bangsa Palestina lewat tangan Zionist, maka saya akan segera meninggalkan iman saya pada-Nya sebelum saya selesai mengucapkan, “Maaf Tuhan, aku murtad.”  Tetapi Tuhan tidak serendah itu! Dari awal pekerjaan-Nya menciptakan jagad raya dan seisinya hingga kini, telah terbukti bahwa Ia adalah inti sari dari cinta dan kasih yang terbesar dan terindah yang bahkan lebih besar dan dalam daripada yang bisa kita bayangkan! Dan itu akan terus terbukti hingga masa yang tak berkesudahan. Jadi memang saya sama sekali tak punya alasan untuk mencampakkan iman saya kepada-Nya, apapun dusta orang tentang kehebatan dan kebenaran Israel di luaran sana.

7.     Kemudian ada sangkaan bahwa segala omong besar saya mengenai Zionisme keji ini adalah bentuk kutukan terhadap bangsa Israel. Sekali-kali tidak! Sekalipun hingga detik ini saya belum juga khatam Al-Kitab, namun saya telah membaca ayat yang menyatakan bahwa siapapun yang mengutuki Israel juga akan kena kutuk. Dan saya belum setolol itu untuk menantang Tuhan. Seandainya saya tak takut pada Tuhan sekalipun, saya tetap memikirkan pepatah ‘what goes around comes arround’. Bahasa Kristennya: siapa menabur dia menuai. Menabur kutuk ya menuai kutuk. Nyatanya hidup saya sangat diberkati. Segala kata-kata saya mengenai Israel, sekeras apapun, saya letakkan dalam konteks:

a.     Otokritik, sebab agama saya menggunakan taurat yang juga digunakan oleh bangsa Yahudi. Sekalipun mereka menolak Yesus Kristus, itu toh bukan urusan saya. Di sini saya jadi ingat kata seorang pendeta yang sering muncul di tipi waktu beliau berkunjung ke Israel: “Mengapa tidak pernah ada kedamaian di Israel? Karena dari awal mereka telah menolak Sang Raja Damai.” Sekali lagi, penolakan mereka terhadap Mesias Illahi sama sekali bukan urusan saya. Namun sebagai bagian dari kaum yang percaya Taurat, saya minimal punya kewajiban moral untuk mengingatkan saudara-saudara saya seiman. Bahwa cukup kiranya sampai di sini keluguan kita. Cukup kiranya sampai di sini kita dijadikan bulan-bulanan kaum Zionis. Sebab mengait-ngaitkan Tuhan dengan kejahatan kemanusiaan terorganisir dalam skala tiada terperi yang telah dilakukan oleh kaum Zionis selama tak terbilang waktu, adalah suatu penghinaan tiada tara terhadap-Nya! Dan kiranya cukuplah sampai di sini kita menghujat kasih dan kekudusan-Nya. Namun otokritik seringkali memang jauh lebih memedihkan ketimbang kritik yang kita terima dari orang luar. Maka di sini, dengan segenap kerendahan hati saya meminta kepada anda semua yang masih percaya pada bualan busuk kaum Zionis untuk sesegera mungkin menempatkan Tuhan pada posisi terhormat-Nya yang semula.

b.     Kesatuan umat, terutama dalam konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia, sebab seperti yang telah saya tulis pada bagian penutup posting sebelumnya, suhu antara umat Muslim dan Kristen di Indonesia panas dari waktu ke waktu salah satunya akibat konflik dua bangsa ini. Padahal belum tentu juga mereka tahu kalau kita saling bergesekan, wong mereka saja sibuk saling bunuh, kok sempat-sempatnya mikirin orang-orang Kristen dan Islam di Indonesia. Dan meskipun di luar sana banyak orang –maaf- bebal yang mengatakan pemerintah RI tidak menjamin kebebasan beragama, nyatanya kita tak bisa memungkiri fakta bahwa dengan jumlah yang sangat segelintir toh umat Kristen tetap sangat eksis di Indonesia. Dan eksistensi yang tak berkaitan dengan jumlah tersebut akan menjadi potensi negatif jika tidak dikelola dengan baik, terutama saat bergesekan dengan seteru utama mereka yakni kaum muslim. Tentu saja mereka yang saya sebut adalah Kristen lebay dan Islam narsis seperti yang saya sebut dalam posting lama berjudul ‘Kaum Narsis dan Kaum Lebay’. Kristen ‘hebat’ seperti saya:), dan Muslim ‘manis’ di luar sana tak akan terpengaruh oleh segala pancingan buruk dari manapun juga. Namun siapa yang biasa menjamin kaum narsis dan lebay tidak akan bertambah kualitas dan kuantitasnya jika tidak sejak sekarang kita tekan keberadaannya? Dan salah satu cara mempersempit ruang gerak mereka adalah dengan kampanye dialog lintas agama, terutama dengan pendekatan pemahaman agama post dogmatic.

Itulah kebenarannya. Dan inilah kebenaran tujuan tulisan-tulisan saya mengenai konflik Israel-Palestina yang melibatkan kaum Muslim dan Kristen Indonesia: propaganda perdamaian demi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena Indonesia bukan hanya tanahnya, airnya maupun udaranya. Namun di atas segalanya: manusianya. Pada manusia-manusia Indonesialah negeri ini menggantungkan kelestarian atau kehancurannya. Pilihannya ada pada anda dan saya: apakah kita ingin melestarikan atau menghancurkan Indonesia? Hanya anda dan saya yang bisa menjawabnya. Tuhan memberkati pilihan kita, Tuhan memberkati Indonesia! (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).

Senin, 23 April 2012

Pecahlah Indonesia Gara-gara Israel-Palestina


Betapa syoknya saya ketika beberapa tahun lalu dalam sebuah ibadah di gereja, Bapak Pendeta dalam khotbahnya yang mengangkat tema entah apa saya lupa, berkata begini kira-kira: “Jangan salahkan Israel kalau sekuat tenaga memerangi rakyat Palestina dan berusaha mengusir mereka. Itu kan tanah bangsa Israel, bukannya rakyat Palestina, yang sudah dijanjikan Tuhan sejak jaman Musa.

Pulih dari rasa terkesima, malamnya saya menulis surat protes sebanyak 4 lembar halaman folio spasi rangkap font 12. Setelah rangkaian penjelasan dan protes keras, saya menuntut Bapak Pendeta supaya dengan besar hati bersedia meralat kalimat di atas tersebut pada khotbah minggu berikutnya. Well, oke, saya akui, dalam satu atau dua titik saya boleh dibilang anggota jemaah yang kurang ajar (tapi seingat saya, dalam surat bernada keras tersebut saya hanya menggunakan pilihan kata yang santun dan tidak melanggar kaidah apapun, terlebih mengingat surat itu saya tujukan pada pemimpin saya). Namun saya percaya bahwa hubungan antara pemimpin dan umat mestinya bersifat mutual, itu yang pertama. Yang kedua, saya sangat prihatin dengan sentimen agama yang begitu mudah dijadikan mesin untuk menarik dukungan dan atau simpati anggota masyarakat dunia oleh negara Israel, yang bahkan dipercaya oleh orang sekelas pendeta. Sebab betapa mudahnya umat mempercayai dan mengikuti apapun kata pemimpinnya, dan bagi saya adalah mengerikan bahwa umat di gereja saya percaya bahwa bangsa Israel punya hak atas kejahatan mereka terhadap bangsa Palestina.

Sebab beginilah pendapat saya mengenai perkara di atas (yang sebenarnya cuma copy paste dari komentar saya dalam sebuah posting di grup diskusi Islam-Kristen, di mana saya menjadi admin yang malas dan selalu kabur setiap ditanya soal pasal ini ayat itu:)).  Demikian petikannya: Berdirinya negara Israel notabene adalah hasil invasi kaum Zionis dan SAMA SEKALI TIDAK ADA URUSANNYA DENGAN JANJI TUHAN DALAM ALKITAB. Zionisme selama puluhan tahun tersebut tidak ubahnya kejahatan kemanusiaan yang jauh lebih parah ketimbang yang dilakukan Belanda busuk tengik terhadap rakyat Nusantara, dan secara tragis justru dilegalkan oleh negara-negara Barat yang mengklaim diri sebagai tonggak demokrasi, terutama Amerika Serikat. Saya ada referensi sebuah buku yang bagus sekali berjudul ‘Saudara Sekandung’. Sebuah sejarah pendudukan Zionis di tanah yang kini diklaim sebagai negara Israel yang ditulis oleh pendeta Kristen bangsa Palestina (sayang saya lupa namanya). Sangat jujur dan melelehkan hati, buku ini wajib dibaca oleh semua umat Muslim, terutama yang membenci umat Kristen gara-gara masalah ini. Pula wajib dibaca oleh umat Kristen, terutama mereka yang memuja Israel secara membabi-buta. Saya beragama Kristen namun untunglah sama sekali tak pernah mengait-ngaitkan Negara Israel atau tepatnya Negara Zionis dengan Alkitab dan segala firman Tuhan. Dan saya sungguh bangga dengan pemerintah NKRI yang hingga detik ini tak mau mengakui keberadaan Negara ‘Maksadotcom’ Israel tersebut . Dan seperti yang bisa saya tebak, komen ini kemudian menuai pujian:), terutama dari pihak Muslim (saya bisa membayangkan eskpresi terkejut mereka, ketika menyadari bahwa admin Kristen yang tak becus soal ayat ini kok malah mengata-ngatai Israel yang seringnya dijadikan pujaan umat Kristen kebanyakan:)).

Ini memang isu yang sangat sensitif yang telah berjalan langgeng selama sekian dasawarsa antara umat Islam dan Kristen. Dan dalam banyak hal isu ini telah memberi kontribusi yang besar dalam hubungan tak harmonis di antara sebagian umat dua agama besar, yang herannya sejak dulu gemar banget musuhan ini. Saya bukan ahli politik, apalagi agama (ya iyalah, tiap kali ditanya ayat saja langsung gelagapan, lalu secepat kilat ngacir atau setidaknya melempar tanggung jawab pada admin Kristen lain:)). Dalam kapasitas saya yang enggak jelas ini, sayangnya saya tetap merasa punya hak untuk berbagi gagasan pada anda sekalian. Demikian:
1.     Di luar sana, saya mendapati banyak umat Kristen yang memuja bangsa Israel (baik jaman Alkitab maupun Israel modern) dan memandang Israel adalah bangsa yang hebat dan sebagainya. Dan akhir-akhir ini banyak sekali anak muda yang sangat mencintai Negara Israel, bahkan merayakan hari lahir negara tersebut (suatu hal yang sangat nggak masuk akal dan nggak nyambung menurut saya, terutama jika dikaitkan dengan posisi mereka sebagai anak sebuah bangsa yang bernama Indonesia). Kepada anda yang memuja bangsa dan atau negara Israel, inilah pendapat saya (yang sekali lagi merupakan copy paste dari komen saya di grup diskusi tersebut di atas): ‘Sebagai orang yang beragama Kristen, saya pribadi sama sekali tidak bersimpati apalagi menghormati Israel, baik Israel jaman dulu terlebih Israel modern. Mengapa saya tidak menghormati Israel jaman dulu? Karena mereka adalah bangsa yang benar-benar tak tahu malu, tak tahu diri, dan selalu menyakiti hati Tuhan meskipun sudah sedemikian rupa dikasihi oleh-Nya. Yang saya hormati dan kagumi di sini jusrtu Tuhan, yang sama sekali tak pernah ingkar janji (kok kesannya malah seperti merpati:)). Sekali Tuhan memilih dengan alasan-Nya sendiri, maka SELAMANYA janji itu Ia tepati, tak peduli sebusuk apapun umat yang Ia kasihi tersebut. Dan bahwasanya banyak tokoh-tokoh besar bahkan Nabi lahir dari bangsa Israel juga SAMA SEKALI TAK ADA URUSANNYA DENGAN KEHEBATAN BANGSA TERSEBUT, namun sekali lagi adalah bukti bahwa Tuhan sungguh merupakan Sosok pemegang janji yang teguh’. Sejauh saya membaca Alkitab (yang belum khatam juga sampai detik ini:)), saya tidak pernah mendapati kesamaan pola penyelamatan dan pemenuhan janji Tuhan terhadap bangsa Israel dengan desain Zionisme Israel modern, sebab inilah yang selalu digunakan oleh Zionis untuk melegalisir kejahatan yang mereka lakukan. Dalam hal ini, jika ada saudara umat Kristen yang mendapati kesamaan pola tersebut, saya mohon berkenan mengajukannya dalam box komentar di bawah, untuk mengoreksi kesalahan dan atau ketidak tahuan saya). Adalah penting bagi kita umat Kristen untuk tidak menggunakan perspektif agama dalam melihat dan menilai bangsa Israel, terlebih Israel modern. Sebab apa yang mereka lakukan terhadap rakyat Palestina jelas-jelas merupakan kejahatan kemanusiaan yang terstruktur dan terorganisi, dan dibungkus oleh isu keagamaan yang kemudian ditelan mentah-mentah oleh umat yang tidak berhati-hati dalam menjaga pikiran yang independen. Perkara janji Tuhan terhadap bangsa Israel adalah satu hal, namun invasi Zionis di luar skenario kudus Tuhan jelas merupakan perkara lain. Selama umat Kristen mau begitu saja dikibuli oleh tipuan diplomatik propaganda sepihak Negara Israel, maka selamanya mereka akan merasa aman dan nyaman melakukan tindakan kejahatan kemanusiaan atas rakyat Palestina (ya iyalah, nggak berada dalam zona nyaman gimana, kalau paling tidak secara moral didukung oleh umat Kristen yang meskipun di Indonesia cuma di bawah 10%, namun di dunia tetap merupakan agama dengan pengikut terbanyak).

2.     Di luar sana, pula saya dapati ada tak terhitung umat Muslim yang membenci umat Kristen karena perkara Israel-Palestina ini. Bagi anda semua yang membenci umat Kristen karena isu ini (atau tidak membenci tapi kenal satu atau beberapa orang pembenci Kristen gara-gara urusan di atas), inilah buah pikiran saya (sekali lagi copy paste komen di grup: ‘Kepada saudara-saudari umat muslim, perlu saya garis bawahi bahwa saya sama sekali melepaskan perspektif terlebih sentimen agama dalam hal ini sejak awal, baik sentimen negatif maupun positif, baik terhadap agama saya maupun agama anda. Perkara Zionisme pada rakyat Palestina (camkan bahwa saya menyebut rakyat, dan bukan tanah Palestina, karena bagi saya pribadi –walaupun pendapat saya jelas nggak ngaruh apa-apa:))- tanah yang jadi rebutan tadi masih bersifat status quo), sama sekali mutlak urusan kejahatan kemanusiaan yang berbasis pada kerakusan dan kesombongan, serta hati yang jauh dari kasih. Politisi tingkat tinggi bukanlah orang-orang bodoh. Mereka cerdas sekaligus licik, yang dengan mudah bisa melihat bahwa AGAMA ADALAH MESIN YANG PALING MUDAH untuk dijadikan tunggangan dalam meraih sebuah tujuan politis. Sentimen agama Islam-Kristen (terutama dengan sejarah permusuhan yang begitu panjang dan kekal) dengan mudah mereka olah sedemikian rupa sehingga umat menganggap bahwa ini adalah perkara kebencian Kristen dan atau Yahudi terhadap Islam. Padahal ini tak lebih dari l’explotation de l’home par l’home! Ini tak bukan adalah homo homini lupus! Manusia menjadi serigala, manusia menghisap manusia lainnya! Inilah penjajahan dengan trik mutakhir! Dan di sini agama sesungguhnya adalah mutlak drive! Sedangkan umat adalah bahan bakar yang begitu mudah dinyalakan! Terbukti betapa membahananya kemurkaan kaum Muslim ketika sampai pada urusan ini. Demikian pula dengan mudahnya kaum Kristen membela Israel untuk kejahatan apapun yang mereka lakukan, karena ZIONIS DENGAN TAK TAHU MALU MEMBAWA-BAWA ALKITAB LENGKAP DENGAN JANJI-JANJI TUHAN terhadap bangsa Israel. Padahal Tuhan sama sekali tidak ada urusan dengan kaum Zionis! Sebagai orang Kristen, saya merasa sangat malu terhadap saudara-saudara Kristen yang begitu mudah dibodohi oleh propaganda Zionis Yahudi. Dan sebesar rasa malu pada umat Kristen, sebesar itulah saya merasa sedih pada umat Muslim yang sama mudahnya dibodohi oleh para pembenci perdamaian, sehingga dari waktu ke waktu permusuhan Islam-Kristen selalu membara dan tak pernah kekurangan bahan bakar lewat peristiwa Israel –Palestina ini. Akhirul kata, dalam komen yang ngudubilah panjangnya ini saya berujar: Dalam hal ini saya hendak berkampanye: MARI KITA BERHENTI MELIHAT PERKARA INI DARI PERSPEKTIF AGAMA! Mari kita lihat hal ini sebagai murni kejahatan kemanusiaan, dengan demikian kita bisa melakukan propaganda untuk menghentikan kejahatan Zionis terhadap rakyat Palestina. Dan terutama melakukan berbagai tindak nyata dalam upaya mencapai persaudaraan dan perdamaian antara umat dua agama terbesar di dunia: Kristen dan Islam.

Bagus sekali, ya? Tak heran saya langsung dipuji-puja:). Namun sesungguhnya bukan pujian atau permusuhan yang menjadi tujuan utama saya. Tulisan ini saya buat berdasarkan keprihatinan, karena tahun berlalu, dasawarsa bahkan milennium berganti, dan itu semua tak membawa perubahan apapun terhadap kebencian Islam-Kristen di Indonesia gara-gara dua bangsa yang berseteru dan saling bunuh, yang terletak nun jauh di sana. Sungguh sebuah ironi yang sama sekali tidak masuk akal, kita BANGSA INDONESIA SALING MEMBENCI gara-gara dua bangsa asing yang mana pertikaian mereka sejatinya tak ada urusan sama sekali dengan kita. Adalah sebuah tragedi bila persatuan dan kesatuan kita bangsa Indonesia menjadi koyak hanya gara-gara masalah politik dua bangsa asing. Saya tidak memungkiri fakta bahwa dalam konteks hubungan Internasional, sebagai bagian dari masyarakat dunia kita bangsa Indonesia harus berperan aktif, terutama mengingat haluan politik kita yang bebas aktif. Namun patut dicamkan, bahwa tidak ada ironi yang lebih besar ketimbang kita berlagak aktif dalam menjaga perdamaian dunia dan pada SAAT YANG SAMA justru kita, bangsa Indonesia, terpecah-belah sebagai akibatnya.

Dan perpecahan itu semata-mata karena hasrat untuk membenci, yang berlandaskan agama yang jelas-jelas tidak ada hubungannya dengan konflik politik Israel-Palestina. Marilah kita aktif menentang segala bentuk kejahatan kemanusiaan, dan menolak untuk dijadikan pion-pion bodoh dengan akibat kita membenci saudara-saudara kita satu bangsa dan tanah air, hanya karena kita terlalu naïf untuk memisahkan agama dengan urusan ini. Bangsa kita musti bersatu, dan Indonesia sama sekali tidak layak dipecah-belah oleh urusan politik orang lain. Jika kita bisa dengan mudah dibuat bermusuhan dengan sesama bangsa Indonesia oleh bangsa lain, maka betapa bodohnya kita sebagai bangsa. Betapa malangnya Indonesia, memiliki rakyat yang lemah seperti kita!

Tuhan melindungi kita dari perpecahan gara-gara agama, Tuhan memberkati Indonesia!

*Artikel ini akan disambung dengan tulisan berjudul 'Tak Mau Jadi Bebal Gara-gara Israel-Palestina' dalam posting berikutnya.



Kamis, 19 April 2012


Berhenti Mendongak Dengan Dada Sesak.

Rasa cinta dan pesimis telah sama besar dalam negeri ini. Cinta negara mulai terkikis oleh sikap pesimis akan masa depan yang terus jadi pertanyaan dalam diri rakyat. Seperti apakah negara ini 30 tahun lagi? Akankah kita kuat bersatu dan mengangkat Merah Putih kembali disegani dunia Internasional?

Itu tadi adalah komen dari seorang pembaca blog Indonesia Saja! Sampai Akhir Menutup Mata…. Hanya saja ia menuliskannya dalam sebuah postingan di sebuah grup yang saya ikuti. Dalam berbagai posting sebelumnya saya telah berkoar-koar betapa pentingnya kita untuk kembali kepada Pancasila, di mana butir favorit saya yakni butir kedua sila pertama menganjurkan kita untuk kembali ke kitab. Dan sebagai orang yang tengah berjuang supaya ketika mati kelak disebut ‘Seorang Pancasilais sejati’, maka sayapun kembali ke Al-kitab. Ya iyalah, masa Al-Qur’an, wong saya Kristen. Nanti malah saya jadi ‘umat yang aneh’, bersaing dengan umat yang narsis dan umat yang lebay:) (anda yang punya kitab berbeda dengan saya silakan datang pada masing-masing kitab anda). Ada salah satu ayat favorit saya (saya memang punya banyak ayat favorit sebagai pemompa semangat), yang bunyinya: “Siapa yang senantiasa memperhatikan awan tidak akan menabur. Siapa yang senantiasa melihat langit tidak akan menuai.” Ya iyalah, gimana mau menuai kalau menabur aja enggak? Di sini patut saya jelaskan, bahwa sebagai orang Kristen saya terbiasa dengan bahasa Alkitab yang seringkali sangat metaforis (tidak tahu antara anda dan kitab tuntunan anda). Awan di sini bagi saya secara pribadi adalah metafora bagi masalah-masalah hidup, baik dalam kapasitas sebagai pribadi atau anggota masyarakat, dan lebih luas lagi dalam skup kebangsaan sebagai manusia Indonesia. Entah dalam kapasitas sebagai apapun, ada banyak masalah yang dalam derajat tertentu berpotensi membuat kita menjadi galau. Nah, waktu membaca dan merenungkan ayat ini saya membayangkan dua orang petani yang berangkat dari rumah dengan bekal benih.

Beginilah kisah imajiner saya secara lengkap: Sesampai di sawah, baru menabur beberapa benih, tiba-tiba gelap memayungi dua petani yang nampak enerjik tersebut. Mendung ternyata datang begitu saja di luar dugaan, dan tiba-tiba terdengarlah guntur yang menggelegar bertalu-talu. Dua petani tersebut langsung galau. Mereka berpandangan, lalu petani yang pertama berkata sambil mengangkat bahu, ”Halah, sutralah. Cuma mendung ini.” Petani kedua ngeyel, “Tapi ini gelap banget, bro, mana guntur bersahutan lagi.” “So what gitu loh?” kata si petani pertama cuek, sambil tetap menabur benihnya. “Hih, bro, kalau hujan deras terus sawah kita tergenang gimana? Apa kabar bibit-bibit kita?”, petani kedua menangkis dengan semangat pesimis. “Bro, jangan berisik, kalau ngoceh terus kapan kelarnya? SEMANGKA'! SEMANGAT KAKA',” seru petani pertama bergelora. “Bro, jangan kamseupay, deh!” ketus petani kedua, “Masak nggak tau kalau hujan yang datang bukan pada masanya bisa bikin rusak urusan kita?”. Sekarang petani pertama benar-benar kesal, lalu menghardik, “Terserah elo, deh, bro, kalau lebih suka mendongak dengan dada sesak lalu berhenti bergerak. Kalau memang begitu lebih baik kita jalan sendiri-sendiri. Pokoknya, lo, gue, end!”. Dua petani yang ternyata alay tersebut kemudian terpisah jarak, karena petani yang pertama terus menabur dan tak mau buang waktu untuk mendongak-dongakkan kepala ke arah langit lebih dari dua kali, sedangkan petani kedua terus menerus memandang awan pekat dengan galau, sehingga ia hanya bergerak sedikit dari posisinya semula. Dan tanpa saya perlu susah-payah mengarang lebih panjang, kita semua tahu siapa yang akhirnya menuai happy ending story *maksa*.

Demikian juglah langkah yang saya lakukan, yang mana terilhami dari petani pertama. Saya mendengar guntur menggelegar bersahutan dan awan pekat yang memekatkan, kemudian saya putuskan untuk menabur dengan bijih-bijih yang saya miliki, sesedikit apapun itu. Ketika seorang petani menanam bijih anggur, tak mungkinlah ia menuai duri. Tak mungkin pula ia menuai hanya satu butir buah anggur. Tuaiannya pasti anggur juga, yang jika dirawat dengan sungguh-sungguh akan menghasilkan buah yang jauh lebih lezat. Dan berlipat-lipat. Itulah yang sedang saya lakukan, dengan segala keterbatasan yang saya miliki. Saya tidak sudi mendongak ke atas terus menerus dengan dada berdebar cemas, hingga hilang waktu dan kesempatan untuk menabur, lalu kehilangan kesempatan untuk menuai.

Tentu saja ada waktu di mana saya serasa tercekik dengan masalah-masalah yang membelit, dan akhirnya jadi galau luar biasa. Tapi saya sama sekali tak sudi distir oleh rasa galau. Bukan masalah yang mengendalikan saya, melainkan sayalah yang mengendalikannya. Galau lebay cukuplah dinikmati sesaat, setelah itu, hey, life goes on! Setelah air mata tumpah ruah dan serasa kering, kembalilah ke dunia nyata sambil kumpulkan segala mitraliur yang ada. Omong kosong jika Tuhan menempatkan kita di dunia tanpa ‘mesiu’ apa-apa. Kita semua pasti punya teman, sanak-saudara, tetangga, dan sebagainya. Itu salah satu mesiu kita. Kita punya tubuh dan tenaga, talenta, kesempatan, pekerjaan, keluarga atau anak-anak  yang harus diurus, dan sebagainya. Saya punya buku favorit berjudul ‘Dog Stories’ karangan James Herriot. Dengan pengalamannya sebagai dokter hewan di pedesaan Yorksire selama puluhan tahun, ia belajar mengerti bahwa seringkali hewan-hewan jadi hancur semangatnya ketika kehilangan teman bermain atau tuannya, dan dalam derajat yang terburuk bisa menggiring mereka kepada kematian yang lebih cepat dari yang seharusnya. Sebaliknya ada banyak pula kasus yang menarik, misalnya seekor induk domba yang kepayahan karena pendarahan setelah melahirkan ternyata pulih dengan ajaib, hanya karena secara natural ia tahu bahwa ada domba-domba kecil yang harus disusui serta dirawatnya.

Itulah insting alami yang Tuhan anugerahkan pada hewan yang tak memiliki akal budi. Apalagi kita, manusia yang diciptakan-Nya sebagai mahluk paling sempurna. Paling tidak, jika anda sudah sampai pada titik merasa tak ada gunanya lagi hidup, atau sudah tak peduli lagi pada apapun, anda bisa memalingkan perhatian, tenaga, pikiran, dan konsentrasi anda pada hal-hal yang harus anda urus, sesederhana apapun itu. Untuk tiap-tiap hal yang mana anda punya andil atau tanggung jawab kepadanya, saya yakin Tuhan sudah memberikan setidaknya satu bijih talenta. Mungkin anda ibu rumah tangga yang sedang hancur karena ditinggal kabur suami begitu saja? Di sini anda punya bijih talenta kecil untuk tetap berada di samping anak-anak anda dan merawat mereka dengan segenap cinta yang anda miliki. Anda juga punya bilih talenta doa. Atau apapun. Mungkin anda adalah orang tua yang tak dipedulikan lagi oleh anak-anak anda yang telah anda besarkan dengan susah-payah? Di sini bisa jadi anda diberi talenta untuk membuat kelompok penguatan dengan mereka yang bernasib sama seperti anda. Atau setidaknya talenta untuk mendoakan pertobatan anak-anak anda.

Bagaimanapun bentuk awan gelapnya dan seberapapun pekatnya, dengan sangat saya memohon agar anda tidak terus-menerus memerhatikannya dengan gundah dan gelisah. Karena itu semua adalah bibit-bibit pesimisme, yang jika dikembangkan akan menjadi pohon apatisme. Palingkan perhatian anda pada bijih-bijih talenta yang anda miliki di telapak tangan anda, lalu taburkan, dan anda akan terkejut dengan tuaian yang anda dapat di kemudian hari! Akan tiba saatnya. di mana Sang Saka Merah Putih nan agung itu berkibar-kibar di jagad dunia dengan semua kepala memandang hormat kepadanya. Melalui tulisan-tulisan saya dalam blog ini, saya menabur bijih kecil yang saya punya untuk Indonesia. Kalau saya saja bisa, apalagi anda! Marilah sekarang juga kita berhenti melihat awan dan mulai menaburkan bijih-bijih talenta kita di tanah dan air Indonesia, supaya negeri dan anak cucu kita menuai hasilnya.

Tuhan memberkati benih-benih yang ditabur oleh tangan anda dan saya! Tuhan memberkati tuaian kita bagi Indonesia! (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).

Senin, 16 April 2012

Betapa Indahnya Galau Ini

Tak disangka tak dinyana, posting terakhir membuat message ke inbox saya membludag. Benar dugaan saya, bahwa banyak sekali anggota gerakan laten The Indonesian Galauers:). Yang membuat saya senang, ternyata rata-rata The Indonesian Galauers memetik hikmah dari tulisan saya terakhir tersebut *kepala membesar*. Sebelumnya saya sudah menyiapkan posting ini, namun dengan perkembangan terakhir, saya merasa perlu menambahkan satu dua hal berkaitan dengan reaksi The Indonesian Galauers. Inilah artikel yang sudah saya siapkan sebelumnya:

Jika anda setia dengan blog saya (semoga), maka anda akan mengerti bahwa saya bukan orang yang romantis, meskipun dulu saya hobi gonta-ganti pacar (yang sesungguhnya merupakan dampak dari inner dan outter beauty:)). Sekian belas atau puluh kali jatuh cinta (yang biasanya membara dan hanya seumur jagung), yang paling saya suka dari perasaan ini adalah saya merasa romantis. Namun sayangnya, ternyata itu hanya perasaan saya saja. Karena tak terhitung berapa kali saya mencoba melakukan hal-hal unyu yang biasanya dilakukan cewek-cewek yang sedang jatuh cinta, ternyata semua usaha tersebut kandas di rerumputan. Sekian kali pula saya mencoba bikin puisi, ternyata hasilnya picisan sekali. Saya sendiri ketika membaca ulang sampai bergidik dibuatnya. Walhasil semuanya berakhir menjadi serpihan abu, karena saya tak ingin meninggalkan jejak sehingga orang tahu bahwa ada titik di mana saya pernah menjadi orang yang sangat norak. Namun sebaliknya (saya juga tak tahu kenapa), saya kemudian menyadari bahwa dalam keadaan galau ternyata saya menjadi produktif sekali dalam urusan imajinasi. Saya selalu kesulitan membuat cerita fiksi, misalnya cerita pendek. Jauh lebih mudah bagi saya membuat tulisan atau artikel ilmiah, karena yang perlu saya lakukan hanyalah mengolah data kemudian menambahkan sedikit bumbu penyedap di sana-sini. Nah, di saat galau itulah (biasanya karena putus cinta, entah didepak atau mendepak) fantasi saya jadi berkembang liar ke mana-mana. Hasilnya, kebanyakan cerita fiksi yang saya buat selalu berakhir tragis atau setidaknya tidak bahagia:). Tapi sudahlah, meskipun ini berisiko membuat saya mendapat predikat 'Miss Pait', setidaknya saya mampu membuat cerita fiksi, yang dalam keadaan normal kemungkinan keberhasilannya nyaris nol persen. 

Tanpa mau berpanjang-panjang, galau jika dikelola dan diresapi dengan baik ternyata bisa menjadi sesuatu yang indah. Kegalauan yang memuncak -setidaknya bagi saya pribadi- bisa membuka tabir yang selama ini menjadi sekat tebal antara logika dan perasaan saya. Dan ketika saya menggunakan perasaan secara maksimal, hasil yang saya dapat adalah keindahan semata. Di bawah ini lagi-lagi puisi yang saya buat dalam masa galau yang sama dengan puisi yang lalu (tidak terpaut lama, hanya sehari. Dan jeda sehari tersebut membuat perbedaan yang terbentang jauh bagai bumi dan langit. Baru kemarin saya berkeluh-kesah segala macam, bahkan separuh 'mengancam' Tuhan, esoknya saya sudah memuja-muji-Nya sedemikian rupa. Jadi nyata bukan, betapa saya tidak punya pendirian?:). Maka sidang pembaca, silakan menikmati galau nan indah a la Yuanita Maya.


Pujian dan Kebahagiaan Saat Derita Membuatku Runtuh

Tanpa seutas benak maka kutak kan mampu menggantung sehelaipun kapas yang rapuh.
Namun pada perintah-Mu jagad raya begitu patuh.
Hanya dengan seruan Kau gantungkan matahari tanpa pernah sekalipun jatuh.
Sekuat apapun kutiup napas kubahkan tak sanggup membuat setitik abu.
Namun hanya dengan hembusan napas Kau hidupkan manusia dari sebutir debu.
Yang terbaik yang dapat kulakukan hanyalah menguntai manik-manik menjadi sebuah gelang,
namun betapa semaraknya angkasa Kau hias dengan rangkaian bintang.

Maka siapakah aku ini, ya, Tuhan,
hingga sengsara ini kepadaku Kau timpakan?
Sebab Kau murnikan manusia yang kepadanya Kau berkenan dalam dapur kesengsaraan.

Siapakah aku, ya, Allah, 
hingga kepada wajahku Kau ijinkan seteruku meludah?
Sebab dalam kancah penghinaanlah Kau buat anak-Mu menjadi indah.

Dan siapakah aku yang Kau buat layak, 
hingga Kau berkenan memanggilku anak,
sedangkan tak terhitung berapa kali kumemberontak?

Begitu rindu-Mu kubertobat hingga Kau dera dalam sesah,
dan tak kan Kau berhenti hingga kumenyerah.

Maka kini kuberlutut,
memohon ampun agar penghukuman terluput,
sebab Englaulah penguasa hidup dan maut.

Dan apakah yang bisa kulantunkan selain pujian terima kasih?
Sebab begitu besar cinta-Mu hingga kepadaku Kau berkenan memilih.
Cinta-Mulah satu-satunya alasan hingga kutak tersisih.

Terpujilah namamu, ya, Allah,
yang berkenan mendidikku tanpa kenal lelah.
Pada-Mulah pujian tertinggi, wahai Yang Maha Ilahi,
karena berkenan menyesahku tiada henti.

Kaulah Guru terbaik,
karena menghajarku dengan keras sekaligus lembut detik demi detik.



Dan setelah mendapat reaksi publik (seakan-akan blog saya sudah dikunjungi jutaan orang saja:)) yang hampir seratus persen positif, inilah yang hendak tambahkan: galau jika dikelola dengan sehat tak hanya akan menghasilkan sesuatu yang indah, namun lebih dari itu, ternyata sanggup menjadi berkat bagi orang lain. Bagi mereka yang juga tengah dilanda kegalauan, yang merasa tak sanggup lagi berpikir apalagi merasa, yang merasa tak sanggup lagi melakukan apa-apa. Keindahan yang terbit dari puncak kegalauan saya lahir sebagai puisi yang mengharumkan nama-Nya, yang kemudian menyukakan-Nya, sehingga dengan demikian kepadanya Ia mencurahkan berkat, dan mampu menjadi berkat bagi banyak orang. Terpujilah Tuhan, yang membuat kegalauan saya berguna bagi banyak orang. Pembaca yang saya kasihi, saya tidak tahu apa yang membuat anda galau saat ini. Mungkin hutang ratusan atau milyaran rupiah yang benar-benar mencekik leher anda, mungkin anak-anak yang telah anda besarkan dengan susah-payah dan segenap cinta justru membuat anda kecewa dengan kenakalan dan pemberontakan mereka, mungkin fitnah dari rekan kerja atau bahkan keluarga, mungkin juga suami atau istri meninggalkan anda seakan-akan anda sampah semata, atau apa saja. Tidak ada yang tahu seberapa berat beban yang anda pikul, kecuali anda sendiri. Tapi  di sini ijinkan saya mengatakan sesuatu, bahwa ternyata ada satu Sosok yang mengerti betapa beratnya beban yang saat ini musti anda tanggung, yakni Ia yang menciptakan anda. Yang bahkan bisa mengetahui berapa helai rambut anda yang jatuh hari ini, atau hari-hari yang telah lalu. Tangan-Nya terbuka lebar untuk anda. Jika anda membawa kegalauan anda pada-Nya, maka Ia bukan hanya akan membuat anda lega, namun lebih dari itu, mencurahkan berkat-Nya hingga rasa galau anda dapat menjadi berkat bagi orang lain. Galau yang pekat bisa Ia ubah menjadi sesuatu yang indah, yang membuat hari anda dan orang lain cerah. Jika semua orang galau bersedia membawa segala bebannya pada Sang Pencipta, maka betapa damai sejahteranya negeri kita, Indonesia. Dan saya percaya inilah yang Tuhan harapkan dari kita.

Tuhan menjadikan indah kegalauan anda dan saya, Tuhan menjadikan indah kegalauan Indonesia!

Kamis, 12 April 2012

Galau yang Sehat

Kata galau sudah ada sejak lama, entah kenapa jadi happening secara tiba-tiba. Bahkan saya ikut-ikut memakainya dalam beberapa posting yang sudah ada. Kalau mau jujur, bangsa kita juga tengah galau. Masalah tak kunjung putus, bencana silih berganti, amuk massa di mana-mana, terorisme, gagal panen, rencana kenaikan BBM, aduuuuuhhhhh.....banyak sekali yang lain-lainnya! Belum terhitung masalah pribadi masing-masing. Itu menjawab pertanyaan kenapa rumah sakit jiwa kebanjiran pasien. Narkoba semakin laris. Pusat-pusat dugem makin sesak. Minuman keras dan rumah pelacuran tak pernah kehilangan konsumen, malah tambah membludak. Angka bunuh diri kian meningkat, demikian pula kekerasan dalam rumah tangga. Apalagi perselingkuhan (kalau yang satu ini kayaknya nggak butuh galau terlebih dulu, deh, karena syahwat memang seringkali lebih suka jalan sendiri:)). Sebutkan hal-hal buruk apa saja sebagai katarsis kegalauan, maka saya jamin bibir anda bakal jontor dibuatnya. 

Tapi sekarang muncul trend baru: galau yang sehat. Ada yang bilang galau yang sehat adalah galau sambil menyapu halaman dan menimbun sampah dedaunan. Atau lari keliling lapangan lima putaran. Atau ngepel rumah dan menguras kamar mandi. Apapun, terserah the galauers. Saya sendiri (ternyata) juga punya acara galau yang sehat. Kenapa saya bilang ternyata? Karena saya menemukannya secara tak sengaja, ketika beberapa hari lalu membersihkan kamar yang tidak saya pakai sekian lama. Di sana, di antara tumpukan buku dan kertas-kertas entah apa, saya menemukan beberapa puisi. Hasil karya saya sendiri:). Waktu saya baca ulang saya merasa terharu sekaligus malu sendiri dibuatnya, karena tak menyangka bahwa saya ternyata bisa puitis juga:). Ketika saya lihat tanggal pembuatannya (yang sayang sekali karena beberapa alasan pribadi tak bisa saya cantumkan di sini), ternyata itu adalah masa-masa di mana saya berada dalam puncak kegalauan. Nah, sidang pembaca yang terhormat dan lemah-lembut, silakan menikmati galau yang sehat a la Yuanita Maya:).


Dalam Teriakan Kalut dan Gelisah

Kepada siapakah kubisa menyerahkan jiwaku yang lelah,
jika bukan kepadamu saja, ya, Allah?
Sebab Kau bisa melebur dalam hatiku yang pedih,
bahkan sekalipun ku tak mengeluh dalam rintih.
Kepadamu sajalah, wahai Allah nan mahsyur,
kubisa memercayakan batinku yang hancur.

Tengoklah bagaimana kumeratap,
hapuslah air mataku supaya kepedihanku tak tinggal tetap.
Perhatikanlah bagaimana kuberseru dalam tangis;
tidakkah air mataku ini lebih deras ketimbang aliran sungai Tigris?

Kiranya jiwaku terhibur oleh janji-janji-Mu yang manis,
dan biarlah deraan-Mu ini membuatku liat dan khalis.
Sebab curahan air mataku serupa hujan nan lebat.
Tak kenal lelah kuberseru pada-Mu dalam ratap yang kuat.
Berbelas kasihlah, ya Allah, pada rintihanku yang menyayat.

Siang malam kuberseru tanpa jemu,
dan tak kan berhenti sebelum Kau ulurkan tangan-Mu.
Tak kan putus kumenangis dalam lolong,
hingga Kau bergegas-gegas datang menolong.

Ya Allah,
kasihanilah!
Sebab jiwaku gelisah,
dan aku bagai buluh yang telah patah.

Hatiku tercerai-berai entah di mana,
bagaikan sebuah kota yang terserak oleh gempa.
Derita membuatku hangus dan kering.
Batinku luruh dalam keping,
karena lelah berseru dalam tangis yang nyaring.

Wahai Kau yang membentangkan langit seorang diri,
bukankah hanya Engkau yang mampu membuatku bangkit berdiri?
Maka ulurkan, Tuhan, ulurkan,
tangan-Mu yang kuat dan penuh belas kasihan.
Sebab sekiranya kukumpulkan semua umat manusia,
adakah jalan keluar yang bisa kudapat dari mereka?
Tetapi pertolonganku ialah dari Engkau,
maka berbuatlah sesuatu agar kutak lagi risau.

Ya Allah yang berkenan memanggilku anak,
kumenunggu-nunggu Engkau bertindak.
Janganlah kiranya pertolongan itu Kau tunda-tunda,
karena jika demikian lebih baik kumati merana.

Biarlah saat ini kumelihat-Mu bangkit,
tuk memberi pertolongan bagi hidup dan jiwaku yang sakit.
Sebab hanya Engkau, ya Tuhan,
dengan kuat kuasa-Mu yang tak terkalahkan,
yang bisa memberiku pertolongan,
hingga kubisa bernapas dalam kelegaan.


Breath taking, ya?:). Beberapa bagian dalam draft puisi yang saya temukan tersebut kabur tintanya, menandakan bahwa saya membuatnya sambil bercucuran air mata. Ketika saya temukan dan baca ulang, saya kembali menangis. Saya teringat masa-masa itu, masa-masa yang begitu pahit dan mencekam. Masa-masa yang membuat saya bertanya-tanya pada diri sendiri, apalah arti hidup ini? Masa-masa yang terbersit dalam benakpun tidak akan saya alami. Kalau ini berarti buat anda, saya hendak mengatakan bahwa pencobaan saya sama sekali belum usai jua. Saya masih berada dalam ujian yang sama, dan secara manusiawi belum ada tanda-tanda jalan keluarnya. Tapi ada beberapa hal yang membedakan: ketika itu saya merasa lumpuh secara rohani, kini saya tegar menghadapi apapun yang terjadi. Ketika itu saya melihat semuanya gelap, kini saya menjalani kehidupan dengan langkah tegap. Ketika itu saya merasa di ambang hidup dan mati, kini saya merasakan sukacita di hati. 

Saya curiga, mengapa sikap saya bisa berbanding terbalik antara masa itu dan sekarang dengan deraan  dan cobaan yang masih tetap sama, salah satunya adalah karena puisi yang saya tulis tadi. Sebab sekalipun secara kualitatif tidak bisa dibilang 'sesuatu banget', namun saya menuliskannya benar-benar dengan hati yang hancur. Dan saya membawa hati yang tinggal serpih-serpih tersebut kepada Tuhan, bukan kepada siapa-siapa. Bukan kepada orang tua, saudara atau teman-teman saya. Bukan kepada apa-apa, bukan kepada minuman keras, narkoba, obat tidur melebihi dosis supaya saya lelap dan tak bangun lagi, atau apapun. Saya lantak secara jasmani. Dan hampir mati secara rohani. Kemudian diri saya yang nyaris tak bersisa ini saya serahkan seutuhnya kepada Sang Penguasa langit dan bumi. Saya percaya Ia tersentuh dengan tiap patah kata yang saya tuliskan, yang kabur dan nyaris tak bisa terbaca karena air mata yang tumpah tak tertahankan. Namun Ia Maha Melihat. Ia tak hanya mampu melihat tulisan yang lenyap oleh tumpahan air mata atau bahkan minyak sekalipun. Ia tak hanya mampu melihat lubuk hati saya yang telah busuk oleh kepedihan, duka cita, dan rasa terhina yang jauh melampaui akal pikiran manusia. Lebih dari itu, Ia menghargai setiap tetes air mata saya. Ia menghargai setiap keluh-kesah dan jerit putus asa saya. Ia menghargai betapa saya memilih datang untuk menangis dan meratap pada-Nya, dan bukan yang lain-lainnya. Itu sebabnya Ia kemudian memberi saya kekuatan yang baru. Dan sukacita yang tidak akan pernah saya dapat dari siapapun atau apapun juga. 

Kalau saya boleh jujur, saya menulis posting ini dengan air mata yang berlelehan di pipi. Sebab saya mengingat tiap detil bagaimana Tuhan menunjukkan cinta, kasih, penyertaan, kemurahan, dan pertolongan-Nya yang tak putus-putus. Saya menangis untuk tiap-tiap kekuatan yang Ia berkenan bagi pada saya. Saya menangis untuk cara-Nya menghargai cara saya menghormati-Nya. Saya sebetulnya malu, sangat malu membicarakan masalah yang demikian pribadi pada anda semua. Namun saya tahu bahwa saya punya kewajiban untuk membagi berkat apapun yang telah saya terima. Bahwa saya melarikan kegalauan dengan cara yang sehat adalah sebuah berkat. Bahwa dengan cara itu saya semakin merasakan kemurahan Tuhan adalah berkat yang lainnya. Dan semua itu tak boleh berhenti hanya pada catatan hidup saya pribadi. Sebab saya tahu anda semua pasti juga punya masalah dalam menjalani kehidupan ini, dan anda layak untuk menumpahkan kegelisahan serta kegalauan anda dengan cara yang sehat. Cara yang menyenangkan hati Tuhan, yang membuat kasih dan pertolongan-Nya semakin nyata bagi anda.

Biarlah masing-masing kita, tiap-tiap pribadi yang hidup di tanah Indonesia menemukan cara masing-masing untuk mengatasi kegalauan dengan cara yang berkenan di hadapan Tuhan. Supaya oleh kita berkat-Nya makin tercurah, bagi anda dan saya, bagi Indonesia. Tuhan mengobati semua luka anda dan saya, Tuhan mengobati Indonesia!