Senin, 08 Oktober 2012

TEGAKKAN KEPALA DAN LAWAN DIRI KITA DAN MEREKA!!!



Saya pernah nonton sebuah film Hollywood. Judulnya apa, sutradara dan para pemainnya siapa, settingnya di kota mana, semuanya lupa :). Yang jelas film ini diangkat dari kisah nyata dan berlatar belakang sekitar tahun ’90-an. Jadi nggak kuno-kuno amatlah. Singkat cerita, tersebutlah sekelompok perempuan ekonomi sulit yang berusaha melamar kerja di sebuah perusahaan apa, lagi-lagi lupa :). Pokoknya karyawan perusahaan itu semuanya laki-laki. Tak terperi usaha para perempuan itu untuk bisa masuk ke sana, dan giliran masuk mereka diperlakukan benar-benar hina-dina-nista. Nggak sampai diperkosa, sih, tapi secara esensial mereka menerima perlakuan yang tak kalah menjijikkannya dari perkosaan fisik. Para perempuan tersebut akhirnya bangkit untuk perlawanan dan singkat kata perjuangan mereka berhasil, sebab kalau tidak kan tidak mungkin diangkat jadi film :). Di lain waktu saya pernah membaca buku, yang lagi-lagi judulnya dan penulisnya siapa lupa :). Yang jelas sih pendeta laki-laki. Si pendeta ini menuliskan fakta-fakta ketimpangan gender yang kabarnya hingga kini masih terjadi di banyak tempat di Amerika. Contohnya, masih banyak gereja yang tidak mengijinkan perempuan berkhotbah di atas mimbar. Ketika suatu kali istri si pendeta (yang adalah seorang perempuan pengabar Injil atau evangelis) jadi pengkhotbah tamu di sebuah gereja, para jemaah dan tua-tua gereja dengan kompak melakukan walk out. Kalaupun perempuan boleh mengajar agama hanya dalam skup ibadah rumahan, itupun musti diawasi tua-tua laki-laki.

Saya tidak mau banyak bicara, jadi to the point saja: saudara-saudara, kalau ada orang bule atau Indonesia pro bule atau bekas orang Indonesia pro bule yang mengatakan bahwa perempuan Indonesia mengalami nasib sebagai warga Negara kelas dua, ceritakan dua hal tersebut di atas pada mereka. Anda boleh menambahkan: di Sulawesi Utara pendeta malah didominasi kaum perempuan. Dan mereka bukan pendeta yang hanya ditempatkan di sebuah gereja sejak ditahbiskan hingga pensiun, tidak. Mereka juga dipindah-pindah tempatkan, dengan suami dan anak-anak mengikuti. Apakah para suami para pendeta tersebut pengangguran? Tidak juga. Lalu bagaimana dengan pekerjaannya? Ya tinggal pindah saja ke instansi tempat istrinya ditugaskan, kalau si suami PNS. Kalau kerja di perusahaan swasta dan ada cabang di sana, maka ke sanalah pula ia ditempatkan. Kalau tidak ada ya tinggal atur bagaimanalah. Singkatnya, semua pihak yang terlibat siap membantu memfasilitasi pendeta dan keluarganya sehubungan dengan pelayanan yang diemban si perempuan pendeta. Hebat, ya? Dengan begini para suami tak merasa tersisih dan ibu pendeta bisa berbakti semaksimal mungkin.

Dan di seluruh wilayah Indonesia, pendeta Kristen perempuan yang memiliki kapasitas boleh berkhotbah di manapun, di atas mimbar kek, panggung sandiwara kek, sesukanya asal khotbahnya bermutu dan tidak menyesatkan umat. Kalau ternyata khotbahnya membosankan dan bertele-tele hingga bikin jemaah ketiduran, ya itu salah si pendeta sendiri, bukan salah sistemnya. Bukan salah Negara atau gereja yang mengelas duakan perempuan. Katakan pula bahwa sejak Indonesia merdeka dan menggelar pemilu pertama, perempuan sudah punya hak pilih. Katakan pula bahwa organisasi-organisasi perempuan sudah ada JAUH SEBELUM INDONESIA merdeka. Kalaupun nasib mereka digencet, yang nggencet juga pemerintah Belanda busuk, dan bukan karena urusan gender segala macam. Dan setelah ratusan tahun merdeka, hingga detik ini Amerika belum juga punya presiden perempuan. Oh, ya sebagai tambahan, walikota Manado yang pertama adalah perempuan dan itu terjadi tak lama setelah Belanda hengkang. Saking sengitnya Ibu Wali yang saya tak tahu namanya itu pada penjajah, sampai-sampai bangunan-bangunan peninggalan Belanda segera ia ambrukkan dengan penuh semangat revolusi. Itu sebabnya kita sulit melakukan wisata sejarah arsitektural Belanda di sini. Sayang, ya? Tapi tak apalah, maklum orang lagi emosi :). 

Kalau ada orang barat atau Indonesia atau bekas Indonesia pro barat mengatakan manusia tak ada harganya di Indonesia, dan bawa-bawa korban pembumi hangusan PKI sebagai misal, anda bisa katakan pada mereka: masa di mana anggota KKK membunuh orang negro seenak udel tanpa diadili juga belum berlalu lama. Masa gagal panen kapas yang membuat orang kulit putih wilayah Selatan Amerika Serikat jadi frustrasi dan melampiaskannya pada orang negro pun juga terjadi baru beberapa dekade silam. Yang ini malah nggak perlu menutupi wajah pakai kerudung KKK. Ketika itu orang bisa bangun di pagi hari, membuka pintu dan menemukan pria-pria negro digantung di pohon depan rumah mereka tanpa alasan jelas. Benar-benar tanpa alasan jelas, hanya semata-mata karena orang kulit putih putus asa dengan beratnya kehidupan mereka lalu membunuh orang-orang negro yang sedang sial secara acak, sebagai katarsis dari semua rasa cemas dan tekanan emosi mereka. Semua kebiadaban tersebut terjadi sama sekali tanpa unsur keamanan dan stabilitas Negara atau pemimpin yang haus kekuasaan. Katakan juga bahwa para pelaku kejahatan tersebut adalah orang-orang sipil yang bisa jadi tetangga atau bahkan pakdhe seseorang, dan sama sekali bukan polisi, tentara atau pria berseragam lainnya. Dan sama seperti anggota Ku Klux Klan, setelah membunuh orang-orang tersebut melanjutkan hari mereka seperti biasa, makan dan tidur di tempat yang sama seperti malam sebelumnya. Kalau ada yang bilang aparat di Indonesia tak punya hati nurani, angkat saja kasus penjara Guantanamo ke permukaan. Itu malah masih segar dalam ingatan, dan pasti bikin mereka kelimpungan tak bisa ngeles.

Itu semua terjadi di Amerika, yang sudah merdeka selama DUA RATUS TIGA PULUH ENAM TAHUN dan secara keseluruhan tak pernah diajajah siapapun, jadi tak jelas merdeka dari siapa (menurut saya, sih :)). Yang ada mereka kan para imigran Inggris, ngobrak-ngabrik tanah orang Indian, lalu baku rampas tanah orang dan menghabisi si empunya tanah, setelah itu singkatnya mengklaim diri dijajah Inggris (sampai di titik ini dan detik ini, otak saya yang terbatas ini tak pernah bisa memahami, mengapa para imigran Inggris yang merampas tanah orang tersebut bisa berakhir mengaku dijajah Inggris. Ada yang bisa menjelaskan pada saya?). Mereka tak pernah dijajah selama 350 tahun, tak pernah dimiskinkan secara materi, rohani, mental, spiritual, dipecah belah, dihina, diinjak-injak, dan dinista selama ratusan tahun. Mereka tak pernah perlu memulihkan diri dari trauma fisik maupun non fisik apapun. Dan setelah ratusan tahun punya waktu untuk menata Negara dan menghisap Negara-negara lain, data yang diperoleh Oprah Winfrey mencatat bahwa pada sekitar tahun 2010 (kalau tak salah ingat :)), di kota Newark, SATU DARI DUA ANAK REMAJA MENGALAMI PUTUS SEKOLAH. Itu kalau ada yang mengatakan betapa bobroknya sistem pendidikan di Indonesia dan betapa besarnya jurang kesempatan pendidikan di negeri kita. 

Kalau ada yang bilang Indonesia adalah Negara yang tidak aman, bilang pada mereka bahwa di banyak apartemen kelas bawah di Amerika, seorang perempuan tidak akan berani naik tangga sendirian. Kalau lift mati dan tak ada teman, maka mereka tak punya pilihan selain pasrah pada nasib. Apa pasal? Karena perkosaan di anak tangga bukan perkara asing. Dan pada banyak kasus, saat perkosaan terjadi dan ada orang lain melintasi anak tangga tersebut, maka orang tersebut akan melenggang begitu saja, apalagi kalau pemerkosanya rombongan. Bilang pula pada mereka bahwa di Amerika seorang murid SMA bisa saja stress lalu mengambil senapan milik orang tuanya, lalu kembali ke sekolah dan menembaki siapapun yang dia temui. Dan ini bukan hanya terjadi sekali atau dua kali. Di Amerika pula anggota gang-gang bisa baku tembak semau mereka, tak peduli tempat dan waktu, dan masih terjadi sampai sekarang setelah dua ratus sekian tahun mereka membangun Negara.

Kok kesannya seakan saya anti Amerika, ya? Padahal sih memang iya. Hehehe, enggak sih, lantaran Amerika kan yang paling populer. Dan yang paling sering diagung-agungkan oleh mereka yang sok bule. Tapi baiklah kita pakai perbandingan lain saja. Sekarang giliran Perancis, yang katanya begitu penuh semangat dalam menegakkan Human Rights dan blablabla. Kalau ada yang mengatakan bahwa Indonesia belum siap berdemokrasi dus sama sekali tak pantas menyebut diri sebagai Negara demokrasi, lain dengan di Eropa dan Amerika atau manapun juga, bilang pada mereka bahwa Perancis melarang warganya memakai atribut agama. Mau jilbab kek, kalung salib kek, apapun itu. Ada yang bilang lantaran awalnya mereka pada parno teroris menyembunyikan bom atau apalah di balik burqa. Setelah mendiskreditkan para hijabers, dengan bangga mereka mengatakan: “Supaya fair maka umat agama lain juga tak boleh memakai atribut agama. Betapa kami menjunjung keadilan dan hak-hak asasi manusia, bukan?”. Anda ngakak membaca ironi tersebut? Kalau iya berarti kita soulmate :). Hipokrisi yang sangat seksi, bukan? Nah, anda bisa bilang pada mereka, bahwa di Indonesia, orang mau pake kalung salib kek, rantai dengan liontin gembok kek, terserah. Mau pake burka dari atas sampai bawah kek, pakai rok karung goni dan hem yang terbuat dari tikar anyaman bambu kek, sesukanya. Burqa tidak pernah dijadikan alasan keamanan. Toh granat bisa disembunyikan di lipatan kondhe simbah-simbah penjual uba rampe selamatan atau jajan pasar. Bom bisa disembunyikan di keranjang pecel Yu Darmi atau gerobak sayur Mang Engkos. Pistol bisa disembunyikan di balik susunan rokok asongan si Otong. Kalau alasannya demikian, sekalian saja semua orang Indonesia dilarang pakai baju dan tidak boleh bawa apa-apa. Jadi ke mana-mana telanjang sambil angkat tangan.

Kalau ada yang bilang orang-orang Indonesia tidak bisa pakai logika, anda bisa mengatakan ini: setakut apapun kami pada terorisme, logika kami tetap jalan dengan mengatakan bahwa hanya karena ulah segelintir teroris, bukan berarti kami punya hak untuk menyamaratakan semua umat Islam dan merampas hak mereka, yang diikuti oleh terampasnya hak umat beragama lain. Itu juga bisa dijadikan bantahan kalau ada yang bilang tak ada toleransi di Indonesia. Kalau ada orang bilang bangsa Indonesia brutal dan emosional, katakan pada mereka bahwa sejauh ini kami masih bersabar menghadapi segala hinaan pada kami, karena logika kami mengatakan bahwa membalas kejahatan hanya membuat kami sama jahatnya dengan mereka yang berlaku jahat pada kami.

Sinis? Iya. Dan kenapa tidak? Habis, mereka seenak jidat menuding-nuding jari ke muka orang seakan muka mereka yang paling kecakepan, padahal yang paling cakep kan saya, hihihi… Mereka punya banyak kekurangan, dan entah karena malu atau apa, mereka berusaha tutupi kekurangan tersebut dengan cari-cari kekurangan orang lain. Kalau tidak berhasil menemukan kekurangan orang ya akhirnya ngarang-ngarang. Dan tololnya, kita diperlakukan seperti itu kok ya mau-maunya diam saja. Tapi bagaimana mau melawan kalau tidak punya mitraliur? Jadi bagaimana, dong, kita harus berontak dengan memaki-maki mereka? Tenang, para pembaca, tak perlu seperti itu, seakan-akan kita tidak pernah diajari sopan-santun oleh orang tua. Ingat kan Mahatma Gandhi pernah melawan dengan hanya diam seribu bahasa dengan ahimsanya? Memang sih kita tak perlu jadi pendiam dan pemalu seperti itu. Namun intinya, sekali lagi, kita tak perlu membalas kejahatan dengan kejahatan, karena itu justru membuat kita jadi sama jahatnya dengan mereka. Kita bisa melawan dengan: mencari tahu hal-hal baik tentang Indonesia, ibu pertiwi kita, lalu menggunakannya sebagai senjata untuk mematahkan semua usaha mereka dalam mendiskreditkan kita. Caranya? Ya dengan semua contoh yang sudah saya sebut di atas. Capek deh :).

Tapi ada masalah besar: bagaimana mungkin kita bisa melawan penghinaan mereka, jika kita sendiri juga ikut-ikut menghina ibu pertiwi kita? Kalau kita mau jujur, banyak sekali dari kita yang suka menyumpah serapahi segala hal yang ada di Indonesia, bukan? (hal ini saya pernah saya kupas secara khusus dalam posting berjudul ‘Salah Empat atau Betul Enam Belas?’ dan ‘Ngomel Berjamaah’. Silakan tengok ulang, ketimbang saya capek bikin contoh-contoh lagi:). Jadi ijinkan saya membuat analoginya: anda dan saya punya orang tua, bukan? Berhubung orang tua kita adalah manusia dan bukan Tuhan, maka mereka semua pasti punya kekurangan. Dan apa reaksi kita kalau ada orang yang menghina orang tua kita? Apa kita akan berdiam diri? Saya tidak tahu dengan anda, tapi kalau saya pasti akan melawan dan berkata, “Memang simbokku premanwati yang suka memaki, tapi cuma itu kejelekannya. Yang baik segudang. Dia cantik, lucu, santai, murah hati, mudah jatuh iba, pergaulannya luas, masakannya enak, ramah, kalau ada masalah selalu dibikin enjoy, suka bercanda, dan sebagainya. Cuma karena satu dua kekurangannya kalian mau bilang emakku buruk semata? Bagaimana dengan emakmu sendiri? Manusia sempurna? Dan bagaimana perasaanmu kalau emakmu kuhina-hina? Jadi, kuminta dengan hormat mintalah maaf pada emakku sekarang juga.” Tetapi sebagai perbandingan, ada baiknya saya membuat skenario begini: ada segerombolan orang membicarakan kekurangan emak saya, dan saya menimpali, “Oh, itu belum seberapa! Kalian semua harus tahu, emakku itu pelitnya minta ampun! Dia nggak bakal kasih uang jajan kalau aku belum meratap dan menghiba. Emakku juga koruptor, hobinya mark up duit belanja terus dia pakai buat borong tanaman hias dan guci-guci koleksinya. Kemudian kalo Bapak menegur kenapa duit belanja kandas sebelum waktunya, emakku memfitnah dengan bilang bahwa itu semua gara-gara anak-anaknya yang tujuh orang itu, biarpun perempuan semua tapi kalo makan pada kayak luwak. Dan, hei, kalian pikir emakku cakep banget dengan hidung tinggi runcing, mata belok kecokelatan, alis tebal kayak disulam, dagu belah, bibir tipis, dan blablabla? Tunggu sampai kalian lihat dia tidur mangap sambil ngiler!”. Demikian saya menggosipkan emak saya dengan penuh semangat Malin Kundang, sehingga arena penghujatan terhadap emak saya menjadi kian bergelora dan berletupkan bara.

Sinting? Otomatiiiis….. Untung saya belum durhaka dan tidak akan pernah durhaka. Jadi kalau ada yang menjelekkan emak saya ya pastilah saya bela. Dan seperti saya yang punya hak DAN kewajiban untuk menjunjung tinggi dan membela kehormatan orang tua terlebih ibu yang sudah bertaruh nyawa untuk melahirkan saya, maka saya yakin demikianlah sekalian anda. Dan sama gilanya dengan saya jika justru menghina dan menginjak-injak kehormatan ibu saya, saya yakin demikian pulalah anda. Tetapi di luar sana pasti ada satu dua orang ajaib yang suka menghina orang tuanya sendiri. Dan bila ada di antara kita yang punya penyakit seperti itu, maka kita tak punya pilihan selain melawan penyakit itu. Jika mulut sudah gatal ingin membicarakan keburukan orang tua, kita tak punya pilihan selain mengingat semua kebaikan dan pengorbanan mereka dalam merawat dan membesarkan kita. Kita tak punya pilihan selain terus dan terus melawan penyakit itu, sampai akhirnya penyakit itu takluk dan dengan bangga kita bisa berkata, “Ibukulah yang terbaik di dunia, lepas dari segala kebaikan dan kekurangannya. Dan, hei, kekurangannya tak seberapa, tapi sejuta kebaikannya pasti akan membuatmu terpesona. Mau dengar ceritanya?”

Dan setelah punya rasa hormat yang pantas pada orang tua, kita bisa melawan siapapun yang berani menginjak-injak kehormatan ibu kita. Dan siapakah yang berani berkata bahwa Indonesia bukan ibu pertiwi kita? Jika ada orang Indonesia yang berani berkata Indonesia bukan ibu pertiwinya, maka kita bisa berkata, “Kalau begitu carilah ibu pertiwi lain. Semoga ada yang mau.” Inilah tiang ke empat nasilonalisme hasil rumusan Yuanita Maya, yang jika disatukan dengan tiga sebelumnya akan menghasilkan rasa percaya diri nan proporsional sekaligus menguatkan kita dalam menghadapi tantangan dalam berbangsa. Maka marilah kita semua bangkit dan tegakkan kepala! Adalah hak dan kewajiban kita untuk membela kehormatan ibu pertiwi kita, Indonesia! Adalah hak dan kewajiban kita untuk melawan penyakit diri yang HANYA MAU melihat dan membicarakan kekurangan Indonesia! Adalah hak dan kewajiban kita untuk terus-menerus mencari, mengembangkan, dan  mensyukuri segala kelebihan dan hal-hal baik yang dimiliki Indonesia! Adalah hak dan kewajiban kita untuk melawan siapapun yang berani merendahkan Indonesia, dan menuntut permintaan maaf atas segala hinaannya! Mari, tegakkan kepala dan lawan diri kita dan mereka! Tuhan memberkati keberanian dan kebenaran anda dan saya, Tuhan memberkati kehormatan Indonesia!  (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).

Kamis, 04 Oktober 2012

Foke dan Jari Tengahnya


Kalau untuk urusan ketinggalan berita, saya memang juaranya. Sebab seperti yang dibilang oleh suami, saya ini punya kebiasaan bengong. Dasarnya? Ya tidak jelas, wong namanya saja bengong:). Yang dipikirkan ketika bengong apa? Lhah, namanya juga bengong, kalapun mikir ya pasti tidak ingat yang dipikirkan apa:). Ditambah lagi saya ini orangnya malas. Betul, apalagi kalau sudah PW alias Posisi Wuenak. Kalau sudah dapat buku baru, buru-buru saya rampungkan semua urusan rumah tangga secara serampangan, lalu membenamkan diri dalam bacaan tak peduli hujan atau angin. Pula tak beranjak ketika suara adzan terdengar sayup memanggil (ya iyalah, orang saya bukan Muslim:)). Bahkan kalau sedang berada di depan tivipun (yang mana jarang terjadi, karena saya nggak suka nonton tivi kecuali untuk acara The Dog Wisperer dan Sponge Bob, apalagi sekarang Sponge Bob ganti jam tayang pagi-pagi pas saya lagi repot-repotnya), ganti channel saja saya malas! Kadang-kadang memang saya niat cari berita. Tapi di antara kesempatan yang jarang tersebut, saya sering mendapati diri sendiri seakan tekun melihat berita, namun ternyata di tengah jalan saya merasakan, kok suara pembaca berita terdengar sayup-sayup, ya? Daaaan...…yap, benarlah, saya mendadak bengong lagi:). Jadi itulah faktor-faktor kenapa saya sama sekali tak bisa membanggakan diri dalam hal up date berita atau apalah.

Maka wajarlah kalau kemudian saya mengalami miskomunikasi akibat dampak penyakit bengong tersebut. Ceritanya ada sebuah percakapan antara saya dengan seseorang di dumay di mana kami membahas Foke. Diskusinya biasa-biasa saja hingga saya becanda asal-asalan, begini, “Hey, bung, anda layak dapat jari tengah, eh, maksudku ibu jari.” Begitu saja. Eh, tanpa saya nyana si teman sedang sensi, dan parahnya, tanpa teman saya nyana, saya sedang lemot:). Jadilah sebuah kombinasi yang kisruh. Lalu si teman memberikan link-link tentang Foke tengah mengacungkan jari tengah dan link lain betapa acungan jari tengah adalah sangat kasar bagi ukuran orang bule. Anda pikir saya langsung ngeh? Beluuummmm…Kan sudah dibilang saya sedang lemot:). Plus selalu ketinggalan berita, jadi makan waktu lama bagi saya untuk mencerna itu semua (hedeh…jadi gue memang capek deh:)). Tetapi singkat kata kesensian si teman dan kelemotan saya terjembatani oleh bantuan teman lain yang sedang tak sensi pula lemot, dan ujung-ujungnya kami becanda soal jari tengah.    

Di antara itu semua saya berpikir begini: Foke dengan lugu mengacungkan jari tengahnya di depan publik maka masyarakatpun bereaksi dengan hebohnya. Tanpa sama sekali bermaksud membela Foke –buat apa, kenal saja tidak, apalagi jadi tim suksesnya:)- saya berpendapat bahwa, kenapa kita harus ribut kalau Foke mengacungkan jari tengah atau jari-jari lain yang ia punya? Sesukanyalah mau berbuat apa, itu kan jari-jarinya sendiri, karena sejauh yang saya tahu orang Indonesia tidak pernah punya masalah dengan acungan jari manapun. Kenapa pula kita yang harus kebakaran jenggot hanya karena orang barat menganggap acungan jari tengah sebagai bentuk makian atau apalah yang kasar dan tidak sopan? Itu kan urusan mereka dengan segala budaya dan nilai moral yang mereka punya. Sedangkan mereka sama sekali tidak ambil pusing dengan standart kesopanan dan tetek bengek yang kita punya, kenapa pula kita musti tunduk dan dibikin panas oleh nilai-nilai mereka yang sama sekali tidak ada urusannya dengan orang Indonesia? Kecuali kita tengah berhadapan dengan mereka, nah, baru kita boleh berhati-hati dengan jari tengah kita. Intinya, di mana langit dijunjung di situ bumi diinjak. Sedangkan yang kita injak bumi kita sendiri, kok malah langit orang lain yang kita junjung-junjung. 

Tapi sebenarnya Foke tidak sendirian di dunia ini, paling tidak masih ada Ibu Tutuk, tante saya Bunda Maria itu (baca posting ‘Ya Mesthiiii….!!! Agamamu!!!!’). Karena dua cucunya sudah remaja maka ia pun belajar terma-terma anak muda supaya tidak dibilang jadul. Suatu hari ia bertanya pada anak perempuannya, Divi, demikian: “Div, fu*ck you itu apa, sih? Kalau what the hell?”. Divi berusaha menjelaskan sebaik mungkin tanpa menyinggung-nyinggung makna kata ‘f*ck’ secara literer itu apa, demikian: “F*ck you itu makian, Bu.  Kita pakai kalau ada orang yang bikin marah atau jengkel sampai ke ubun-ubun. Blablabla. Kalau what the hell itu begini-begini-begini.” Bu Tutuk puas dan Divi menyangka kisah berhenti sampai di sini. Ternyata beberapa waktu berikut, Bu Tutuk curhat pada anak perempuan semata wayang tersebut begini: “Div, kamu tau nggak Bu itu, yang rumahnya di sana, yang punya usaha anu. Dia ini begini-begini-begitu-begitu,” demikian Bu Tutuk berkobar-kobar dan mengakhiri kisah dengan, “Pokoknya Bu itu benar-benar f*ck you! Nggak ada orang yang lebih what the hell daripada dia!”. Divi melongo sehebat-hebatnya, berseru, “Ya ampun, Ibuuuuu….bukan seperti itu!”, lalu berusaha menjelaskan sekali lagi penempatan dua frasa tersebut dengan sabar dan perlahan. Tapi Bu Tutuk malah ngomel-ngomel, “Lho, kamu kan dulu ngajarin begitu! Sekarang malah Ibu yang disalah-salahkan,” dan sebagainya. Semua itu diakhiri dengan kesimpulan Bu Tutuk yang sangat sepihak: Divi sengaja mempermainkan orang tua.   
   
Saya cekikikan tak henti-henti mendengar kisah ajaib di atas. Bayangkan, komunikasi yang baik antar anak dan orang tua bisa berakhir demikian kisruh lantaran si ortu terlalu jadul. Jadi begini asumsi saya: bisa jadi Foke tak pernah mendengar info apapun tentang jari tengah dari anak atau cucunya. Bisa jadi pula Foke pernah mendengarnya, tapi tidak sepenuhnya paham lantaran terlalu jadul seperti Bu Tutuk tadi. Tapi lepas dari semuanya, bayangkan jika kita begitu khawatir dengan dampak umpatan orang bule terhadap moral generasi tua, lalu kita kumpulkan semua simbah-simbah (paling tidak yang sempat mengalami jaman PKI) dalam sebuah seminar dengan tema ‘Bagaimana Menempatkan Kata ‘F*CK YOU’ dan Jari Tengah Secara Elegan’. Lalu pada saat ice breaking, Kakek dan Nenek para peserta seminar tersebut berlatih dengan saling mengacungkan jari tengah satu sama lain, persis Mr. Bean ketika pertama kali menjejakkan kaki di Amerika. Hehehe…  

Di lain pihak, saya bisa membayangkan kericuhan yang terjadi sebagai dampak dari jari tengah Foke yang teracung tersebut. Lha wong foto jari tengahnya yang teracung itu saja dilingkari bahkan sampai dibuatkan link segala, ya pasti besarlah dampaknya. Dan saya terheran-heran dibuatnya. Benar-benar heran, bahkan sampai sekarang. Heran, mengapa beberapa dari kita sampai mau-maunya dibikin ribut hanya karena standart orang lain, seakan kita tidak punya standart sendiri. Saya jadi ingat Kapten Haddock yang pemarah di komik Tintin. Suatu hari ia berpetualang ke Tibet dan jadi naik pitam bukan kepalang ketika sekelompok anak Tibet meleletkan lidah kepadanya. Herge menggambarkan adegan baku lelet lidah dan muka Kapten yang kian merah dari kotak ke kotak dengan sangat lucu, sampai saya terus terpingkal-pingkal meski sudah beberapa kali membaca dan mengamati gambarnya dengan cermat. Kapten pemabuk tukang ngamuk yang memikat ini tersinggung bukan main, padahal itulah cara orang-orang Tibet menguluk salam. Pasalnya ia membawa perspektif bulenya tentang leletan lidah terhadap orang tak dikenal yang dianggap menghina, di Negara Tibet yang menjadikan leletan lidah sebagai ekspresi hormat. Di sini dengan sangat cerdas Herge menggambarkan kesombongan budaya barat yang menganggap standartnya musti diamini dan imani oleh kelompok manusia lain, padahal ia berada di tanah dan rumah kelompok manusia lain tersebut (meskipun itu kesimpulan saya sendiri, sih:)). 

Dengan cara sebaliknya, kehebohan soal acungan jari tengah Foke menunjukkan betapa rendah dirinya kita sebagai bangsa. Apa-apa yang diyakini orang barat kita –sebagian lho, ya- anggap sebagai kebenaran yang hakiki, sekalipun sejak sebelum jaman Majapahit orang Indonesia sama sekali tidak menganggapnya penting. Kalau marah dan ingin dianggap keren dalam waktu yang bersamaan, kita memaki, “F*CK!” atau “Son of a b*tch!”. Jadi ingat teman adik saya. Suatu hari ia dan teman-temannya berantem dengan anak-anak dari SMA lain yang favorit di kota Semarang. Baku hantam berlangsung seru tanpa melibatkan senjata tajam. Kemudian salah satu anak SMA favorit tersebut melayangkan tinju pada teman adik saya sambil memaki dengan lantang, “SON OF A B*TCH!!!!”. Teman adik saya, terkapar oleh bogem mentah, berseru tak terima dengan sama lantangnya, “ANJ*NG!!! BERANI KAMU BILANG AKU SANDAL JEPIT???!!!”. Saya tidak tak tahu apakah baku hantam terhenti gara-gara adegan ini dan membuat para peserta terpingkal-pingkal, lalu malah jadi bersahabat setelah puas tertawa. Tapi yang jelas saya bukan hanya terbahak-bahak, melainkan juga kagum oleh orisinalitas tiada dua ini. Dengan pengetahuannya yang nol besar mengenai makian a la bule, teman adik tersebut benar-benar melawan arus, di mana ada banyak anak muda atau orang dewasa yang sama sekali tak fasih bahasa Inggris tapi menguasai betul makian orang-orang barat nun jauh di sana dan mengucapkannya dengan ekspresi sok kul yang sangat bangga. Saya beberapa kali melihat orang yang bertingkah seperti itu dan mengelus dada dibuatnya. Sama-sama memaki, sama-sama melakukan tindakan tak terpuji, kenapa juga tidak mengambil kata makian dari bahasa ibu sendiri, yang esensinya jauh lebih kena di hati? Walaupun dengan cara yang salah, tetap saja itu namanya percaya diri.   

Dan bagi saya secara pribadi, memaki dalam bahasa ibu jauh lebih agung ketimbang dibuat resah oleh cara orang barat –atau manapun juga- mengacungkan jari dan sebagainya. Menjadi diri sendiri memang bukan perkara yang gampang. Menjadi Indonesia jauh lebih sulit lagi, apalagi sekarang bauran komunikasi dan informasi kian tak terbendung. Tetapi Tuhan telah menciptakan kita menjadi orang Indonesia, maka mau tak mau, suka tak suka, kita harus menjadi Indonesia. Kalau tak mau, kalau tak suka, ya lebih baik pindah Negara dan kewarganegaraan saja, dengan catatan kalau ada yang mau menerima. Sebab menjadi Indonesia adalah salah satu tiang utama bagi Negara ini untuk menjadi kuat. Dan menjadi Indonesia yang kuat dan tangguh musti diawali dari rasa percaya diri yang berangkat dari nilai-nilai kita sendiri. Ini adalah variabel yang sama pentingnya dengan mengikis primordialisme dan membuang jauh perspektif budaya induk ketika berhadapan dengan saudara sesama bangsa Indonesia dari lain wilayah dan budaya, serta penguatan akar budaya dan tradisi pada anak-anak kita (baca dua posting saya sebelumnya, “Orang mana ngana, Yuanita?” dan ‘Negeri Seribu Bahasa’). 

Tiga kesatuan tunggal ini (menurut rumusan yang saya buat sendiri. Sebenarnya ada empat, tapi yang terakhir baru akan saya jelaskan di posting berikut supaya anda penasaran dan balik lagi ke sini, hihihi…) adalah tiang terbesar dalam penguatan rasa nasionalisme. Dan tiang apakah yang lebih kokoh bagi kekuatan bangsa ini selain nasionalisme? Nasionalisme membuat kita tak akan goyah digempur oleh rongrongan apapun baik dari luar maupun dari dalam. Nasionalisme pula yang mendorong kita untuk memberikan yang terbaik bagi bangsa dan Negara.

Saya rindu melihat Indonesia yang kuat dan jaya. Semoga anda sekalian juga. Kalau ya, marilah kita menjadi Indonesia. Marilah kita bertutur, bersopan santun, memuji (atau memaki kalau timingnya pas:)), bereaksi, memahami, memaknai, dan segalanya, dengan kacamata Indonesia. Dengan cara Indonesia. Ke-Indonesiaan anda dan sayalah yang menjayakan Indonesia. Tuhan memberkati anda dan saya, Tuhan memberkati kekuatan Indonesia! (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).  

Senin, 01 Oktober 2012

Bersatu Tetapi Tetap Beda




Kabarnya di dunia ini ada sekitar sepuluh ribu bahasa, dan hampir sepuluh persennya –yakni tujuh ratus tiga puluh sekian- disumbang oleh Indonesia. Itu yang ketahuan, karena masih banyak lagi wilayah lingual yang belum tereksplorasi di negeri luar biasa kebanggaan saya ini. Bau-Bau ini saya ada urusan di Baru-Baru. Eh, salah. Baru-baru ini saya ada urusan di Bau-Bau, Sulawesi Tenggara:). Mengapa daerah ini disebut demikian saya tidak tahu pasti, yang jelas saya tidak berani mengendusi penduduknya satu demi satu untuk membuat kesimpulan:). Dan saat mengobrol dengan seorang penduduk asli yang terdidik dengan baik, saya mendapat informasi bahwa wilayah Sulawesi Tenggara memiliki sedikitnya 70 bahasa daerah. Ya, T-U-J-U-H P-U-L-U-H bahasa daerah. Dan kalau anda pikir bahwa di sana Bahasa Indonesia adalah bahasa pemersatu yang digdaya, maka anda salah terka, persis seperti saya sebelumnya. Karena ternyata mereka punya bahasa pemersatu sendiri, yakni Bahasa Wolio, yang sudah eksis jauh sebelum Bahasa Indonesia resmi dinyatakan sebagai bahasa Nasional. Bahkan ada sebuah suku di sana dengan bahasa yang memiliki banyak sekali kesamaan dengan Bahasa Korea, sehingga ini mengundang minat para ahli bahasa dari Korea untuk membuat penelitian di sana. Namun hingga tulisan ini diturunkan, misteri yang membentuk kesamaan tersebut belum jua terkuak.

Sekalipun kali ini saya bicara soal bahasa, namun postingan ini masih ada kaitan dengan posting sebelumnya. Untuk itu saya perlu mengisahkan kali pertama saya mendarat di tanah Sulawesi Utara. Ketika itu saya masih dalam keadaan bunting, merasa sangat tidak nyaman karena pinggang dan perut sakit -belum terhitung tekanan udara dalam pesawat-, terkatung-katung di bandara karena pesawat tertunda dalam rangka cuaca buruk selama sekian jam, dan baru mendarat sekitar jam dua malam. Total waktu yang saya habiskan sejak pesawat meninggalkan Semarang hingga tiba di Manado adalah sekitar 15 jam. Pokoknya sesuatu banget, deh. Saya dan suami dijemput oleh kakak ipar dan suaminya yang tinggal hanya sekitar sepuluh menit dari bandara, dan ketika saya tiba, semua orang yang ada di rumah bangun untuk menyalami saya dengan wajah ngantuk yang gembira. Saya –nyaris pingsan karena kelelahan- hanya bisa duduk terpekur dan sekuat tenaga berusaha menampilkan senyum ramah, mengingat mereka bela-belain menginap di rumah kakak ipar tersebut hanya untuk menyambut kedatangan saya. 

Teh hangat yang harum menggoda terhidang di meja, namun sebagaimana pantasnya orang Jawa saya diam dengan sabar menunggu dipersilakan. Tapi betapa terperanjatnya ketika salah seorang dari keluarga suami berkata, “Goyang, jo.” Darah diam-diam naik ke kepala (darah memang biasanya mendidih lebih cepat pada orang hamil yang kelelahan dan nyaris pingsan:)), dan saya bisa merasakan wajah saya panas karena rasa tersinggung. Batin saya, sudah bunting, kelelahan, terkatung-katung selama belasan jam, eh, datang-datang malah disuruh goyang. Saya diam saja, berjuang keras meredakan amarah, namun lagi-lagi seseorang berkata, “Goyang, jo, lalu minum.” Ini sudah keterlaluan, kata saya dalam hati sambil mengumpat. Masa untuk secangkir teh hangat saja saya disuruh ngibing dulu, apalagi kalau saya dapat cemilan kaviar? Apa mereka bakal menyuruh saya striptease? Karena rasa tersinggung sudah sampai ke ubun-ubun, maka saya naikkan pandangan yang tak ramah, dan tampaklah bahwa mereka saling celingukan dengan tampang bingung. Untung suami saya menyambar cepat, “Goyang maksudnya aduk, supaya gula tercampur.” Astaga! Saya hanya bisa kembali menurunkan pandangan lekas-lekas, dan menyeruput teh diam-diam untuk menutupi rasa malu. Untung saja orang-orang Manado ini terlalu cuek untuk menyadari kebodohan kultural saya. Peristiwa itu membuat saya bertekad untuk lebih berhati-hati dalam bereaksi, sekalipun itu dalam hati. 

Namun rupa-rupanya bukan hanya keledai yang terperosok dalam lubang yang sama. Ini kali terjadi ketika saya diajak jalan bertiga oleh suami dan sahabatnya, seorang Cina Manado, pebisnis muda yang tampan dan menarik, dan menyesaikan SMP dan SMA di Singapura dan kuliah di Amerika. Namanya juga orang berpendidikan baik, maka wajarlah jika ia adalah teman mengobrol yang menyenangkan. Kami sudah sering berjumpa, karena ia boleh diibaratkan ‘istri kedua’ suami saya (istri pertamanya gitar, istri ketiga dan berikut adalah kuas, komputer, dan lain-lain, sedangkan saya entah istri keberapa:)). Saya senang dengan anak muda yang waktu itu berumur sekitar 26 tahun tersebut karena wawasannya luas, pekerja keras, sikapnya membumi dan optimistis, ramah, dan pilihan katanya selalu baik. Namun rasa suka saya teruji saat tiba waktu memesan menu, dimana ia memanggil waiter dengan cara demikian, “Sst, cewek! Cewek!”

Simpati saya runtuh seketika itu juga. Bagaimana mungkin seseorang yang kuliah di Amerika dan sebagainya bisa berkelakuan tidak ubahnya pengangguran yang suka nongkrong di jalanan di pulau Jawa, dan menggoda tiap gadis yang lewat dengan tampang mesum menjijikkan? Rasa muak tersebut dipertajam dengan simpati saya pada waiter, yang saat dipanggil ‘cewek’ dengan tidak hormat tetap melayani dengan sikap baik. Betapa kebutuhan hidup memang seringkali membuat orang terpaksa membuang harga diri, demikian ratap saya dalam hati atas nama perikeperempuanan. Maka sepanjang sisa waktu saya sama sekali tak mengeluarkan sepatah katapun kecuali bila ditanya, itupun seperlunya, dengan nada dingin pula. Bisa jadi kelakuan saya membuatnya merasa tak enak atau apa, karena waktu kami berjalan di parkiran saya dapati diam-diam ia menarik suami saya dan berbisik-bisik. Saya memalingkan pandangan, pura-pura tak melihat. Lebih tepat, sama sekali tidak peduli dengan apa yang ia katakan atau lakukan, karena saya benar-benar merasa jijik.

Sampai di rumah, suami saya menegur kelakuan saya tadi dengan nada hati-hati, karena kian besarnya kandungan membuat saya kian mudah tersulut emosi. Keruan saja amarah yang sejak tadi saya pendam tersembur bagaikan asap Gunung Soputan. Begitu emosinya sampai-sampai suara saya gemetar. Tak dinyana suami saya justru tertawa cekikikan. Saya menyipitkan mata tanda geram (maksud saya kian menyipitkan, karena mata saya kan sudah sipit dari sononya:). Di tengah derai tawanya, ia menjelaskan bahwa, “Memang begitulah cara orang Manado menyapa perempuan muda yang tidak dikenal. Kalau laki-laki mereka sapa ‘cowok’.” Saya menyanggah keras sambil memandangnya dengan tatapan hina,”Nggak usahlah kamu tutupi kelakuan sahabatmu itu! Kamu pikir aku nggak tau sapaan Nyong dan Nona??!!”. Suami saya tambah tergelak-gelak, dan sambil mengusap air matanya berkata,”Terserahlah kalau nggak percaya. Buktikan saja sendiri kalau lagi jalan di pertokoan atau di mana. Makanya jangan kebanyakan bengong.” Dan ternyata setelah saya buktikan esoknya, penjelasan suami saya ternyata benar adanya dan bukan semata dusta untuk menutupi kelakuan tengik sahabatnya. Saya benar-benar malu dan merasa tak punya muka lagi untuk menemui sahabat suami saya tersebut. Tapi rupa-rupanya dia dengan mudah melupakan ketidak sopanan saya, karena dua malam berikutnya ia kembali mengundang kami makan di luar dan tetap mengajak saya mengobrol dengan ceria seakan tak terjadi apa-apa.

Setelah itu saya benar-benar kapok dan tak mau jadi keledai untuk kedua kalinya. Bukan hanya bersikap hati-hati, namun lebih jauh saya lepaskan kerangka pikir saya sebagai orang Jawa yang selama puluhan tahun tinggal di Pulau Jawa, dengan bahasa dan implikasinya yang secara sosial dan budaya seringkali sama sekali berbeda dengan wilayah lain di Indonesia. Dan ini lebih dari sekedar menguasai Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan secara baik dan benar. Karena bahasa bukan semata-mata struktur atau kosakata, melainkan lebih dari itu adalah ekspresi dari tatanan dan nilai-nilai sosial. Kita bisa tenang-tenang saja sekiranya tinggal di sebuah negeri dengan satu bahasa, adat, dan budaya. Tapi nyatanya kita tidak tinggal di negeri yang seperti itu. Kita tinggal di negeri dengan seribu bahasa, adat, budaya, cara hidup, tradisi, dan segala rupa yang berbeda. Jangankan bahasa daerah yang memang terbentang jauh antar tiap-tiap daerah, sedangkan memaknai Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan saja tiap daerah memiliki kebiasaan dan nilai sosialnya sendiri-sendiri.

Tidak mudah memang menjadi orang Indonesia. Mudah jika kita hanya tinggal di tempat kita dilahirkan, duduk manis saja di situ tanpa beranjak ke mana-mana sehingga tidak perlu bertemu saudara-saudara dari wilayah Indonesia yang berbeda. Mudah jika kita tidak menggunakan jejaring sosial, yang memungkinkan kita berkomunikasi dengan siapapun dari manapun sudut di Indonesia hanya dengan berdiam diri di rumah. Mudah kalau kita memutuskan untuk menjadi pertapa, sehingga kita tak perlu repot-repot memelajari keunikan karakter saudara-saudara kita dari wilayah lain dan cara mereka mengartikulasikan Bahasa Indonesia dari perspektif mereka. Mudah kalau kita memilih untuk menjadi katak dalam tempurung, sehingga kita tidak perlu susah payah meninggalkan perspektif budaya asal kita saat berhadapan dengan mereka dari budaya yang total berbeda di negeri kita.

Tetapi siapa memangnya yang mau hidup seperti itu, sekalipun itu mudah? Maka masing-masing kita memang tak punya pilihan selain meninggalkan pola-pola primordialisme, termasuk dalam berbahasa Indonesia, saat menjumpai saudara kita dari wilayah yang berbeda, entah kita bertandang ke tempat mereka atau mereka yang bertempat di wilayah kita. Ketika pola primordialisme sudah tanggal, maka yang tinggal hanyalah kesadaran bahwa kita tengah berhadapan dengan orang berlainan etnis yang punya pemahaman bahasa dan budaya sendiri. Dan saat rasa satu Indonesia yang utuh sudah tertanam kuat, kita musti kembali mengingat bahwa bagaimanapun Indonesia dibentuk oleh ribuan hal yang berbeda. Dan inilah paradoks yang paling indah dan menyentuh dari Indonesia, paradoks yang tak ada di Negara manapun di penjuru dunia: semakin kita beda, semakin kita satu. Semakin kita satu, semakin kita beda! Indonesialah yang membuat kita beda, Indonesialah yang membuat kita satu. Luar biasa TUHAN yang mencitakan ribuan perbedaan dan satu persatuan bagi Indonesia! Luar biasa Tuhan yang menciptakan Indonesia sebagai negeri seribu bahasa, seribu cita, dan rasa yang berbeda!

Tuhan memberkati anda dan saya! Tuhan memberkati perbedaan kita bangsa Indonesia!(Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga)