Minggu, 04 November 2012

Ebony and Ivory




Konflik horizontal yang melibatkan berbagai etnis vs warga kampung Balinuraga benar-benar membuat hati saya pedih luar biasa. Bukannya hal itu tak pernah terjadi di Indonesia –terlebih pada pasca lengsernya Soeharto. Bukan pula yang paling hebat (bandingkan dengan kasus Sampit), tapi dengan lugu dan percaya diri saya merasa hal serupa tak akan mungkin terjadi lagi. Kalau bentrok ya paling-paling karena urusan tanah atau senggol-senggolan waktu nonton dangdutan. Atau rebutan gadis kembang desa, lalu para pemuda dua kampung berkelahi dan kelewatan sampai akhirnya merugikan warga kedua belah kampung. Namun yang ini lain. Dan sekalipun pemicunya memang jamak, namun bukankah apa saja bisa jadi pemicu kalau memang di bawah dan di dalam sudah rapuh?  

Kiranya saya tak perlu menceritakan ulang kejadian Napal dan yang terakhir melibatkan warga Balinuraga vs etnis-etnis lain tersebut, karena selain saya bukan wartawan, paling-paling anda juga sudah mendengarnya dari berbagai berita. Namun dari berbagai berita dan cerita dari teman-teman yang menjadi saksi mata (atau setidaknya tinggal di dekat situ), mereka mengambil kesimpulan sama: orang Balinuraga memang songongnya minta ampun dan dibenci oleh bukan hanya penduduk asli melainkan juga para pendatang lain. Sebagai tambahan, penduduk kampung Balinuraga bukan berasal dari Bali, melainkan Nusa Penida. Etnis Bali yang tinggal di situ damai dan akur dengan yang lain. Saya jadi ingat peristiwa Sampit. Waktu peristiwa itu berlangsung, info dari kerabat serta teman yang tinggal di sana mengatakan, tidak ada satupun etnis pendatang di sana yang ENGGAK NYUKUR-NYUKURIN orang Madura. Luar biasa, bukan? Padahal perlakuan sadis yang diterima etnis Madura di sana sudah melewati akal dan budi. Tapi waktu saya memrotes, mereka malah lebih nyolot. Begini rata-rata mereka bilang, ”Memang, sih, sadis. Tapi coba kamu ada di sana dan melihat kelakuan orang Madura sehari-hari, pasti pendapatmu sama. Lagipula suku asli yang membantai orang Madura itu kan melakukannya di bawah pengaruh ilmu, jadi nggak sadar. Sebab mereka sesungguhnya orang-orang yang baik hati dan pengampun. Jadi kalau secara sadar biar seribu tahun mereka tak mungkin melakukannya. Dan kalau nunggu seribu tahun, pasti orang Madura yang lebih dulu menghabisi mereka kalau dilihat dari kelakuannya selama ini.” Dan lain-lain. Jadi begitulah, tak peduli sekejam apapun perlakuan yang diterima orang Madura, ujung-ujungnya selalu ada rasionalisasi untuk membela suku asli. Jadi saya tidak bisa bicara apa-apa lagi, karena kesombongan etnis Madura sudah melampaui batas akal dan budi mereka.

Saya jadi teringat sebuah sekeping tanah di Indonesia, tempat sekian banyak etnis menetap di sana dan hidup damai sejahtera dengan penduduk asli. Yup, mana lagi kalau bukan di Sulawesi Utara? Kalau dilihat di peta, Sulut ini memang sekutil sekali. Bahkan boleh dibilang agak ngenes. Bayangkan, sudah kecilnya segitu, jadi bagian dari pulau yang sangat besar pula, jadi tambah kentara kecilnya. Tapi nyatanya etnis pendatang di sana banyak sekali dan hampir semua sudah bikin kampung sendiri. Kampung Cina, Arab, Ternate, Bugis, dll. Hebatnya, Kampung Islam bahkan sudah jadi nama kelurahan secara resmi. Bentrok? Hohoho… mimpilah kau, Bro! Seperti yang saya koarkan di berbagai kesempatan: kalau Sulut rusuh, saya berani bertaruh Indonesia bakal buyar. Suwer. Padahal orang-orang Manado itu sama sekali nggak ada halus-halusnya. Bulan-bulan pertama tinggal di sini saya selalu takut kena serangan jantung karena cara bicara mereka yang meledak-ledak, padahal untuk ukuran orang Jawa saya sudah bisa dibilang kasar. Dalam urusan ngobrol, hanya dibutuhkan MAKSIMAL 3 orang Manado untuk menghasilkan efek riuh-rendah yang cuma bisa diciptakan oleh MINIMAL 10 orang Jawa. Ada kejadian yang (lumayan) lucu, begini: seorang teman suami saya waktu itu sering datang ke rumah karena urusan pekerjaan. Saya tertekan setengah mati setiap dia datang dan memilih mengurung di kamar lalu menutup telinga dengan bantal. Namun lama-lama saya tak tahan dan menggelorakan protes pada bapaknya anak-anak. Saya bilang, ”Sudahlah, lebih baik nggak usah kamu terima dia lagi. Tiap kali datang selalu marah-marah. Memangnya kamu punya hutang belum dibayar?”. Suami saya melongo, terus cekikikan dan berkata, ”Memang begitu bicaranya. Kayak belum tau cara bicara orang Manado saja.” Saya ngeyel, ”Sudah cukup banyak orang Manado yang aku temui, dan nggak gitu-gitu amat. Lagipula apa kamu nggak punya harga diri? Sudah bagus dia diterima sebagai tamu, disuguhin baik-baik, eh, malah membentak-bentak yang punya rumah.” Cekikikan suami saya kian menggila. Lalu katanya, ”Kalau begitu siap-siap saja, karena ada beberapa temanku yang suaranya lebih parah ketimbang dia.” GUBRAKS :).

Plus (menurut pengakuan orang-orang Manado sendiri) mereka itu punya harga diri tinggi dan paling kuat ‘baku lawan jago’. Yang paling sederhana adalah urusan gaya hidup, yang diwakili oleh kredo ‘Biar kalah nasi yang penting menang aksi’. Jadi tak peduli ngana cuma tukang ojek atau supir mikrolet, kalau urusan penampilan ngana tak bakal kalah dengan bos-bos di atas sana. Dan karena mereka adalah orang-orang keras kepala, maka berkelahi baik single maupun rombongan adalah hal jamak bagi mereka, baik dari level anak SD sampai Opa-Opa! Itu sudah saya buktikan, jadi dalam urusan harga diri model apapun saya mendapati bahwa orang-orang Manado itu sama sekali tidak mengada-ada. Jadi misterius bukan, mengapa para pendatang itu hidup damai dengan mereka dan bahkan enggan pulang kampung? Ah, nggak juga, sih. Karena di balik sikap keras dan gengsian itu mereka punya sisi yang sangat unyu dan chibi-chibi burger:). Saya tidak mau ngoceh panjang lebar dan bikin capek jari, kalau pengin lihat penjabaran dan contohnya silakan tengok posting saya berjudul ‘Kamse dan Upay’. Jadi saya perjelas saja di sini: orang Manado bukan sekedar ramah (apalagi ramah model saya yakni rajin menjamah, hihihi…). Lebih dari itu mereka sangat welcome. Terbuka dan mengundang siapapun masuk. Orang yang baru datang akan merasa bahwa mereka sangat diterima. Dan siapa yang tidak merasa nyaman dan tersanjung diperlakukan seperti ini? Tapi jika dikembalikan ke urusan kesombongan etnis seperti saya sebut di awal tulisan di atas, bagamana para pendatang itu bisa melebur masuk, tetap memertahankan identitas budayanya, tanpa keinginan untuk berpongah secara ras dan budaya?

Ehm, begini, saya bukan sosiolog ya, jadi pendapat saya ini kemungkinan besar secara ilmiah tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Ini hanyalah hasil pengamatan saya selama bergaul dan berbincang dengan manusia-manusia yang saya cintai ini: sikap ramah, terbuka dan kebaikan hati serta harga diri mereka ublek jadi satu, menghasilkan enerji yang membuat orang lain (para pendatang) merasa nyaman SEKALIGUS segan, yang menjadi penangkal bagi para pendatang itu untuk menepuk-nepuk dan membusungkan dada.  Ini dia analisa saya:
1.      Etnis-etnis tersebut hidup mengelompok dan menyelenggarakan warisan adat yang mereka bawa dari tempat masing-masing.
2.      Dalam pada itu mereka hidup membaur dengan penduduk asli.
3.     Mereka melihat penduduk asli menerima semua pendatang dengan baik dan bergaul dengan mereka tanpa pilih kasih dan tak pandang bulu (tak peduli bulunya tebal atau tipis, di luar atau di dalam. Hihihi…becanda saya jelek, ya?.
4.     Dengan contoh perilaku yang diberikan oleh penduduk asli, maka para pendatangpun mengadopsinya dengan pula penghormati dan menerima etnis pendatang lain. Sedangkan yang punya rumah saja menghormati dan menyediakan tempat bagi semua tamu, masak si tamu malah sok-sokan pada tamu yang lain? Begitu kira-kira gampangnya.

Dengan pemahaman yang saling dibagikan satu sama lain baik oleh penduduk asli maupun para pendatang seperti di Sulawesi Utara tersebut di atas, maka secara umum kehidupan yang mereka capai adalah:
1.    Etnis Arab hidup mengelompok dengan segala sorban, hidung mancung bengkok, tatapan mata setajam elang, ana-ente mereka, dan lain-lain. Orang Cina dagang di kompleks pecinan (di sini disebut toko Cina) dengan kelenteng, dupa, dan tetek bengek nilai agama dan budaya mereka sendiri. Dan sebagainya berbagai etnis lain.
2.     Dalam pada itu, mereka membaur dengan manis. Kalau satu etnis menyelenggarakan acara atau hari besar keagamaan, mereka membuka pintu dan berkunjung satu sama lain. Dan lain-lain.
3.    Etnis-etnis yang hidup tersebar dan tak membentuk kelompok etnis sendiri hidup membaur dan mengikuti pola hidup penduduk asli.

Jadi  tak ada etnis yang hidup eksklusif dan mendongakkan kepala tinggi-tinggi serta ditakuti karena sakti mandraguna seperti Balinuraga di Lampung sana. Atau yang ke mana-mana bawa celurit lalu jelalatan dengan tatapan jagoan kampung nan tak terkalahkan seperti etnis yang dibenci di Sampang sana. Soal senjata tajam saya ada cerita yang (kali ini beneran) lucu. Tersebutlah di perumahan tempat saya tinggal seseorang dari Bugis atau mana saya lupa. Sebut saja namanya Oom Rosid. Oom Rosid ini kerjanya berkebun, jadi tiap sore ia pulang ke rumah dengan kaki penuh lumpur sambil memanggul kelewang. Pokoknya penampilannya bikin anak yang paling bengal sekalipun langsung ciut nyalinya. Nah, tiap sore hari, ada saja anak yang keluyuran dan main-main padahal belum mandi. Si Mamak teriak-teriak tak digubris, hingga akhirnya dari jauh tampaklah Oom Rosid berjalan dengan tenang membawa kelewang. Mamak-mamak kontan berseru dari pagar rumah masing-masing, “HE, NAPA OOM ROSID!!!”. Anak-anak langsung menengok dengan leher kaku dan wajah pucat pasi. Oom Rosid (dengan dilandasi simpati pada mamak-mamak) mengayunkan kelewang satu-dua kali, dan anak-anak itupun sontak bertemperasan ke rumah masing-masing sambil menjerit, “Mamaaaak…. Se mandi akang pa kita!!! (Mamaaaak…mandiin aku!!!)”. Sebatas itulah senjata tajam diperlakukan oleh etnis luar yang tinggal di Manado. Hihihi….

Jadi kalau mau damai tak peduli seribu etnis sekalipun ngumpul di satu tempat, maka contohlah apa yang sudah ditunjukkan oleh saudara-saudari kita di Sulawesi Utara sana. Ratusan tahun mereka menerima sekian banyak orang dengan latar belakang budaya, agama, tradisi, dan bahasa berbeda. Nyatanya tak satupun pernah ada perkara pertikaian bahkan saling bunuh oleh karenanya (paling banter karena di bawah pengaruh Cap Tikus, yang belakangan juga sudah berupaya diredam oleh slogan berhenti minum a k a ‘STOP JO BAGATE’, hehehe…). Karakter yang siap menerima, ramah, baik hati, serta gemar menolong dipadukan dengan seni memelihara harga diri membuat siapapun yang datang menjadi betah sekaligus MALU menyombongkan diri. Pendatang yang melihat ketulusan mereka juga belajar dan menyerap semua contoh yang telah diberikan tersebut, kemudian menularkannya pada yang lain. Sebaliknya, penduduk asli juga menghargai rasa hormat yang telah dikembalikan para pendatang tersebut, hingga semua berakhir dengan rasa saling memahami yang kian besar. Maka yang terjadi antara mereka adalah pembelajaran yang bersifat mutual, sehingga dengan demikian mereka bisa serempak bernyanyi dengan lantang, “EBONY AND IVORY, LIVE TOGETHER IN PERFECT HARMONY….”. Kalau saja semua daerah di Indonesia bisa belajar dari manusia-manusia asli dan pendatang di Sulawesi Utara, pasti lagu tersebut bisa berkumandang di seluruh penjuru Indonesia. TUHAN memberkati kerukunan antar etnis di Indonesia, TUHAN memberkati contoh yang telah diberikan rakyat Sulawesi Utara (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).

Senin, 15 Oktober 2012

Jenius Berkaki Pecah-pecah Itu Adalah Mak Tiwar



Mak Tiwar tidak pernah bersekolah formal. Tidak pernah ikut kelompok diskusi apapun untuk merumuskan semua masalah di Indonesia. Tidak pernah main FB atau twitter dan protes soal ini itu, wong pakai hape saja belum tentu bisa. Ia juga tidak pernah ikut organisasi apapun. Kartu perpustakaan juga tidak punya, sebab baca tulis belum tentu mampu. Pokoknya Mak Tiwar adalah orang yang sangat tidak up dated. Segala akses informasi ia tak punya; paling bagus adalah berita dari kelurahan yang biasanya disampaikan pada kumpulan warga atau petugas PKK dan Pos Yandu. Jadi tak heran kalau Mak Tiwar sama sekali tak tahu bahwa di luar sana orang-orang sedang panik karena urusan krisis pangan. Mak Tiwar juga tak tahu bahwa kabarnya pada tahun 20013 nanti sedikitnya 7 juta orang Amerika bakal mengalami krisis pangan. Boro-boro mengerti apa yang bakal menimpa atau menghilang dari meja makan orang-orang Amerika, sedangkan istilah krisis pangan saja Mak Tiwar belum tentu mengerti. Yang jelas seumur-umur Mak Tiwar tidak pernah kekurangan pangan. Dan saya duga sampai ajal menjemput Mak Tiwar bakal tetap begitu.

Jangan salah terka, Mak Tiwar bukan orang berduit yang bisa membangun bunker khusus untuk menyetok makanan a la acara Doomsday Prepper di sebuah tivi kabel. Mak Tiwar juga bukan perempuan karir yang menenteng gadget canggih ke mana-mana dengan penghasilan sekian digit. Ia cuma Mak Tiwar, perempuan desa tua yang saya dengar dari Tante saya, waktu beliau masih jadi agen minyak tanah Pertamina. Sebagai agen minyak tanah kala itu Tante saya sering turne ke desa untuk melihat kondisi pangkalan-pangkalan. Di sanalah suatu hari, saat menunaikan pekerjaan sambil jalan-jalan menikmati pemandangan alam dari atas bukit sejauh pandang dilepaskan, Tante saya mengenal Mak Tiwar. Dan beliaupun terpesona dibuatnya.

Mak Tiwar hidup bersama suami dan seorang cucunya, karena orang tua si cucu, yakni anak dan mantu Mak Tiwar, mengadu nasib di kota. Suami Mak Tiwar kalau tak salah tukang kayu, sedangkan Mak Tiwar tinggal di rumah mengurus rumah dan cucu. Merasa ada kelebihan waktu, Mak Tiwar lirik kiri-kanan. Lalu ia melihat lahan milik tetangganya cukup luas (untuk ukuran Mak Tiwar) dan dibiarkan tertidur lama begitu saja. Maka Mak Tiwar meminta ijin pada si empunya untuk mengolah tanah tersebut. Entah ada pembagian hasil atau pemilik tanah menyerahkan hasilnya begitu saja pada Mak Tiwar, Tante saya tak bertanya. Yang jelas mulailah Mak Tiwar bertekun dengan tanah seluas sekitar beberapa ratus meter persegi tersebut. Pertama, sebagian ia sebari bibit padi. Lalu sebagian lagi ia sebari bibit palawija dengan sistim tumpang sari atau apa saya lupa, wong saya bukan petani, hihihi… Pokoknya kalau bulan ini ia menanam itu, lalu bulan itu ia menanam ini sesuai masa panen masing-masing bibit yang beda musim tersebut. Kemudian sepetak lain ia gunakan untuk menanam sayur-sayuran bakal masak sehari-hari. Ada terong, bayam, sawi, cabai, tomat, bawang merah, bawang putih, dan sebagainya. Jumlahnya secukupnya wong cuma buat konsumsi sendiri, kalau ada lebih baru ia titipkan ke warung-warung terdekat. Itupun tak selalu, karena kebanyakan ia bagi-bagi begitu saja ke tetangga sekitar.
Lalu ia minta tolong suaminya untuk membuat dua buah lubang: satu untuk diisi air kemudian disebari benih-benih ikan air tawar. Lubang sisanya untuk menampung sampah dedaunan, sebab MAK TIWAR TAK PERNAH MEMBAKAR SAMPAH. Bibit ikannya juga tak heboh-heboh amat, secukupnya saja. Prinsip Mak Tiwar: sing penting ora perlu tuku, weteng ora ngelih (yang penting tak perlu beli, perut tak lapar). Hanya tempe tahu dan minyak goreng yang ia beli, sebab ia tak mau repot-repot membuatnya. Mak Tiwar juga tak pernah resah jika harga cabe, bawang merah putih, dll, naik. Kalau hidup di kota pastilah Mak Tiwar melakukan sistem tabulampot atau tanaman dan buah dalam pot. Maka jadilah Mak Tiwar sosok yang sangat self sufficient. Tiap hari ia menikmati menu makanan yang penuh gizi dari hasil kebun (pinjaman)nya sendiri. Ia juga tak takut tabung gas meleduk, karena masak pakai kayu bakar yang banyak terhampar di pinggiran hutan kampung. Dan makanan yang dimasak dengan kayu tentu saja hasilnya lebih sedap ketimbang yang dimasak pakai kompor modern. “Waktu di sana Mak Tiwar masak mujahir goreng, tempe tahu, tumis sawi hijau, dan sambal korek. Sedap sekali! Sssst…Tante sampai tambah, lho. Sebetulnya pengin tambah dua kali, tapi malu,” kata Tante saya penuh penyesalan. “Tapi tak apalah, soalnya setelah itu Mak Tiwar bikin verkedel jagung dan singkong goreng. Minumannya kopi tubruk ndesa. Hmmmm….,” kata Tante saya dengan raut wajah jauh lebih cerah. 

“Pasti Mak Tiwar tubuhnya kuat berotot seperti GI Jane,” kata saya, membayangkan Mak Tiwar mengayunkan cangkul. Ternyata kata Tante saya tidak. Ia tampak seperti mbah-mbah di kampung-kampung Jawa pada umumnya. Bertubuh kecil cenderung kurus, pakai baju seadanya (betul-betul seadanya), rambut diundel biasa semi awut-awutan dan sudah penuh uban, urat sudah mulai bertonjolan di tangannya menandakan umur yang sudah cukup panjang, dan, yang paling tipikal, kaki pecah-pecah dengan jari-jemari jempol semua. Iya, soalnya kalau macul dan itu ini kan Mak Tiwar selalu nyeker (dan bukan hanya ketika turun dari mobil di depan para wartawan seperti yang yang dilakukan oleh seorang menteri, hehehe….), jadi wajarlah kalau jari-jemari kakinya gambreng. Tiba-tiba saya teringat sesuatu, “Lhah, cucunya apa kabar? Siapa yang ngurus sementara Mak Tiwar sibuk ini itu?”. Dalam hal ini ternyata Mak Tiwar santai. Pagi cucunya dimandikan, diberi makan, lalu dibawa ke kebun dengan dibekali mainan dan cemilan secukupnya. Mak Tiwar macul dengan tenang di bawah terik matahari, sementara cucunya mainan sendiri di gubuk kecil yang dibuatkan kakeknya sebagai tempat berteduh. Agak siang Mak Tiwar masak lalu memberi makan suami dan cucu sambil istirahat sebentar. Lalu cucunya ditidurkan dan ia sibuk lagi. Cucunya bangun dibawa ke kebun lagi. Lalu pulang dan Mak Tiwar mengerjakan pekerjaan rumah yang lain. Sore hari kalau tidak pengajian ya ngobrol sama suami atau apalah, lalu tidur. Sesederhana itu. Besoknya begitu lagi. Dan kalau istirahat sehari saja biasanya Mak Tiwar malah linu-linu. Flu tulang, Ndara Ayu, demikian kata Mak Tiwar pada tante saya, entah paham atau tidak makna flu tulang.
 
Dan saya bisa memahami mengapa Tante saya terpesona pada sosok ini. Pertama, Mak Tiwar pasti bisa dijadikan bahan kajian menarik bagi mereka yang bergerak di bidang keseteraan gender dengan judul ‘Perempuan Perkasa’. Atau judulnya diganti ‘Wanita Perkasa’ kalau si penulis tidak mempermasalahkan mana yang secara etimologis nilainya lebih rendah, diksi perempuan atau wanita, hehehe… Nyaris semua kebutuhan keluarga ia yang penuhi sendiri (bandingkan dengan saya yang kalau lihat suami bawaannya lihat ‘duit belanja’, hihihi…). Dan ia tidak banyak cingcong lalu cari-cari rumusan dalam perspektif gender dll (bandingkan dengan saya yang suka ribut dengan masalah konsepsi, dan sementara itu meninggalkan baju-baju belum disterika numpuk berhari-hari :)). Kedua, ia merawat cucunya dengan penuh devosi di tengah segala kesibukan belum dihitung usianya yang sudah senja (bandingkan dengan saya yang kalau bangun pagi untuk ngurus si kecil kadang berseru kesal pada suami, “Kenapa harus selalu aku, siiiiih???!!!!”, lalu tidur lagi, meninggalkan suami kelimpungan mengurus si kecil seorang diri :)). Ketiga , Mak Tiwar berjalan selaras dengan alam. Ia masak dengan kayu bakar (di sini saya tidak bisa membandingkan dengan diri sendiri, soalnya kalau mau seperti Mak Tiwar berarti saya musti nebang pohon rambutan di halaman atau pohon peneduh di jalanan yang ditanam sesuai juklak Pemda :)). Dan patut kita catat bahwa selain tak pernah membakar sampah, Mak Tiwar juga mengasihi tanah dengan menjauhkannya dari pupuk pabrikan berbahan kimia dan hanya memberinya pupuk alami hasil timbunan sampah daun itu. Emang enak bikin pupuk? Dan catatan dengan huruf besar semua adalah: MAK TIWAR TELAH MEMBUAT SUMUR RESAPAN ALAMI. Entah sadar entah tidak, yang jelas Mak Tiwar telah melakukan langkah terbaik yang bisa dilakukan seorang individu untuk menangkal ancaman krisis air global yang sudah mengintip di balik pintu. Bandingkan dengan banyak orang bersekolah tinggi (yang bisa jadi termasuk anda dan saya), yang boro-boro bikin sumur resapan sederhana, yang ada malah rumahnya disemen semua. Dan Mak Tiwar tak pernah menyalakan pompa air untuk menyiram tanaman, sebab itu semua ia dapat dari air kolam yang berfungsi sekaligus sebagai penampung air hujan. Mak Tiwar tak pernah ngomel di FB atau twitter: “Air macet terus, bagaimana ini PLN? Udah bayar mahal-mahal”. Mak Tiwar jauh lebih cerdas dan gagah berani. Ia diam dalam gerak, dan bergerak dalam diam.  Boro-boro mengubah daerah resapan jadi hunian, sebaliknya Mak Tiwar dengan sedaya mampunya menjadikan setiap peluang sebagai rekening simpanan air tanah.  

Dan jika para pengamat sosial dan para sosiolog selama ini gelisah dengan sistem lumbung padi yang kabarnya sudah punah, maka Mak Tiwar sama sekali tidak. Ia jauh lebih cerdas dan tangkas daripada mereka semua, karena ia SELALU PUNYA LUMBUNG PADI. Bukan cuma padi, bahkan jagung dan macam-macam sumber karbohidrat lainnya. Singkong yang tak awet ia keringkan, tumbuk, lalu simpan. Demikian pula jagung dan umbi-umbian lain. Kalau acara Doomsday Preper dibikin versi Indonesia dan ada kontesnya, pasti Mak Tiwar meraih suara terbanyak dalam voting via sms. Mak Tiwar yang mungkin sama sekali tak pernah ikut penataran P4 itu jelas-jelas sudah melaksanakan –minimal- sila ke-5 Pancasila. Sebab bukan hanya mensejahterakan diri sendiri dan keluarga, ia juga mensejahterakan tetangga kiri kanannya. Soalnya Mak Tiwar kan hanya tinggal bertiga, jadi surplus hasil kebunnya selain ia simpan di lumbung ia bagi juga pada para tetangga. Mak Tiwar sekeluarga kenyang, tetangga-tetangganya juga. Susah deh jadi miskin kalau semua orang modelnya seperti Mak Tiwar. Semua mandiri dan mau berbagi.

Kalau saja kita yang mengeluh soal air macet dan banjir, cabe mahal, dll, mau mengadopsi nilai-nilai dan contoh praktis yang telah diberikan Mak Tiwar –paling tidak satu atau dua saja- pasti hidup kita secara kolektif juga akan berubah. Dan menjadi lebih mudah. Dan kalau Oprah Winfrey kenal Mak Tiwar mungkin hidup sekian juta umat manusia di dunia akan berubah, karena penonton Oprah kan lintas benua dan banyak sekali. Saya bayangkan mereka semua terkagum-kagum, karena di sebuah titik di sebuah desa Pulau Jawa di Indonesia, ada seorang perempuan tua yang menerapkan betul semua konsep ketahananan pangan level paling dasar, padahal istilah ketahanan pangan saja ia tak tahu. Orang-orang bakal berpikir, “Kalau semua individu juga seperti Mak Tiwar, maka ketahanan pangan skala nasional dan internasional bisa tercapai, sebab semua individu sudah terlibat aktif. Kalaupun toh ada isu iklim, setidaknya bisa tertanggulangi sebagian. Dan individu-individu dalam satu komunitas bisa saling berbagi. Yang punya itu berbagi pada yang tak punya itu, yang punya ini berbagi pada yang tak punya ini. Hhhhhmmmm..... sederhana dan canggih pada saat yang sama.”

Itulah semua hal tentang Mak Tiwar yang membuat Tante saya terpesona. Saya lebih lagi, karena Mak Tiwar sama sekali tak pernah sekolah atau bergaul dengan orang-orang yang terdidik secara formal. Seandainya saya tanya apakah Mak Tiwar tahu apa itu information sharing, besar kemungkinan ia malah balik tanya, “Apa itu, Ndara Ajeng? Sejenis thiwul?”.  Dan puncak kegemilangan Mak Tiwar bagi saya adalah: ia cerdas oleh dirinya sendiri. Ia cerdas oleh alam. Tidaklah berlebihan kiranya jika saya berkata: Mak Tiwar yang berkaki pecah-pecah dengan jari jempol semua itu adalah jenius natural. Diberkatilah Mak Tiwar dengan segala kecerdasaan, keperkasaan, dan kepekaannya! Diberkatilah kita semua yang mau belajar darinya! (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).

Kamis, 11 Oktober 2012

WENDESKRENDESKRINDESKRUNINDESUIMINGPULWESRUIMASREIATDEMARKET #biarbingungasalbritis.



Si pemuda bermaksud romantis dengan menggubah sebuah lagu untuk gadisnya, sebagai teman menemani tidur lelap si gadis malam nanti. Harapannya, sang gadis bisa bermimpi tentang mereka sedang mesra-mesraan. Atau tentang bintang, bulan, dan matahari. Si gadis, bukannya memekik unyu, “Oooo….co cwiiiitttt….,” malah ngamuk-ngamuk sebab lagu itu nggak fungky karena liriknya domestik bukannya Amrik. Lalu si pemuda bilang, ya terang aja seleramu berubah, mungkin terlalu banyak gaul sama turis. Jadi hobinya denger yang Inggris Inggris, biar bingung asal Britis. Check it out, yo!Yo!Yo!Yo!Yo! Di akhir lagu tegas sang pemuda berkata:  Sebelum bubar balikin saja kasetnya untukku lagi, biar kusimpan tuk kujadikan  mas kawin kalau ku merit. Gedumbranggedumbrenggedubraggedubrug!!! YEAAH!! YEAAAH!!! YEAAAAAH!!!! Di En.

Demikian lagu ‘Asal Britis’ oleh grup Jamrud, salah satu grup Indonesia favorit saya. Lagu itu adalah sebuah lagu yang sangat funky dan nge-beat sekaligus –menurut istilah saya sendiri- sandal alias santai tapi dalem:). Baiklah, bukannya mau menjelek-jelekkan kampung halaman saya kedua, Manado. Tapi memang banyak sekali bahan untuk dijadikan studi di sini –sekaligus otokritik untuk perbaikan diri- salah satunya ‘asal Britis’ itu tadi. Inilah kisah yang pertama: bagi anda yang belum tahu, saya hendak jelaskan bahwa dalam tubuh saya tercampur baur sekian banyak darah yang membuat saya jadi nggak begitu jelas:). Ada Jawa, Belanda, sekian persen Persia, sejumput Yahudi, dan seiprit Cina. Dari bauran tersebut jadilah saya yang sipit, berkulit terang, rambut sempat agak coklat kemerahan (entah natural entah dulu kebanyakan main layangan :)), dan jauh sekali dari gambaran orang Jawa pada umumnya. Namun karena budaya dan filosofi Jawa adalah yang paling kuat dalam keluarga besar tempat saya bertumbuh dan berakar (plus prosentase darahnya memang paling banyak), maka ketika ditanya orang apakah saya, saya selalu menjawab, “Orang Jawa.” Setiap kali diajak keluarga besar suami ke sana ke mari, saya selalu memperkenalkan diri dengan bangga, “Saya orang Jawa.” 

Namun suatu hari Mami mertua saya berkisah bahwa ia berpapasan dengan tetangga yang berkata, “Anak mantunya cantik sekali (ehemmm..). Orang mana?”. Dengan penuh harga diri dan kharisma Mami menjawab, “Indo Belanda.” Demi mendengar itu keruan saya berseru, “WHATZZZZ???!!!”. Demikian kagetnya sampai keselak-selak karena kebetulan saya sedang menikmati sepacul nasi hangat, dabu-dabu manta, dan segunung kecil rica roa (sambal yang terbuat dari ikan roa asap yang sama sekali terlarang untuk mereka yang sedang diet dan menghemat anggaran beras :)).  Setelah reda saya protes keras, “Kita orang Jawa, Mami!”. Mami mertua ngeyel, “Hih, salah sendiri. Tampang begitu ngaku-ngaku Jawa, mana ada yang percaya?”. Saya tak mau kalah, “Mami jelaskan, dong, kalau gitu. Jangan asal ngaku-ngaku kita Indo Belanda. ” Mami masih membalas, sok gaul pula, “Ih, kok gue, sih?”. Saya nyengir diam-diam dan kali ini membantah tegas dengan penuh wibawa, “Mam, kita ini tidak ada urusan dengan orang Belanda! Kalau boleh pilih kita lebih suka jadi seratus persen inlander keturunan kuli ketimbang keturunan Belanda biar sedikitpun! Blablablabliblibliblublublu!!!”. Demikian pledoi dalam ‘Yuanita Menggugat’ yang saya sampaikan dengan berapi-api, sesuai semangat yang diwariskan oleh Bung Karno. Namun Mami mengeluarkan senjata pamungkas yang dilontarkannya dengan ketus, “Ngana musti bangga jadi keturunan Belanda!” sambil berlalu begitu saja, meninggalkan saya sendiri dalam keadaan bingo yaki (bingung a la monyet sambil celingukan kiri kanan dengan tampang bego).

Urusan nama juga begitu. Sulit sekali bagi anda untuk menemukan orang Minahasa dengan nama Minahasa. Yang ada hanya nama-nama bule. Kalaupun ada yang pakai nama asli hanya segelintir, itupun biasanya yang lahir sebelum NKRI berdiri. Bahkan sebelum NKRI berdiripun nama bule sudah eksis. Saya bisa memahami kalau itu diambil dari Alkitab, karena di sini kan mayoritas Kristen. Tapi seiring dengan perkembangan jaman, Alkitab atau tidak tak penting, yang penting nama bule. Ada kisah lucu ketika saya melahirkan Sing Kinasih Wohing Ati (Yang Terkasih Buah Hati), anak bungsu perempuan saya. Mereka semua mengusulkan Manado, yang saya sambut dengan gembira. Ternyata semua nama yang diusulkan adalah nama bule, sampai saya bengong dan berkata, “Lho, itu kan nama-nama bule. Di mana Menadonya?”. Dengan cuek mereka ngeles, “Iya, tapi itu semua sudah jadi nama Manado.” Ketika saya mendesak usulan nama asli Minahasa, tak ada satupun yang angkat suara. Saya curiga mereka sendiri bahkan sudah lupa atau malah tidak tahu nama-nama asli Minahasa selain Toar-Lumimuut :).

Peristiwa selanjutnya terjadi ketika saya mengajari putri kecil saya (ketika itu dua setengah tahun) makan dengan tangan saja tanpa sendok. Itu karena saya tidak ingin ia hanya fasih menggunakan sendok tapi tidak tahu nikmatnya makan dengan tangan telanjang. Mami mertua protes dan berkata, “Kenapa ngana kasih ajar makan Adek dengan tangan? Rupa orang kampung, jo.” Saya mengoreksi halus, “Rupa orang Indonesia, Mam, bukan rupa orang kampung. Kampung, kota, miskin, kaya, makan sekolahan atau patah pinsil, bukan orang Indonesia kalau tidak bisa makan dengan tangan saja.” Lalu seseorang yang lain, saya lupa siapa, membela Mami dan berkata, “Begitu no cara torang mendidik anak-anak, dengan cara Belanda.” Mendengar kata ‘Belanda’ disebut-sebut saya langsung sensi :). “Sekalian saja rombongan pada pindah ke Belanda, ketimbang makan hidup enak di Indonesia tapi tidak mau jadi Indonesia. Tinggal lihat apa Belanda mau menerima. Kalau kita lebih baik mati ketimbang mendidik anak-anak bukan dengan cara Indonesia,” demikian sanggah saya lumayan ketus. Demikianlah saya yang akan ngeyel dengan cara apapun, sejauh itu menyangkut ke-Indonesiaan saya dan anak keturunan saya. 

Intinya, mereka bahagia dan bangga luar biasa dengan apa-apa yang berbau bule, minimal Belanda. Padahal peribahasa Tondano mengatakan, tradisi harus menjadi batu pijakan bagi masa depan. Oke, mungkin itu skala keluarga dan sedikit ekstrim. Tapi di luar sana ada banyak hal yang mengusik hati saya, di antaranya: sekian tahun saya tinggal di sini dan menghadiri sekian banyak acara orang kawin, belum pernah saya mendapati satupun yang digelar dengan cara adat, biarpun cuma sekedar baju atau menyisipkan lagu daerah. Yang ada semua pengantin dan prosesi digelar dengan cara dan detil yang sangat barat. Dan sejauh saya mengenal anak-anak Manado, tak ada satupun di antara mereka yang pernah mendengar kisah rakyat dan tak ada satupun orang tua yang mendongengkannya bagi mereka. Bahasa daerah juga hanya dipergunakan oleh mereka yang tinggal di kampung, sedangkan anak-anak dan generasi muda di kota Manado sama sekali tak tahu apa-apa soal bahasa leluhur mereka. Kalaupun ada bisa dihitung dengan jari. Mereka hanya mau menggunakan dialek Manado baik dalam pergaulan maupun lingkup formal seperti sekolah, kantor, dll. Tak ada bahasa daerah, tak ada bahasa Indonesia. Yang lebih menarik, saya perhatikan mereka kesulitan berbicara bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Suatu hari saya menunggu di bandara dan di sekitar saya ada anak-anak dari sebuah sekolah menengah di Manado. Rupanya bahasa pengantar mereka bahasa Inggris dan mereka cukup fasih menggunakannya, paling tidak untuk anak seumuran itu. Demikian pula mereka sangat antusias mengajak saya ngobrol dengan bahasa Inggris. Tapi giliran saya ajak bicara dengan bahasa Indonesia, mereka tersendat-sendat menjawab. Besar kecurigaan saya bahwa mereka belajar bahasa Indonesia dari sinetron dan dubbing drama Korea, hihihi…..

Saya tidak tahu dengan anda dan keluarga anda, tapi keluarga tempat saya dibesarkan hanya memperbolehkan kami, anak-anak, bicara hanya bahasa Jawa halus di rumah dan bahasa Jawa kelas rendah dengan teman-teman bermain, hingga kami sekolah. Dengan demikian kami punya cukup waktu untuk mengenal bahasa ibu kami sendiri. Setelah masuk sekolah barulah kami diperbolehkan menggunakan bahasa Indonesia, dan setelah kami cukup menguasai kedua bahasa ibu ini, barulah kami dipersilakan belajar bahasa asing lain. Bahasa asing, terutama Inggris, memang penting. Tapi tidak pernah lebih penting ketimbang bahasa ibu, sebab bagaimana kita bisa mengenal diri dan orang lain dengan baik jika kita tak lebih dulu mengenal ibu sendiri? Mengenai keteguhan saya mengajarkan pada anak saya akar-akar budaya termasuk sekian jenjang bahasa Jawa yang memang enggak banget itu, saya pernah mendapat kritikan dari seorang rekan kerja yang lebih tua dan sangat saya hormati. Si Mbak ini berkata, “Kamu tidak bisa memaksa anak menjadi ini atau itu, May. Anak-anak pada akhirnya akan bertumbuh. Rupa pohon, cabangnya akan menjulur ke kiri, ke kanan, atau ke mana saja sesuka mereka.” Saya menyanggah dengan sopan, “Akan tetapi, Mbak, bagaimana pohon itu bisa bercabang dan menjulur ke mana-mana kalau ia tidak berakar dengan kuat? Setiap pohon musti punya akar yang kukuh terlebih dahulu, baru cabangnya bertumbuh ke mana ia suka, dan berbuah sebanyak yang ia bisa".

Sebab hanya pohon yang berakar kuatlah yang bisa bertumbuh dan berbuah. Dan generasi yang kuat adalah generasi yang tidak tercerabut dari akarnya. Dan besar syukur saya kepada Tuhan karena memberikan keluarga yang mendidik saya dengan dasar-dasar tradisi dan budaya yang kuat, yang sangat membantu saya dalam menjalani hidup terutama mengatasi berbagai masalah. Akar yang kuat tersebut pula yang membuat saya menjadi orang yang sama sekali tidak goyah oleh pengaruh asing apapun, tak peduli teman saya sudah komplet dari semua benua dan beberapa telah jadi sahabat yang membuat mereka rutin berkunjung ke Indonesia. Dan sebaliknya, tidak ragu-ragu menyerap pengaruh asing bila memang itu baik dan tidak bertentangan dengan norma-norma yang saya anut.  Ada dua hal yang sering luput dari perhatian kita, bahwa pada saat kita tidak berakar dengan kuat, maka pendulum kita akan cenderung ekstrim ke kiri atau ke kana. Ekstrim kanan sudah saya sebutkan di atas, yakni begitu bangga dan silau pada orang lain namun justru tak mampu menghormati diri sendiri. Asal britislah, seperti Jamrud bilang di atas. Sisi sebaliknya adalah pendulum ke kiri, yakni kita membenci dan memandang rendah apapun yang berasal dari luar seakan-akan kita adalah yang paling hebat di dunia dan mereka adalah sampah belaka.  

Di sini ada dua kredo psikologi yang paradoksal, yang pertama adalah rasa percaya diri membuat kita mampu percaya pada orang lain dan tetap kuat pada saat yang bersamaan. Dalam aplikasinya pada ranah berbangsa dan bernegara, ini bisa muncul pada tindakan-tindakan sebagai berikut: membuka diri pada pergaulan yang seluas-luasnya dan tidak ragu untuk menyanggah bila ada pihak asing yang merendahkan hal-hal apapun sehubungan dengan bangsa dan Negara kita (tengok posting saya sebelumnya, ‘TEGAKKAN KEPALA DAN LAWAN KITA DAN MEREKA!!!’),  tidak mudah ikut arus dan membeo pada semua yang dianggap baik oleh orang lain padahal belum tentu buat kita, begitu memuja bangsa asing tak peduli yang mereka perbuat bertentangan dengan haluan politik dan berbangsa kita serta melawan kemanusiaan atau tidak (lihat posting ‘Foke dan Jari Tengahnya’), dan sebagainya.

Kredo kedua yang masih sama paradoksalnya adalah: orang yang tidak percaya diri tak akan pernah sanggup untuk percaya pada siapapun. Outputnya adalah sikap yang brutal dan menyerang. Saya gemar sekali nonton acara ‘Dog Whisperer’ yang dipandu oleh Cesar Milan di sebuah stasiun tivi kabel. Anjing-anjing bermasalah yang tak sanggup ditangani oleh siapapun, termasuk yang besok sudah hendak dieksekusi karena sering mencelakai orang lain, tak ada yang tak takluk di tangan Cesar. Dari situ saya tahu bahwa beberapa anjing jadi galak bukan karena dilatih jadi galak, tapi karena mereka merasa tidak aman. Rasa tidak aman tersebut berasal dari rasa tidak percaya diri dan berujung pada rasa tidak percaya pada pihak lain. Sebagai usaha untuk menutupi kelemahan tersebut, si anjing bersikap membela diri sekaligus menyerang. Cesar maupun saya tidak bermaksud menyamakan kita semua dengan anjing, namun sejauh ia menjadi The Dog Whisperer dan saya mengikuti acaranya, terkuak bahwa semua masalah psikologis yang dialami si anjing ia dapat dari manusia, terutama sang empunya. Itu sebabnya, sebelum menangani si anjing ia terlebih dulu ‘menggarap’ si manusia, sang sumber masalah. Maka tepatlah slogannya, “I rehabilitate dogs, I train people.” Singkatnya, saat kita merasa lemah dan tidak percaya, maka kita akan menyerang untuk menutupi kelemahan tersebut. Dan jika para pemilik anjing itu menulari anjing-anjing mereka dengan sikap mental lemah mereka, maka kita akan menulari orang-orang di sekitar kita.
 
Jadi jangan heran kalau ada sebagian dari kita yang panik sekali kalau ada penyanyi ini atau itu hendak konser di sini. Tak heran kalau ada penyanyi dangdut ngebor, ngecor, nyangkul, ngarit atau apapun, sebagian dari kita jadi marah-marah tak jelas dan mengatakan itu adalah pengaruh asing. Lupa bahwa jauh sebelum ada industri musik, para perempuan di Bali sudah biasa telanjang dada ke mana-mana tanpa ada satu laki-lakipun yang otaknya jadi ngeres. Tak heran pula bila ada sekelompok orang yang membenci satu dua atau beberapa Negara secara keseluruhan, dalam arti tak peduli baik atau buruk hal-hal yang dimiliki oleh pemerintahan atau rakyat Negara tersebut. Tak heran bahwa ketika terjadi peristiwa 11 Sepetember ketika ribuan orang tak bersalah mati, saya mendapati banyak orang Indonesia nyukur-nyukurin mereka! Benar, anda boleh tidak percaya. Saat peristiwa itu terjadi, saya sedang ada di kos teman. Mereka pada nonton bareng berita tersebut, dan beberapa malah bersorak-sorai sambil berseru, “F*CK AMERIKA!!!!”. Dan banyak pula di luaran yang bereaksi sama. Betapa tragisnya, bergembira ria atas kematian ribuan orang tak bersalah hanya karena kebencian universal.   

Terus terang saya bukan penggemar no 1 orang-orang barat terlebih Amerika Serikat. Dalam banyak hal kebijakannya saya anggap menghisap manusia lain. Namun itu tidak membuat saya membenci mereka secara brutal atau mengata-ngatai mereka ini itu. Berteman dengan mereka cukup menyenangkan, dan banyak hal positif yang bisa kita serap dari mereka. Bahkan kalau boleh jujur, saya menganggap orang Amerika punya kepribadian yang paling menarik ketimbang orang-orang barat lainnya. Dua hal yang paling membuat saya jatuh hati adalah mereka punya hati yang sangat hangat dan begitu mudah tersentuh. Seekor kucing yang tak bisa turun dari pohon bisa membuat orang satu kampung bingung dan memanggil pemadam kebakaran. Sekelompok masyarakat bisa berkumpul menjadi relawan untuk menyelamatkan ribuan binatang peliharaan yang terjebak di rumah saat badai dan banjir bandang melanda. Seorang tentara berbadan besar bisa melelehkan air mata dan membersit ingus ketika berhasil menolong anak yang terjepit eskalator. Seorang kakek yang kehilangan anjingnya saat banjir bisa menangis tersedu-sedan nyaris histeris, saat si anjing dikembalikan oleh tim penyelamat beberapa bulan berikutnya. Itu tak bakal terjadi di Indonesia, karena si kakek bakal dibilang, “Apaan, sih, Kek! Lebay!” dan walhasil si kakek akan memilih untuk jaim, hehehe…. Dan prajurit Amerika yang badannya pada segede hohah itu adalah para prajurit berhati paling lembut  yang bisa kita temui di belahan dunia manapun. Kehangatan hati semacam itu sangat sulit untuk ditolak. Itu sebabnya saya tidak percaya ada orang yang begitu sampai hati tertawa girang, saat ribuan orang Amerika mati untuk sesuatu yang tidak mereka pahami.      

Jadi, apakah pendulum kita bergerak ekstrim ke kiri atau ke kanan dengan semua dampak yang mengikutinya, itu semua tak akan terjadi bila kita berakar dengan kuat pada tradisi, norma, adat, budaya, filosofi, dan segala tata hidup yang telah diwariskan para pendahulu kita dari generasi ke generasi. Bila kita berakar dengan kuat, maka kita akan berdiri tepat di tengah-tengah. Kita akan mampu bergaul dan memberikan hal-hal baik pada bangsa-bangsa lain di dunia dan sebaliknya tidak memandang dengan curiga pada mereka. Kita bisa mengoreksi kesalahan mereka dengan harga diri yang pantas, sekaligus menyerap hal-hal yang baik dari mereka pada saat bersamaan. Dan bila dalam posting-posting sebelumnya saya telah menjabarkan empat tiang nasionalisme, maka akar kita adalah pondasinya. Sebab tak ada satu tiangpun bisa berdiri kokoh tanpa fondasi yang kuat. Maka kiranya kita semua orangtua Indonesia, tak peduli Minahasa, Papua, Batak, Sunda atau manapun juga, mulai kini memusatkan perhatian pada akar tradisi dan kebangsaan anak-anak kita. Sebab masa depan Indonesia ada pada kita dan generasi berikutnya. Dan anak-anak ini adalah tanggung jawab kita sebagai orang tua, bukan tanggung jawab Pak RT, Bu Lurah, para menteri, anggota DPR, Presiden, Jendral Timur Pradopo, Ki Gendheng Pamungkas, Limbad, Trio Macan, Jokowi, semua orang dalam bangku pemerintahan, dan lain-lain. Anak-anak ini -apakah anak kita sendiri atau anak teman atau saudara kita- adalah tanggung tanggung jawab kita para orang tua yang ada di dekat mereka. Mari kita tumbuh kuatkan akar mereka, sebab Indonesia yang kuat adalah Indonesia dengan manusia-manusia yang tak tercerabut dari akarnya. Tuhan memberkati anda semua, para orang tua dan anak-anak Indonesia! Tuhan memberkati akar Indonesia kita! (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).