Senin, 30 Januari 2012

Pemimpin Umat yang Galau


Kalau dalam artikel sebelumnya saya membahas umat narsis dan lebay, sekarang gentian pemimpin umat yang galau. Kalimat pemimpin umat yang galau di sini punya dua arti. Pertama, umatnya yang galau. Kedua, pemimpinnya yang galau.  Dalam artikel ini pilihan saya jatuh pada yang kedua. Dan di sini saya khusus membahas kapasitas ketua MUI yang dalam derajat tertentu bisa juga disebut pemimpin umat. Mengenai perkara Gereja Yasmin, dalam sebuah talkshow di sebuah stasiun televisi Ketua MUI menanggapi perkara pelarangan pendirian gereja tersebut dengan kalimat yang bunyinya demikian kira-kira: “Bukan hanya orang Kristen yang dilarang mendirikan gereja, tapi umat Islam di bagian timur Indonesia juga diperlakukan demikian, dilarang mendirikan masjid.”
Atau begitulah kira-kira, saya tidak hapal tepatnya. Suatu statement yang bukan hanya menyimpang dari akar masalah, namun juga mengusung semangat bela diri yang sangat berlebihan dan berpotensi kian mengobarkan bara masalah. Kemudian dengan penuh rasa percaya diri ia menyebut berbagai daerah sebagai contoh, di antaranya Sulawesi Utara. Ketika seorang sosiolog atau apalah yang jadi rekan narasumber dalam acara tersebut mempertanyakan validitas statementnya tersebut karena sepanjang yang semua orang tahu Minahasa adalah daerah dengan tingkat kerukunan beragama terbaik di Indonesia, dengan ringan dan lucu sang Ketua berkata begini kira-kira: “Saya dapat info dari sumber di daerah.” Sudah, begitu saja. Tanpa data atau apapun juga. Tanpa rasa bersalah atau apa, dengan wajah yang sangat lempeng. Luar biasa.

Sebuah statement yang benar-benar menyakiti perasaan umat yang sudah bekerja dan berusaha keras untuk menciptakan negeri yang damai sejahtera (baca posting saya yang lama: Negeri Minahasa, Surga Bagi Kerukunan Antar Umat Beragama). Bukan hanya umat mayoritas yakni Kristen, namun juga Muslim, dan umat lain yang sudah bekerja keras demi perdamaian di daerah mereka. Salah seorang teman saya, orang Jawa, Islam, yang pernah tinggal 4 tahun di Manado, yang biasanya selalu membuat status serta komentar lucu gila-gilaan, mendadak dengan emosi berkomentar begini, “Wkhfahflauiefnajfakjehruhnfkajfeu!!!! (ekspresi kemarahan yang sebaiknya tidak saya terjemahkan). Hanya orang-orang yang tak pernah merasakan hidup di sana sajalah yang bisa berkomentar blablabla seenak udelnya bodong.” (Meskipun dalam hal ini saya bertanya-tanya dari mana si teman itu tahu bahwa orang yang berkomentar asal tersebut udelnya bodong).

Namun yang jadi masalah bukanlah udel yang bodong atau tidak, melainkan betapa tidak pantasnya seseorang dengan kapasitas seorang Ketua Majelis Ulama Indonesia di sebuah negara dengan seratus sekian puluh juta umat Muslim, yang mana tidak semuanya bijaksana dan berjiwa besar seperti yang direpresentasikan dengan jelas oleh kaum narsis ( lihat posting berjudul ‘Umat Narsis dan Umat Lebay’), mengeluarkan statement semacam itu. Saya tidak mau membahas perkara lainnya, saya hanya ingin membahas statement itu saja. Dari pernyataan tersebut bisa ditangkap sedikitnya:
1.      Sang ketua jelas berusaha ingin mengaburkan masalah dengan melarikannya pada hal lain, tepat seperti petuah tak bijak yang mengatakan ‘Kalau ingin menghilangkan bau pete, makanlah jengkol’. Bau petenya memang hilang, tapi gantian bau jengkol yang eksis. Atau malah bau ajaib perkawinan antara pete dan jengkol. Yang artinya, memunculkan masalah baru. Dalam hal statement ketua MUI tersebut masalah yang bisa timbul di antaranya adalah:
a.      Umat narsis jadi semakin besar kepala dan kian gila-gilaan dalam menjalankan aksi mereka.
b.      Umat yang tidak narsispun bisa jadi terpengaruh, walaupun tidak serta merta mendadak narsis dalam derajat kengerian yang sama dengan para narsis kampiun yang sudah lama berkecimpung dalam dunia narsisme.
c.       Umat lebay jadi  tambah tidak terima, karena selama ini mereka merasa orang Kristenlah yang melulu jadi korban. Kemudian mereka jadi kian hiperbolik dalam menyebarkan kampanye berat sebelah mereka.
d.      Umat di daerah-daerah ‘tertuduh’ dalam statement  tersebut berpotensi merasa sakit hati. Terutama daerah yang sudah terbukti melaksanakan dengan nyaris sempurna sila pertama dan ketiga Pancasila, seperti Manado, misalnya. Dan melaksanakan dua sila tersebut adalah perkara yang sama sekali tidak mudah, terlebih jika usaha tersebut sudah dilakukan selama berbilang dekade atau bahkan mungkin abad, diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya. Belum terhitung tantangan dari luar, misalnya berita-berita di media yang mudah sekali diakses yang kebanyakan distorsif, menjengkelkan, enggak penting banget, dan cenderung dibuat untuk mengombang-ambingkan hati rakyat tersebut. Jadi patutlah kita semua meneladani keberhasilan rakyat Minahasa atau manapun juga dalam menegakkan cara hidup yang bijaksana tersebut. Kalau memang tak mampu, setidaknya kita bisa tutup mulut, terutama jika kita adalah seorang tokoh, terlebih pemimpin umat yang semestinya bisa menjadi panutan.

2.      Sang Ketua tidak memiliki kualitas sebagai seorang pemimpin.
                                                                                                                        
Bertolak dari kalimat ‘siapapun lebih baik tutup mulut jika tak mampu melakukukan suatu hal yang baik, termasuk jika itu adalah seorang pemimpin sekalipun’ di atas, adalah suatu kecelakaan yang fatal jika seorang pemimpin umat hanya memilih tutup mulut. Sebab salah satu kualifikasi yang dibutuhkan dari seorang pemimpin umat adalah kemampuan berkomunikasi yang baik. Kemampuan ini termasuk (dan terutama) menenangkan hati umatnya yang sedang galau. Seorang pemimpin umat tentu dituntut untuk punya hubungan pribadi yang dengan Tuhan. Semakin dekat seseorang dengan Tuhan, maka akan semakin berkualitas dan bisa dipertanggungjawabkan pulalah tutur katanya. Jika ia tak punya kemampuan untuk itu, maka kita bisa mempertanyakan kualitasnya, apakah sebagai pemimpin atau penguji? Dalam hal ini adalah penguji kesabaran dan kualitas kita sebagai hamba, apakah lebih memilih untuk kembali kepada firman Tuhan atau kepada orasi pemimpin yang bagaimanapun adalah manusia biasa, yang ujung-ujungnya kultus individu. Seorang pemimpin yang tidak bijaksana bisa tergelincir dari menjalankan peran sebagai seorang yang menuntun atau seorang yang mencobai manusia-manusia lainnya.  Kedekatan dengan Tuhan akan memberi seseorang, siapapun itu, terutama seorang pemimpin, karakteristik-karakteristik unggul macam ketenangan, kebijaksanaan, kedalaman pikir, dan terutama hikmat marifat. Kebalikan dari itu adalah jiwa yang grusa-grusu, yang dalam istilah populernya sekarang galau.

Hanya jiwa galaulah yang bisa mendorong seseorang melakukan tindakan pecicilan yang berpotensi merugikan orang lain. Kegalauan pulalah yang membuat seseorang kebingungan dan tak tahu apa yang harus ia katakan. Ada banyak sekali hal negatif yang bisa dilakukan oleh seseorang yang galau, sebab kegalauan adalah suatu kondisi di mana kita tak punya pijakan pasti. Seorang pemimpin yang kuat dan tenang akan tahu tindakan dan atau kata-kata apa saja yang harus ia tunjukkan untuk meredakan kegalauan umatnya. Namun seorang pemimpin yang galau tidak akan bisa melakukan apapun kecuali melakukan tindakan ugal-ugalan yang menginspirasi orang lain, terutama umatnya, untuk melakukan hal buruk. Seorang pemimpin yang galau tidak bisa tidak hanya mampu mengeluarkan statemen yang makin mengobarkan api. Lidah seorang pemimpin yang galau ibarat bahan bakar yang siap menyulut api yang kecil menjadi kobaran besar. Lidah pemimpin yang galau bukan hanya akan jadi harimau bagi dirinya sendiri, namun juga bagi umatnya dan umat yang lain.
               
           Saya tidak tahu dengan anda, tapi saya pribadi tidak membutuhkan pemimpin yang galau. Ketimbang dipimpin oleh seseorang yang tidak tahu apa yang dilakukan atau dikatakannya, bahkan berpotensi menjerumuskan saya ke sumur masalah, lebih baik saya jadi kepala sekolah untuk diri saya sendiri. Semoga bangsa Indonesia semakin bijak dalam memilih pemimpinnya. Dan semoga siapapun yang punya kapasitas sebagai pemimpin di bumi pertiwi ini, dalam derajat apapun, punya kemampuan sekaligus kerendahan hati untuk menerapkan standart pemikiran, tutur kata, dan perilaku yang tinggi pada dirinya sendiri, sehingga ia benar-benar patut mengemban amanah sebagai pemimpin . Sungguh tak adil bila bangsa sebesar ini dipimpin oleh seseorang yang galau, yang terombang-ambing dalam menentukan tindakan apa yang harus ia lakukan untuk menghadapi sebuah masalah. Rakyat Indonesia punya hak untuk mendapatkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas. Karena bangsa ini adalah bangsa besar yang unik dan tiada dua, yang hanya patut dipimpin oleh mereka yang layak menjadi perpanjangan tangan Tuhan di dunia.
                Tuhan memberkati Indonesia!

*Rangkaian artikel ini akan ditutup dengan posting hari Kamis yang berjudul ‘Umat yang Lempengdotcom’.

Kamis, 26 Januari 2012

Umat Narsis dan Umat Lebay


Ini adalah posting di luar jadwal, karena sesuai rencana mustinya saya menyelesaikan dulu rangkaian artikel mengenai gizi. Tapi karena ada hal yang lebih mendesak, maka saya dahulukan dulu yang satu ini, sebagai tanggapan atas komentar MUI dalam sebuah talk show yang disiarkan oleh sebuah stasiun televisi swasta, sehubungan dengan komentarnya mengenai perkara gereja Yasmin. Sebelum menerbitkan artikel mengenai salah satu statement Ketua MUI yang sangat tidak bertanggung jawab dalam perkara ini dalam kapasitasnya sebagai pemimpin umat, saya hendak terlebih dulu membahas mengenai sang umat.

Kita semua tahu dan merasakan, bahwa tanah air kita yang sangat raya ini dihuni oleh beragam jenis manusia dengan berbagai jenis latar belakang yang berbeda, jadi semestinyalah kita sudah sangat fasih mengenai perkara kemajemukan. Kemajemukan yang sangat menonjol salah satunya adalah agama. Koreksi kalau saya salah, setahu saya populasi kaum Muslim di negeri ini berjumlah lebih dari dari 80%. 20% persen sisanya dibagi secara tidak merata antara kaum Kristiani, Budha, Hindu, dan Konghucu. Saya tidak tahu pasti di mana rakyat penganut agama warisan leluhur yang tidak diakui oleh pemerintah ditempatkan dalam potongan-potongan kue tersebut. Dan berapa jumlah pastinya? Meneketehe, kita kan bukan tukang sensus, hehehe…. Umat yang paling populer di Indonesia adalah umat Muslim. Ya mesthi. Dan yang kedua adalah umat Kristen. Sayangnya dua umat paling top di Indonesia yang kabarnya masih sedarah ini ternyata juga paling sering berseteru, dan seringnya tanpa alasan jelas. Kalaupun jelas, biasanya mengada-ada.

Baiklah, mari kita bicara terlebih dahulu soal umat paling populer, yaitu Muslim. Sebagai kelompok umat dengan populasi paling banyak, umat Muslim di Indonesia boleh dibilang sangat percaya diri. Ya iyalah, temannya segambreng. Dan sejauh ini, paling tidak menurut pengamatan dan pengalaman saya pribadi, kepercayaan diri mereka sangat asyik dan kul. Sayangnya, tidak semua dari mereka asyik dan kul. Sebagian (untungnya sangat keci), menganggap rasa pede saja tidaklah cukup. Walhasil dengan penuh semangat mereka meningkatkan derajat kepedean tersebut sampai level narsisme. Dan karena narsis sendirian dirasa enggak fun dan kurang gahar, maka merekapun beramai-ramai membentuk kelompok umat narsis. Front Pembela Itu, misalnya. Atau kelompok-kelompok lain yang bakal menyita halaman kalau saya sebut satu demi satu.

Unjuk karya dan rasa narsisme mereka sangat beragam. Salah satu contoh sederhana adalah, bila bulan ramadhan tiba, mereka sibuk menghabiskan waktu dengan jelalatan mencari warung-warung makan yang buka sambil membawa pentungan dan berbagai bentuk senjata tumpul atau tajam lainnya. Kalau ketemu sudah jelas diobrak-abrik. Narsisme mereka dalam hal ini adalah menganggap diri sebagai penegak hukum agama, sekalipun tidak ada seorangpun yang menahbiskan mereka, dan bahkan saat tafsir mengenai hal ini masih jadi bahan berdebatan sekalipun. Tapi sebagai kaum narsis tentu saja mereka tak peduli dengan pendapat dan atau hak orang lain, karena semua kan berpusat pada diri mereka sendiri. Istilahnya, dunia milik mereka, yang lain indekos.

Dalam banyak hal umat narsis juga pelupa, contohnya saat mereka mengklaim diri sebagai pembela Tuhan. Begitu narsisnya mereka hingga lupa bahwa Tuhan begitu Kuat dan Maha Kuasa, sehingga tidak memerlukan pembelaan  dari siapapun, terlebih dari umat yang diciptakan-Nya dari debu tanah. Mereka juga lupa bahwa Tuhan mencintai semua umat ciptaan-Nya, sehingga dengan enteng mereka memporak-porandakan, menghancurkan, bahkan meledakkan rumah ibadah umat agama lain. Mereka lupa bahwa Tuhan itu penuh cinta kasih, sehingga mereka anggap tindakan bar-bar terhadap umat Tuhan yang lain adalah tindakan yang bisa menyenangkan hati-Nya. Mereka juga lupa bahwa Tuhan menciptakan negeri ini untuk semua rakyat Indonesia tak peduli dengan latar belakang agama apa, hingga seringkali mereka kebakaran jenggot jika ada umat lain berencana mendirikan rumah ibadah. Narsisme juga membuat mereka lupa bahwa kemajemukan sudah disadari oleh bapak-bapak bangsa kita saat membuat rumusan dasar negara Pancasila, dengan menghilangkan frasa ‘…dan kewajiban menjalankan syariah-syariah Islam bagi pemeluknya’. Yah, narsisme memang membuat mereka mudah melupakan begitu banyak perkara esensial.

Oke, cukuplah mengenai umat narsis. Bukannya saya hendak menyiram bensin di atas api, namun sebagai orang yang beragama Kristen saya hanya berusaha jujur pada diri sendiri, bahwa saya sama sekali tidak bangga dengan perilaku sebagian kecil saudara-saudara saya seiman, yang dalam istilah saya Kristen lebay. Namanya juga kaum lebay, maka kegemaran mereka adalah membesar-besarkan masalah. Kalau perlu, nggak ada masalahpun dicari-cari juga. Contoh paling sederhana, saat ada gereja dihambat dalam urusan ijin pembangunan, mereka sontak heboh dan berteriak-teriak: jangankan gereja besar, gereja kecil saja mereka tindas! Komentar saya tandas: Gereja besar dan kecil yang mana? Gereja besar dan kecil yang segelintir itu? Mereka yang mana? Mereka yang cuma segelintir itu? Kalau benar semua gereja besar dan kecil ditindas oleh mereka semua, lalu apa kabar gereja-gereja yang eksis di jalanan baik jalan protokol maupun perumahan?

Dan sebagai umat lebay, ada banyak hal yang bisa membuat mereka sensi dan nyolot lebih cepat daripada mereka mengucapkan “Dalam nama Yesus, amin.” Kalau ada masalah sedikit saja, mereka mengata-ngatai pemerintah dan menuduh pemerintah menganak-tirikan kami. Tepat seperti kaum narsis, kaum lebay juga mengidap penyakit amnesia parah. Mereka lupa bahwa jumlah kami di bumi pertiwi ini hanya kurang dari 20 persen, itupun masih harus bagi-bagi potongan kue dengan kaum agama sisanya yang diakui oleh pemerintah. Mereka lupa bahwa sebagai umat minoritas, hak kami di sini bukan hanya dijamin oleh pemerintah, namun juga dihormati oleh umat mayoritas. Mereka lupa bahwa hanya di Indonesia sajalah umat yang minoritas bisa merayakan hari-hari raya dengan heboh dan riang gembira diliputi suasana pesta. Mereka lupa bahwa hal semacam ini tidak mungkin kami rasakan di negara lain, Cina, misalnya. Mereka lupa bahwa di Indonesia terdapat wilayah-wilayah yang disebut kantong kekristenan karena umat Kristen merupakan mayoritas di sana, sedangkan Indonesia adalah negeri yang dihuni oleh lebih dari seratus lima puluh juta jiwa kaum Muslim! Luput dari pandangan mereka bahwa kami begitu eksis, sehingga kita bisa melihat berbagai ekspresi kami sebagai orang Kristen pada stiker-stiker, kaus, dan sebagainya di jalanan dan di mana saja. Mereka lupa bahwa kami tetap bisa dengan bangga menuliskan ‘I Love Jesus’, ‘Jesus, one and only King,’ dan segala Jesus ini atau Jesus itu lainnya, sekalipun jumlah kami begitu minornya.
Mereka lupa bahwa sekalipun umat Muslim di negeri ini jumlahnya begitu fantastis dan terpilih sebagai negara dengan penduduk Islam terbesar di dunia, toh tetap Indonesia sama sekali bukan negara Islam. Mereka lupa bahwa pada saat perumusan Pancasila, beberapa wilayah di Nusantara siap melepaskan diri jika sila pertama tetap mengandung frasa ‘…dan menjalankan syariah-syariah Islam bagi pemeluknya’, hingga perombakan pun dilakukan selekasnya. Kaum lebay lupa pada pengorbanan sekian juta umat Islam yang lebih memilih persatuan Indonesia ketimbang sila yang berat sebelah namun sesungguhnya menguntungkan mereka. Kaum lebay lupa pada kerinduan jutaan umat Islam yang menginginkan bumi pertiwi ini menjadi tanah yang menjanjikan keadilan dan kesetaraan bagi semua anaknya.
Terpujilah Tuhan, karena kaum narsis dan lebay jumlahnya hanya sedikit. Namun demikian ada satu hal pasti, yakni mereka diikat oleh benang merah yang sama: militansi. Mereka begitu giat mengampanyekan pandangan-pandangan mereka yang menyimpang dalam berbagai cara, lewat berbagai media. Dan mengingat enerji serta vitalitas mereka patut diacungi jempol, maka kita tidak bisa mengasumsikan bahwa jumlah mereka akan tetap segelintir dari waktu ke waktu. Ibarat bola salju yang terus membesar dan meraksasa dari waktu ke waktu mereka meluncur ke bawah. Dan bola salju juga melibas apapun yang ada di dekatnya dalam luncuran tersebut. Maka kehancuran adalah hal berikut yang akan ditemui Indonesia jika dua kaum ini dibiarkan beraksi seenak perut mereka sendiri. Jadi, marilah kita lawan militansi mereka dengan keteguhan yang sama pula. Setidaknya dengan mengungkapkan fakta-fakta yang saya cantumkan dalam artikel ini. Syukur-syukur anda punya fakta yang lebih komprehensif dan mau membagikannya pada saya serta yang lainnya.
Mari kita bergandeng tangan, menggalang kekuatan dalam kebenaran dan rasa takut serta hormat akan Tuhan untuk lestarinya Indonesia. Sebab Indonesia milik kita semua, hancur atau lestarinya Indonesia salah satunya juga ditentukan oleh ketidak pedulian atau kepedulian kita.
Tuhan memberkati Indonesia!

*Posting selanjutnya pada hari Senin adalah artikel dengan judul ‘Pemimpin Umat yang Galau’.
                                                                                                                                            




  


Senin, 23 Januari 2012

Anak-anak Sapi yang Cerdas dan Ceria


Para juru kampanye ASI eksklusif itu memang baik hati. Sayangnya, mereka tidak sadar bahwa kadang-kadang mereka bisa sadis. Saking bersemangatnya mereka mendesak para ibu masa kini yang sibuk berkarir dan mengejar segala sesuatu di luaran sana, atau para perempuan yang menganggap bahwa payudara kencang adalah satu-satunya komoditi perempuan hingga malas menyusui bayinya, para jurkam ASI ini dengan semangat mencibir yang membara menyebut bahwa anak-anak yang tak disusui ibunya adalah anak sapi. Kalau ingin tahu bagaimana perasaan seorang ibu yang anak-anaknya dikatai anak sapi, tanya saja saya. Tertusuk hingga lubuk hati yang paling dalam, begitulah rasanya. Ya, tak mungkin lebih lebay daripada ini.
Kalau para jurkam tersebut mengatakan bahwa perempuan yang tak menyusui bayinya adalah egois sebab semua perempuan pastilah bisa memberikan ASI asal dia mau, maka mereka pasti lupa bahwa Tuhan begitu kreatif hingga tak pernah menciptakan segala sesuatu seragam. Selalu ada penyimpangan. Salah satunya saya, yang hanya bisa gigit jari meski sudah jungkir balik mencoba berbagai cara dan ikhtiar baik secara tradisional maupun modern supaya anak-anak saya bisa merasakan ASI. Pijit, sedot, jamu, obat, segala macam terapi, semua sudah saya lakoni. Mungkin cuma daun pintu dan jendela yang tidak saya makan dalam salah satu upaya untuk menghasilkan ASI. Dulu saya curiga bahwa ukuran bisa jadi biang keroknya, sebab punya saya memang bisa dibilang ‘sederhana dan apa adanya’. Tapi nyatanya tidak juga. Ada beberapa kenalan saya yang bahkan bisa disebut ‘antara ada dan tiada’ , ternyata bisa memproduksi susu berlimpah ruah bagi anak-anak mereka.
Jadi setelah bulan ketiga segala usaha tersebut tak membuahkan hasil, baik anak pertama maupun kedua, sayapun berhenti karena kelelahan dan putus asa. Namun rupanya cobaan tak berhenti sampai di situ. Masih ada para dzolimin yang begitu tahu anak saya minum susu formula, dengan ringan dan riang gembira berkomentar, “Waaaahhhhh…. Anak sapi, ya?”. Tinggallah saya terpuruk dan merutuki siapapun yang menciptakan istilah ini.
Tapi saya percaya bahwa satu pintu tertutup hanyalah supaya kita bisa menemukan pintu lain yang lebih besar. Ditekan oleh perasaan gagal tersebut, saya menjejali anak saya dengan berbagai nutrisi yang saya pikir bisa menjadi substitusi ASI. Mendadak saya jadi ahli gizi amatir. Segala bacaan tentang gizi saya baca, hapalkan, dan aplikasikan dengan cermat. Buah dada yang tertutup adalah pintu bagi pengetahuan yang lain, terpujilah Tuhan. Buah dada yang hanya berguna bagi suami (itupun belum tentu, sebab siapa tahu dalam hati dia cekikikan geli dan mengasihani diri sendiri pada saat yang sama) dan tidak bagi anak-anak saya itulah yang menjadi jembatan perkenalan saya dengan tempe.
Berhubung anak pertama saya adalah bayi yang sangat rakus dan tak kenal kenyang, dokter sekaligus ahli gizinya menyarankan agar ia dibuatkan bubur tim saring ketika menginjak usia bulan ke empat menjelang lima. Sebagai percobaan, sedikit saja dulu untuk memberi kesempatan bagi pencernaannya beradaptasi, demikian katanya. Resepnya adalah: cuci bersih beras segenggam, sejumput sayuran lalu ditim tidak di atas api langsung bersama dengan cakar ayam kampung yang sudah dikeprak dan disayat-sayat. Sayur boleh diganti jenisnya tiap hari, asal bukan yang mengandung gas macam sawi atau kubis. Demikian pula dengan protein hewaninya. Tapi ada dua perkara yang tak boleh luput setiap kali memasak tim tersebut. Yang pertama adalah bawang putih, yang berfungsi sebagai antioksidan dan penguat daya tahan tubuh. Yang kedua, tentu saja, sahabat kita, tempe.
Saya percaya seratus persen apa katanya. Bagai kerbau dicocok hidung saya mematuhi perintahnya, sebab Prof. Dr. dr. Sudigbyo, SpA, dokter anak saya, mengambil PHD-nya di Inggris atau di mana saya lupa, dengan disertasi mengenai tempe bagi kecerdasan, daya tahan tubuh, pencegah serta pengobat diare, dan meraih nilai tertinggi, mengalahkan kandidat-kandidat lain yang berasal dari berbagai negara maju. Resep tersebut saya terapkan bagi kedua anak. Hasilnya? Saya boleh bangga. ‘Anak-anak sapi’ tersebut tumbuh begitu sehat. Segala penyakit ringan dan berat membenci mereka. Cerdas, sudah pasti. Dalam periode usia 0-5 tahun, semua anak saya terkena diare masing-masing tak pernah lebih dari 3 kali. Padahal yang namanya balita di mana-mana pasti bersahabat karib dengan diare, yang dalam derajat tertentu bisa mematikan ini. Tapi tidak anak-anak saya. Daya tahan tubuh mereka luar biasa. Putri saya bahkan kelincahannya melebihi ukuran. Siapapun yang pertama kali melihat aksinya dijamin terancam jantungan, karena hobinya adalah memanjat dan meloncat. Di usia kurang dari dua tahun ia sudah lihai melompat dari pantry setinggi satu meter. Di waktu itu pula ia sudah bisa memanjat rak setinggi 2 meter hingga sap tertinggi (saya menjaganya tanpa menyentuhnya sama sekali), dengan kehati-hatian dan teknik yang luar biasa. Itu semua membutuhkan keliatan tubuh dan kecerdasan otak yang tak main-main. Segala tembok dan pagar telah digagahinya. Saya menyebutnya ‘terlahir sebagai cliffhanger’. Kadang-kadang saya juga memanggilnya ‘Jolly Jumper’.
Lalu kena berapa perkara tempe dengan kecerdasan dan keliatan anak-anak sapi tersebut? Sebaiknya nanti di artikel berikutnya. Yang ini saya tutup saja dengan propaganda: Para ibu hamil dan atau menyusui, makanlah tempe sesering mungkin, suka atau tidak, sebab anda dan bayi anda membutuhkannya. Para orang tua dengan bayi yang masih makan bubur, sedapat mungkin jauhi bubur instan. Berikan tempe dalam adonan bubur anak-anak anda. Dan siapapun yang bertanggung jawab atas urusan memasak di rumah masing-masing, hidangkan tempe setiap hari, setiap waktu. Para pembaca yang tercinta, cintailah tempe seperti anda mencintai diri sendiri. Dan janganlah puas lalu berhenti sampai di sini. Percakapkan tempe di manapun anda berada, pada siapapun yang anda jumpa. Pada saudara dan handai taulan, teman-teman, tukang sayur atau tukang becak langganan, ketua RT, pada acara arisan atau pengajian, pada kumpulan PKK, saat istirahat kantor atau kuliah, saat mengobrol di ruang tunggu dokter, saat BBM-an, saat apapun dan di manapun. Pada siapapun (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).


Jumat, 20 Januari 2012

Buat para pengunjung dari Argentina dan Malaysia, selamat datang. Terima kasih sudah main-main ke sini. Kalau suka tolong sebar luaskan, ya. Kalau nggak suka lebih baik dibatin aja, hehe.... Tolong dong tinggalkan jejak-jejak anda.... *meratap*. Buat para pengunjung dari Indonesia, kamsya, kamsya, haiyaaaa *memanfaatkan momen Imlek*

Kamis, 19 Januari 2012


                                 KITA INI BANGSA TEMPE!!!!

Saya bukan pemuja Bung Karno, karena sesungguhnya saya memang belum pernah memuja siapapun. Tapi bukan berarti saya tidak mengagumi kecerdasan dan sumbangsih serta perjuangannya yang begitu luar biasa bagi lahirnya negara ini. Tapi sehebat dan secerdas apapun Bung Karno, beliau tetaplah manusia. Yang bisa saja silap kata, entah murni karena kesalahan atau karena kurangnya informasi. Maklum, jaman beliau kan belum ada apa-apa. Boro-boro internet dan sebagainya, untuk telponpun kabarnya masih harus diengkol lebih dulu. Jadi saya bisa memaklumi jika dalam pidato-pidatonya nan bergelora Bung yang gagah perkasa satu ini seringkali berseru, “Kita ini bukan bangsa tempe!!!”. Maksudnya baik, sih, karena beliau menjadikan tempe sebagai simbol kelemahan dan kelembekan (yang bisa dimaklumi mengingat harga dan penampilan tempe yang memang sangat jelata), dus, sebagai bangsa yang bukan tempe maka bangsa Indonesia pastilah tegar dan tangguh, bermartabat, dan sebagainya.
Tapi sebaik apapun maksud Bung Karno, tetap saja beliau salah. Karena tempe sama sekali bukan materi yang lemah. Tidak pula murahan, sekalipun harganya luar biasa murah. Sebaliknya, tempe adalah bukti nyata betapa Tuhan begitu murah hati memberikan berkat kecerdasan luar biasa bagi nenek moyang bangsa ini. Salah satu risalah ilmiah menyebutkan tempe sebagai ‘an extraordinary gift Indonesia has given to the world’. Persembahan luar biasa Indonesia bagi dunia. Betapa gagahnya! Eksistensi tempe diketahui dari serat Centini tahun 1800 sekian, prasasti, transkip-transkrip di daun lontar, dan sebagainya. Bahkan ditengarai sudah ada sejak sekitar 2000 tahun lalu, sebelum bangsa Cina pertama kali membuat tahu.
Well, silakan para ahli sejarah yang memutuskan. Yang jelas imajinasi saya melayang pada jaman di mana pepohonan masih sebesar bentangan tangan sedikitnya dua orang dewasa, malam pekat hanya dikerlipi sedikit cahaya pelita, kesunyian yang mengungkung hingga otomatis sarana hiburan yang paling menyenangkan hanyalah bercinta –itupun enggak asyik-asyik amat karena harus sepelan mungkin sebab ranjang paling banter terbuat dari kayu atau bambu yang digoyang sedikit saja bunyinya bikin drop, dan alat-alat laboratorium yang paling top terbuat dari tembikar. Ditambah tiadanya perpustakaan wilayah dan sharing informasi lewat BBM, hingga entah mulai dari mana dan dengan cara apa nenek moyang kita mereka-reka percobaan pembuatan tempe. Di tengah kekosongan dan kelengangan itulah tempe tercipta. Segenap hormat, bangga, dan cinta untuk nenek moyang kita.
Tempe pulalah salah satu faktor utama yang membuat kita saat ini ada. Pernahkah anda bayangkan semenderita apa nenek moyang kita yang selama ratusan tahun hidup di bawah ketengikan si penjajah serakah-oportunis-arogan-pendek pikiran-tak tahu malu bangsa Belanda? Memang kaum ningrat dan pedagang selalu hidup senang dan kenyang, tapi berapa persenkah mereka dari total populasi rakyat Nusantara ketika itu? Yang terbanyak tentulah kaum kuli, kaum yang bisa jadi adalah nenek moyang anda atau saya, strata rendah inlander yang penyebutannya selalu diliputi nada cemooh. Mungkin ada masa-masa di mana kaum kuli tersebut hanya punya pelepah pisang sebagai satu-satunya bahan yang bisa dimakan. Tapi di antara masa-masa dengan kengerian tak terbayangkan tersebut, selalu ada tempe. Sebab studi membuktikan bahwa tempe ada bahkan di area yang paling terpencil sekalipun. Tempe, makanan padat terbaik nomor satu di dunia, itulah yang membuat bangsa kita berhasil bertahan hidup dalam derajat yang paling rendah sekalipun. Dan lestari bahkan membengkak tak terhingga saat ini.
Tempe pulalah yang secara ilmiah telah terbukti berpengaruh besar pada kecerdasan nenek moyang kita yang terbentang dalam berbagai aspek, baik arsitektur, budaya, medika, kuliner, dan sebagainya, sehingga meninggalkan artefak-artefak adiluhung seperti Serat Centini, jejamuan dan obat-obat tradisional yang telah terbukti khasiatnya selama entah berapa dekade, serat La Galigo, Borobudur, batik, keris, berbagai rumusan kehidupan dari yang fisik hingga adikodrati, dan segala rupa, tak terkira.
Tempe, yang secara tragis disebut sebagai sesuatu yang jauh dari unsur gizi oleh segerombolan orang berpengetahuan picisan nan arogan, serta kemungkinan besar tukang bolos pelajaran IPA (baca posting saya sebelumnya ‘Dikibuli Distorsi? Basi!’). Tempe yang, dengan segala hormat, karena keterbatasan informasi dan atau kesibukan mengurus bangsa besar ini untuk merdeka dan bangkit dari keterpurukan akibat penjajahan selama ratusan tahun, oleh Presiden Sukarno dijadikan sebagai lambang segala yang lemah dan tak bermartabat.
Bung Karno, bapak bangsa, yang telah memberikan pengorbanan tak terperi bagi bangsa Indonesia, yang kecerdasannya melampaui ukuran banyak orang, dengan segenap takzim, kalau anda saat ini masih ada dan membaca tulisan saya, pasti hari berikut anda akan mengumpulkan berjuta massa untuk mendengar orasi anda yang penuh karisma, dan berseru penuh bangga, “KITA INI BANGSA TEMPE!!!”. Dan jutaan massa pengagum anda akan bergemuruh mengamini, “KAMI BANGSA INDONESIA MEMANG BANGSA TEMPE!!!”. Lalu mereka akan pulang dengan satu tekad baru: tiada hari tanpa tempe bagi siapapun anggota keluargaku. Maka gizi burukpun akan bergegas menyingkir dari tubuh balita dan bocah-bocah di negeri ini (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).
                                                                                                                        



Selasa, 17 Januari 2012

Buat para pengunjung.....

Nggak nyangka, ternyata ada yang jauh-jauh dari Rusia segala, lho. Buat saudara-saudara yang ada di Jerman, Amerika, dan Australia, salam manis dari saya yang tak kalah manisnya. Trima kasih sudah datang berkunjung. Semoga tulisan-tulisan saya bisa jadi obat rindu pada tanah air. Dan untuk para pembaca yang berada di Indonesia, salam manis juga dari saya yang masih tetap sama manisnya *memaksakan diri*. Tuhan memberkati kita semua, Tuhan memberkati Indonesia...

Senin, 16 Januari 2012

Subyektifitas Media Memblingerkan Massa


Setelah saya perhatikan, salah satu obyek favorit untuk dijadikan alat pemutarbalikan logika nan cantik oleh media massa adalah perkara gizi buruk. Dengan sedih saya mengakui bahwa gambar-gambar hidup korban malnutrisi itu memang menyayat hati. Dan memang sejujurnya saya tersayat-sayat, terlebih jika membanding-bandingkan mereka dengan anak-anak dalam keluarga saya dari generasi ke generasi yang terus-menerus mendapatkan gizi berkecukupan. Alhamdulilah secara turun-temurun entah sejak kapan keluarga besar saya hidup tercukupi, umumnya terlebihi. Jeleknya, kelebihan bertemu dengan selera makan yang tak kenal ukuran menghasilkan penyakit mematikan. Jadilah keluarga saya punya catatan mati di usia jauh dari tua gara-gara berbagai penyakit yang umum dikenal ‘penyakitnya orang yang suka makan enak’. Saya pribadi lebih suka menyebutnya ‘penyakitnya orang rakus’. Sutralah, kok malah curhat?
Kembali pada balita-balita bergizi buruk. Sangat tidak etis jika saya menggambarkan secara tertulis kondisi mereka, karena toh saya yakin anda semua sudah mengetahuinya. Fakta tersebut dapat ditangkap dengan mudah. Tapi rasa tercekat karena melihat kondisi bayi-bayi mengenaskan tersebut seringkali membuat mata kita jadi kabur, dan luput melihat bahwa umumnya bayi-bayi tersebut dipangku atau digendong oleh orang-orang dewasa, biasanya orang tua mereka, yang tampak sama sekali tak kurang suatu apa. Dalam arti, mereka seperti orang-orang yang kita lihat di mana-mana, di pasar atau di jalan, di pertokoan atau perkantoran. Sama seperti kita atau orang-orang biasa yang lain di manapun juga. Pertanyaannya: bagaimana mereka bisa baik-baik saja sedangkan bayi-bayi tersebut hampir mati karena tidak mendapatkan apa-apa? Apa saja dan sebanyak apa yang masuk ke perut si dewasa, sedangkan bayi-bayi tersebut hanya mendapatkan sisa-sisa, yang membuat mereka hidup dengan kulit membungkus kerangka?
Bagi anda pertanyaan di atas mungkin sadis. Saya sependapat, meskipun saya sendiri yang bertanya. Tapi saya tak dapat menyangkal diri bahwa pertanyaan tersebut sangat logis. Sebab setahu saya, dimanapun orang tua akan memberikan yang terbaik buat anak-anaknya. Ia akan menahan keinginan jika dihadapkan pada dua pilihan: diri sendiri atau si buah hati. Orang Jawa punya istilah indah: anak kui di anak-anakke. Anak itu diada-adakan. Artinya, buat anak, yang tidak adapun akan selalu diusahakan ada. Lebih jauh lagi adalah mengenai ibu atau istilah ndesanya simbok. Simbok kudu wani tombok. Simbok harus berani nombok. Artinya, seorang ibu harus berani memberi lebih untuk anak-anaknya. Kalau perlu mengambil dari jatahnya, sekalipun itu berarti ia musti menahan lapar. Sebab memang begitulah hakekat orang tua; memberi. Sebab tak ada seorang anakpun yang secara khusus meminta pada orang tua untuk dilahirkan. Orangtua yang memutuskan mereka hadir di dunia, sehingga menjadi aneh jika mereka menjalani tahun-tahun pertama mereka sebagai kerangka bernyawa, sementara si orangtua justru tak kurang suatu apa.
Dan sekalipun si orang tua telah memberikan segalanya namun toh tetap awan gizi buruk memayungi mereka, bukankah masih ada sanak keluarga, atau setidaknya para tetangga di kiri-kanan mereka? Dan jika kita membuat asumsi SELURUH sanak keluarga dan para tetangga tersebut sama miskinnya, bagaimana dengan sistem jimpitan? Jimpitan terbukti bukan hanya digdaya dalam menopang secara materi mereka yang membutuhkan, namun juga sama sekali tak memberatkan. Jauh di atas segalanya, jimpitan adalah tali tipis yang menggambarkan kekuatan kekerabatan dan rasa senasib sepenanggungan. Jika hal yang sesederhana jimpitan saja sudah ditinggalkan, terlebih lagi yang lebih menuntut energi dan dedikasi, seperti mengunjungi tetangga di belakang gang.
Atau mungkin di sinikah letak permasalahannya, yakni sudah semakin tipisnya tali kekerabatan dan kepedulian pada bangsa ini, sehingga kasus gizi buruk masih terjadi? Sebab gizi buruk membutuhkan proses sekian lama, dan tidak terjadi semalam atau secepat kita mengedipkan mata. Andaikan masing-masing dari kita yang hidup dalam satu RT aktif secara bergiliran mengunjungi satu sama lain, mungkinkah kasus seperti ini terjadi? Sebab dari satu visitasi kita bisa mengumpulkan informasi, dan dari satu informasi kita bisa menyatukan hati. Lalu pikiran dan energi. Kemudian materi.
Tetapi melakukan itu semua memang tidak mudah. Jauh lebih mudah berpihak pada media massa masa kini yang kian tegas menjunjung azas subyektifitas. Jauh lebih mudah menonton televisi yang memberitakan kasus gizi buruk, yang dari awal sampai akhir hanya menuding pemerintah sebagai satu-satunya pihak yang musti bertanggung jawab atas tragedi ini. Seakan hanya pemerintah yang tinggal di Indonesia. Seakan tidak ada apa yang disebut rakyat Indonesia. Seakan di sekeliling si miskin tak ada tetangga atau sanak saudara. Memang lebih mudah untuk percaya dan mengamini apapun kata media, terlebih yang memberi peluang bagi kita untuk berkelit. Berkelit dari tanggung jawab bahwa sebagai manusia yang beragama kita wajib berbagi pada sesama. Berbagi perhatian, materi, waktu, tenaga, apa saja.  Jauh lebih mudah menudingkan satu jari pada pemerintah, sambil di saat yang sama lupa bahwa tiga jari lainnya menuding pada diri kita sendiri.
Gambar dan narasi media yang begitu cantik dan lirik telah berhasil mengaburkan distorsi mereka. Untuk kemudian berhasil membuat kita keblinger. Tinggallah saya bingung, harus memberi ucapan selamat pada media yang berhasil membodohi massa atau bersimpati pada massa yang dengan ikhlas bersedia dibodohi media (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).