Kamis, 29 Agustus 2013


Para Sahabat (I)

Saya adalah orang yang sangat diberkati, sebab dalam keadaan apapun selalu dikelilingi oleh teman dekat dan sahabat-sahabat yang mendampingi saya dalam suka dan duka. Dan terlebih lagi, mereka semua menerima saya apa adanya (ya mesthiii….lha wong kalau mereka menunjukkan gelagat tidak bisa menerima saya apa adanya, pasti saya langsung bereaksi. Kalau perlu menghindar secepat kilat :)). Mereka selalu ada pada saat dibutuhkan, tepat seperti pepatah ‘a friend in need is a friend indeed’. Dan sekarang ini, saya hendak membagi kisah tentang orang-orang istimewa yang mendampingi saya di periode paling kelam dalam hidup, dan oleh merekalah saya kembali bangkit. Beberapa dari mereka adalah:

1.      Mamad (dulu saya pernah tahu nama lengkapnya, sekarang lupa :)).
Kami sudah berteman dekat sejak 1998 dan terpisah selama beberapa tahun sebelum akhirnya bertemu lagi pada medio 2010-an. Ia adalah teman diskusi lintas agama, politik, budaya, dan blablabla yang sangat mengasyikkan, sekaligus bahan olok-olokan yang sangat empuk. Kami biasa ngobrol sampai subuh, dan tiap kali habis berdiskusi dengannya biasanya saya mendapatkan pencerahan. Mungkin karena ia kerap saya bantu jaman masih susah, giliran saya susah ia gantian menjadi ATM berjalan yang tulus dan ikhlas. Kalau sedang kepepet saya tinggal telpon lalu berseru,”Mad, aku BU (Butuh Uang)!”, dan tak lama kemudian sekian juta rupiah masuk ke rekening saya. Dan jangan salah! Itu semua bukan pinjaman, ya, melainkan cuma-cuma. Ia juga yang selalu mengingatkan saya untuk tetap sabar dan ikhlas dalam menghadapi masalah. Tapi belakangan Mamad jadi agak menyebalkan, karena sering mendesak-desak saya masuk Islam, bahkan membayangkan saya pake kerudung dan jalan bareng ibu-ibu PKK menenteng kitab untuk belajar mengaji segala :). Biasanya saya menghardik,”Jaman muda dulu gelagatnya bakal kayak Gus Dur, giliran tua malah simpatisan Amrozi!” Mamad cengengesan. Kalau saya membentak,”Jangan kau kira semua rupiahmu bisa membeli imanku!”, ia tambah cekikikan dan justru kian bersemangat dalam upayanya mengintimidasi saya :).

2.      Gembul (yang ini boro-boro nama lengkapnya, nama panggilan aslinya saja saya tidak tahu :)).
Ia sudah menjadi bagian dari keluarga saya sejak SMA, padahal tidak begitu jelas dari mana asal-usulnya J. Orangnya sangat lembut padahal badannya segede mesin cuci dua tabung kapasitas 20 kilo. Sejak dulu kegemarannya mengajak makan, dan tidak peduli sedang bokek atau tidak, ia sangat royal dalam menghamburkan uang untuk menraktir kami. Kalau diajak pergi ke toko mainan oleh Gembul, motto yang saya tanamkan pada si kecil Kinasih adalah ‘Shop ‘till Oom Gembul Drop’ :). Sejak dulu ia juga menganggap saya super woman, dan lebih sering tanpa alasan jelas. Misalnya saat membicarakan perempuan-perempuan jaman sekarang, dengan segenap keyakinan ia berkata,”Cewek-cewek sekarang nggak kayak kamu yang apa-apa bisa, May, bahkan termasuk urusan rumah tangga.” Haaa??? Maksudnya??!! Lha wong rumah selalu berantakan, baju-baju cuma dilipat begitu saja termasuk baju pergi (saya terakhir menyetrika baju mungkin setahun lalu atau bahkan lebih :)), kalau masak selalu sambil ngomel-ngomel dan merasa terdzolimi tanpa alasan, bahkan bikin teh hangat saja rasanya seringkali lebih mirip kobokan (kalau saya buatkan teh, Gembul biasanya menambahkan ini atau itu supaya rasanya jadi agak mendingan J), lalu atas dasar apa semua puja-puji tersebut ia lontarkan? Tapi semua protes saya tak pernah digubris, dan hingga kini Gembul tetap yakin bahwa saya adalah perempuan terhebat kedua setelah ibunya. Aneh.

Gembul selalu memberikan cerita-cerita motivasi yang menyegarkan dan geli setengah mati untuk setiap lelucon saya, segaring apapun itu. Ini sangat penting, karena saya selalu berkata pada diri sendiri bahwa ‘daya pikatku terutama adalah karena aku karena humoris dan apa adanya’ :). Gembul juga sangat ringan tangan dan bersikap sangat mengayomi. Sabarnya minta ampun, tak peduli saya sedang rewel sampai ke ubun-ubun sekalipun. Ia adalah jenis orang yang membuat saya tenang, dan selalu menyayangi saya dengan tulus tanpa sedikitpun merasa bangga karenanya. Waktu saya kembali ke Manado, ia begitu diguncang kesedihan sampai bicaranya tersendat-sendat. Kalimat perpisahannya yang paling membuat sanubari saya tergetar adalah,”Di mana lagi aku bisa menemukan orang yang bisa kuajak nge-trek makan petai?”


Hal yang menyebalkan darinya adalah dia gendut banget, sampai melihatnya saja saya berasa sesak napas. Terus tampangnya selalu kucel, padahal jaman duluuuuu….banget sepertinya pernah agak cakep. Mbak Na dan Dik Pita, salah satu kakak dan adik saya, malah bersikukuh bahwa di balik semua timbunan lemak itu, sesungguhnya tersembunyi wajah setampan Tommy Soeharto (“Versi lecek,” balas saya tandas). Yang lebih ngeselin, kalau saya paksa diet dan make over dia malah berkelit,”Memangnya kalau aku ramping dan mempesona, kamu mau kawin sama aku, gitu?”.

3.      Herdie ‘Simbah’.
Sebenarnya ia tidak pernah masuk dalam daftar sahabat saya. Herdie ini teman SMP dan baru sering ngobrol justru ketika kami lulus dan masuk SMA berbeda. Ceritanya, lulusan SMP kami dulu kebanyakan melanjutkan ke SMA Katholik favorit juga. Hanya segelintir yang mau masuk SMA negeri, diantaranya saya untuk memenuhi keinginan Bapak. Walhasil teman-teman jaman SMP (cowok semua, karena dulu saya tomboy banget) yang pada masuk Kolese Katholik itu tiap hari menyatroni rumah saya. Mereka sering bolos dan memenuhi sesaki rumah (termasuk kamar saya), sedangkan saya sendiri rajin berangkat sekolah dengan motivasi bertemu teman-teman dan menunggu bel pulang berdentang. Adalah hal biasa bila pulang sekolah saya mendapati cowok-cowok gondrong kumal itu –termasuk Herdie- bergeletakan seantero rumah bagai sampah masyarakat, atau membuat kamar saya jadi baunya minta ampun.

Sutralah. Singkatnya, hampir 20 tahun kemudian saya memasuki fase paling pahit dalam hidup, dan Herdie mendadak muncul. Belakangan ia tahu saya gemar menulis, dan membuatkan blog berbayar ini. Ia juga memberi saya banyak dukungan, motivasi, dan semangat hidup, padahal kondisinya juga lagi susah. Mengenai ini, ia mengatakan hal yang membuat saya terharu. Jaman SMA dan sering bolos di rumah saya, beberapa kali malam Minggu saya dan Ibu mendapati Herdie tetap nongkrong di rumah sementara yang lainnya sudah pada kabur. Siap-siap malam Mingguan, termasuk saya. Kami heran kenapa dia tidak siap-siap, dan dia bilang nggak punya duit sepeserpun, jadi mendingan ngadem di kamar Si May aja. Lalu dia tidur, dan saya pikir cerita berakhir sampai di sini. Ternyata waktu bangun, dia menemukan di dompetnya sudah ada sepuluh ribu perak. (jaman dulu duit segitu gede banget, dan seingat saya cukup buat nonton dua orang lalu pulangnya makan di restoran fastfood). Herdie bilang pelakunya kalau bukan saya ya pasti Ibu, karena hanya kami berdualah yang tahu bahwa dia bokek total. Itulah salah satu hal yang membuatnya sangat menyayangi saya dan Ibu, dan terus mengenangnya hingga detik ini. Padahal suwer, saya benar-benar tetap tidak ingat pernah melakukan hal itu, tak peduli sekeras apapun usaha Herdie untuk mengingatkan saya. Dan ia merasa sangat bahagia karena akhirnya bisa membalas kebaikan yang dulu pernah saya lakukan padanya. Saya sampai berkaca-kaca, tidak percaya Herdie begitu baik sampai mengingat hal-hal semacam itu; hal-hal yang saya abaikan begitu saja. Hal yang menyebalkan darinya adalah kalau ngomong nggak jelas. Jadi kalau ngobrol lewat telepon, saya terus-menerus berseru,”Haaa? Apa? Ngomong apa? Ulangin!” Kesannya kan saya budheg banget.
Catatan: Mamad, Gembul, dan Herdie ini adalah cowok-cowok yang sama sekali enggak lucu (yang biasanya langsung saya coret dari daftar teman –apalagi jadi sahabat. Mimpi!- karena saya paling malas berdekatan dengan orang yang tidak humoris. Namun kekurangan yang sangat penting itu dihapus oleh segala kelebihan mereka yang jauh lebih penting.

4.      Septi (saya tidak pernah tahu nama lengkapnya J), teman sekelas jaman SMA yang psikolog atau apalah gitu dan punya sekolah, tapi kalau sedang ada masalah ya curhatnya ke ‘guru spiritual’ gratisan yang selalu berhasil memberi solusi terbaik: Yuanita Maya :). Septi adalah pendengar yang sangat baik (mungkin karena sudah terbiasa memberikan terapi pada orang-orang bermasalah). Ia sangat menyayangi Kinasih serta memenuhi semua keinginannya, sehingga Kinasih memanggilnya Mami. Ia selalu mendorong saya untuk melakukan hal-hal yang berguna bagi orang lain, walaupun kemungkinan ia tidak menyadarinya. Ia adalah orang yang selalu ingin memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya, dan untuk ini saya sangat mengaguminya. Hal berikut yang membuat saya mengaguminya adalah karena ia dan suaminya pacaran sejak SMA (jaman dulu saya pernah naksir suaminya yang juga teman sekelas :)), dan mereka sangat kompak sampai hari ini. Plus ia berhasil mendidik anak-anaknya dengan sangat baik meskipun sibuk luar biasa.

Namun ada dua hal yang menyebalkan darinya. Yang pertama, kalau saya sedang under pressure, dia justru memberi saran psikologis yang menyesatkan. Contohnya saat saya stress berat gara-gara ditinggal Inoy si anjing angkat sampai-sampai mengalami delusi (lalu parno sendiri karena saya pikir saya sudah gila), dengan cueknya Septi bilang gini, “Yaaaah, anggap saja dirimu adalah anak indigo.” DHANG! Kelas kambing banget nggak, sih?! Saya ngamuk-ngamuk mendengar solusi yang melecehkan itu dan dia malah cekikikan. Akhirnya kami cekikikan berdua, yang kemudian lumayan meredakan stress saya. Well, paling tidak mission accomplished :). Hal kedua yang menyebalkan darinya adalah: dia tidak bakal menelepon atau sms duluan, kecuali kalau BENAR-BENAR perlu. Sialan. Tapi paling tidak dia menganggap saya soulmate, jadi cukuplah itu menghibur hati yang terluka atas kelakukannya yang sok Y.

5.      Siti ‘Ambon Centeng’ Amanah, yang seperti Septi juga merupakan teman sekelas waktu SMA, terpisah selama bertahun-tahun, dan kembali dekat belakangan tahun ini. Ia benar-benar sosok kekar ber-aura centeng asal Ambon nan berhati keibuan (kesan itu sekarang sudah jauh berkurang, karena belakangan tahun ini ia selalu memakai busana muslimah yang rapat, termasuk memakai jilbab untuk menutupi rambutnya yang MW –Mak Whug a.k.a ngembang banget :)). Preman yang satu ini baiknya luar biasa. Ketulusannya sering membuat saya merasa sebagai seorang pecundang. Yang membuat saya kagum, ia mengingat semua kemurahan hati yang saya lakukan padanya belasan tahun lalu, PADAHAL SAYA SAMA SEKALI TIDAK MERASA MELAKUKANNYA, APALAGI MENGINGATNYA. Ia selalu kelimpungan setiap kali saya mendapat kesulitan, dan hanya bisa tenang kalau sudah berhasil membantu saya. Menghadapi kebiasaannya ini, saya (yang tak tahu terima kasih) dan Septi ngerasanin sambil cekikikan, intinya: Lha wong yang kena saja masalah biasa-biasa aja, kenapa dia yang petakilan, ya? :).

Walaupun anaknya empat berurutan bagai penghuni panti asuhan (saya dan Septi tak pernah berhasil mengingat nama anak-anak itu), tapi dia sangat memerhatikan Kinasih. Perhatian itu membuat si kecil lebih suka memanggilnya Umi A’am ketimbang Tante Ambon seperti yang saya dan Septi ajarkan. Ia juga orang dengan semangat belajar yang tinggi, sampai kami sering meledeknya, “Hobi kok kuliah.” Dengan empat anak laki-laki yang masih pada precil (paling tua kalau tak salah kelas II SD dan yang bungsu balita), ia punya dua gelar sarjana, dan belum lama ini menyelesaikan studi notariat atau apalah. Benar-benar semangat yang membara, terlebih secara finansial ia masih jauh dari ukuran kaya.

Ambon adalah orang yang sangat setia kawan, selalu membantu saya mengurus ini itu, dan rajin menemani saya sana-ke mari di sela-sela pekerjaan, kesibukan kuliah, dan kerepotan mengurus empat cindhil. Dalam masa-masa sulit ketika itu, ia berjuang keras untuk membuat saya merasa terhibur. Ia juga sangat setia mendengar setiap keluh kesah saya, walaupun tanggapannya lebih sering enggak nyambung dan malah bikin emosi :).
Yang menyebalkan darinya adalah ia suka ngerasanin kekurangan teman lain, dan sering saya bentak-bentak karena ulahnya ini. Kalau saya marah-marahi begini biasanya dia hanya mengibaskan tangan sambil berkata,”Engko sik, to! (‘Ntar dulu, dong!)”, lalu lanjut ngerasanin. Hal menyebalkan kedua adalah kelakuannya yang sering memancing emosi dengan cara-cara yang sama sekali tak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Tapi setiap kali kami hardik dan damprati, Ambon hanya cekikikan dengan ekspresi yang membuat kami justru tambah emosi. Ia benar-benar personifikasi Dr. Jeckyl and Mrs. Hyde; di satu sisi sangat baik dan di sisi lain memancing orang menjadi ndolimin :). Oh ya, jam karetnya KW1. Kalau saya, Septi, dan anggota genk ‘The Mbecak Sisters’ lainnya bikin janji misalnya jam lima, kami akan bilang bahwa kencan kami adalah jam 3!

6.      Feni Setiawati a.k.a Meme a.k.a Cina 5 watt (karena Cina tapi item banget, sampai kalau kami jalan SELALU saya yang dikira Cina :)).
Kami bertemu di tempat kos jaman kuliah, dan sejak itulah kami bersahabat erat. Dari dulu, entah kenapa, kami sering marahan bagai anak kecil baik kala berdekatan maupun berjauhan. Bedanya saya kalau marah mendiamkan, sedangkan dia membentak-bentak (kalau sedang face to face kadang sambil kakinya dihentak-hentak. Kalau dia sudah histeris begitu, biasanya saya pura-pura terpekur dan memasang mimik terpukul, tapi sambil cekikikan dalam hati dan membatin,”Kok malah kayak nge-rap sambil break dance, ya?” :)). Saya sendiri pernah begitu marah lalu mendiamkannya sampai beberapa tahun. Sebetulnya tidak berniat mendiamkan selama itu, sih, tapi kemudian sibuk sendiri terus kelupaan sampai sekitar 3 tahunan. Serius.

Kami dekat dengan keluarga masing-masing, karena sejak dulu sering menginap di rumah satu sama lain. Saudara-saudara perempuannya (Yuli, Linda, dan Vera) juga sangat welcome pada saya dan Kinasihpun dekat dengan keponakan-keponakannya. Maminya baik hati dan jago masak. Mami juga cuek walaupun tiap kali saya tidur di sana, Meme dan saya selalu cekakakan dan bertingkah bagai orang gila dari pagi sampai malam sejak hari kedatangan saya, sampai saya melambaikan tangan dari dalam bis. Beliau bahkan tidak merasa terganggu saat nonton sinetron kesayangannya, saya dan Meme ngobrol dengan suara menggelegar di ruang yang sama, lalu ngakak-ngakak sampai bergulingan di lantai. Paling-paling Mami hanya menyela,”Dari tadi ketawa terus apa nggak lemes? Makan dulu sana.” Kamipun break makan sesaat, lalu membuat keributan lagi sampai larut. Kadang-kadang kami mengisi waktu melakukan kegiatan tak bermutu seperti mencoba berbagai kostum ajaib lalu joged-joged dan foto-fotoan atau hal-hal memalukan lain, padahal sudah sama-sama tuwir. Mami tetap cuek dan stay tune dengan sinetronnya tanpa sedikitpun usaha untuk menegur kelakuan kami. Pernah kami telpon-telponan sambil cekikikan padahal ada dalam satu kamar, sehingga Abel, anak sulung saya, berkomentar singkat,”Idiotis.” Pokoknya asal bersama Meme bahkan hingga kini, level idiot saya melonjak melewati ambang batas, sehingga kalau kepala saya dipasangin mesin deteksi ketololan, pasti ada suara mbak-mbak otomat berkata,”Over capacity! Warning! Over capacity! Last warning! Please rebooth!”

Melawan pendapat umum tentang karakter pelit etnis Tionghoa, Meme adalah Cina yang sangat murah hati dan itu membuat saya sangat kagum. Kalau melihat kelakuan sesama etnis yang pelit, ia selalu mengumpat dengan emosi,”Cina edan, pelite ora karuan (pelitnya enggak karuan)!” Sayapun menghardik,”Kaya dapurmu apik-apik.a dhewe! Lha memange kowe dudu Cina edan? (kaya mukamu yang paling bagus! Lha emangnya kamu bukan Cina edan?).” Masih dengan kesal ia berkelit,”Pancen aku Cina edan, ning kan ora pelit! (memang aku Cina edan, tapi kan enggak pelit!)” :). Ia bahkan pernah berantem dengan Maminya sambil mengatai,”Mami ki wis Cina, pelit sisan! (Mami tu udah Cina, pelit lagi!)”. Mami menyahut tak kalah sengit,”Cina ora pelit ki ya dudu Cina! (Cina enggak pelit itu ya bukan Cina!)” :).

Meme adalah orang yang sangat sederhana walaupun Maminya boleh dibilang berada. Ia menjahit baju-bajunya sendiri, tidak neka-neka, gemar sekali memberi pertolongan pada siapapun, dan sama sekali tak mengagungkan kecantikan ragawi (padahal saya dulu sangat iri pada kulitnya yang gelap, tubuh pipih tinggi, dan wajah manis dengan mata bagai kucing. Benar-benar cantik dan eksotis). Ia sangat setia kawan sekaligus maha bodoh dalam urusan rumah tangga (sekali-kalinya setrika, ia membuat hati Linda terluka. Waktu itu ceritanya Linda buru-buru sekali ke sekolah padahal seragam masih kusut. Meme menawarkan diri menyetrikakan seragam itu, yang ternyata malah berakhir BOLONG DENGAN CETAKAN SETRIKAAN). Hal-hal itulah yang menyatukan kami dalam jalur yang sama (selain kemampuan menjahit, tentu saja. Boro-boro bikin baju, saya menjahit bet lokasi seragam anak saja hasilnya lengan baju malah nempel jadi satu :)). Karena berbagai kesamaan itulah kami masih langgeng sampai sekarang biarpun sering sekali marahan (oh ya, kalau saya sedang marah dan mendiamkan, Meme sangat tegar dalam usahanya membujuk. Ia tetap setia mengirim sms, bahkan berkata bahwa dirinya berlinang air mata saat melihat foto saya yang sedang pakai wig kribo. Saat membaca sms itu sebetulnya saya juga berlinang air mata karena rindu dan sesal, tapi tetap jual mahal :)).

Ia juga selalu tertawa dan memancing tawa. Di kalangan keluarga dan teman-teman dekat, saya dikenal sebagai joker karena kebiasaan ngebodor tak kenal waktu dan tempat (apalagi kalau pakai Bahasa Jawa yang membuat urat malu saya selalu putus, bahkan hingga beradegan komik slapstick di tempat umum). Tapi sesungguhnya saya sama sekali tidak ada seujung kuku hitam dibandingkan ke-koplak-an Meme. Dia adalah orang paling sinting yang pernah saya temui seumur hidup. Entah berapa kali ia membuat saya terkencing-kencing di celana, baik di ruang privat maupun di tempat umum, gara-gara kelakuannya yang seratus persen sarap. Kami punya kebiasaan sms-an berbentuk pantun atau minimal persamaan bunyi, dan kalau main pantun biasanya temanya mengandung unsur SARA J. Misalnya suatu pagi saya mengirimnya pantun:
Cina kere dodolan tempe, adol awit isuk ora payu-payu (Cina miskin jualan tempe, jualan sejak pagi nggak laku-laku) J.
Selamat pagi, Me. Semoga hari ini kau sudah siap berperang pantun denganku.”
Atau begini:
Cina ora sopan lungguh pekoko’an. Dilokke uwong Cinane malah ngguyu (Cina enggak sopan duduk pekangkangan. Ditegur orang Si Cina malah cekakakan) J.
Aku wis ngantuk arep mapan. Tapi sak durunge turu aku arep ndongakke awakmu (aku sudah ngantuk dan tubuh hendak kubaringkan. Tapi sebelum tidur aku akan mendoakan dirimu).

Dia begitu terharu oleh pantun tersebut, sampai-sampai tidak sanggup membalasnya malam itu juga J. Begitu dekatnya kami sampai hal-hal seperti itu (yang bagi sebagian orang bisa dijadikan alasan untuk bakar-bakaran bahkan bunuh-bunuhan) hanya kami jadikan bahan becandaan. Suatu hari ia pernah sms saya gini,”Aku begitu takut kau tinggal mati! Sebab kalau kau pergi, siapa yang akan jadi partnerku dalam sms-an pakai persamaan bunyi?” J. Butuh buku tersendiri untuk menceritakan kelakuan gilanya dan kelakuan gila kami berdua sejak jaman kuliah sampai sekarang saya sudah punya cucu. Dan kalau saya terbitkan (termasuk kumpulan pantun dan sms kami yang sebagian masih saya simpan), buku itu pasti bakalan membuat Radika Ditya langsung terdepak dari pasaran J.

Meme adalah orang yang secara khusus ditugaskan Tuhan untuk menaburkan bubuk tawa dan kebahagiaan di atas kepala saya, dan saya selalu mensyukuri hari dimana saya memutuskan untuk menempati kos yang sama dengannya. Saya akan selalu mencintainya tanpa batas, walaupun ia punya dua kebiasaan yang LUAR BIASA MENJENGKELKAN:
1.      Kalau melakukan apapun lamanya minta ampun. Saat menunggunya mencuci piring atau apa, saya sering diam-diam berkhayal menendang bokongnya, menggunduli rambutnya, atau melakukan berbagai tindak kriminalitas lainnya. Ia tentu saja tak pernah menyadari ekspresi saya yang penuh kebencian dan haus darah, karena sibuk berceloteh sambil menyabuni piring yang itu-itu saja sejak 6-9 menit terakhir.
2.      Tiap kali diajak ngobrol hal yang serius –misalnya masalah bangsa dan negara- PASTI ketiduran sambil duduk dengan mulut menganga.

Dan setelah saya pikirkan lebih lanjut, ternyata –selain Meme- nama-nama yang saya sebut di atas itu adalah teman-teman baik yang lama menghilang bahkan sampai belasan tahun, kemudian mendadak pada muncul begitu saja saat saya berada pada titik yang paling nadir dalam hidup. Dan mereka masing-masing memenuhi apa yang saya butuhkan dalam bentuk yang berbeda-beda. Kelebihan yang satu menutupi kekurangan yang lain, sehingga semua yang saya perlukan pun tercukupi. Luar biasa Tuhan! Ia benar-benar tahu apa yang saya butuhkan, dan memberikannya pada waktu yang sangat tepat. Sekarang, tiap kali menengok kembali ke masa-masa itu, saya mengerti bahwa ketika hidup seakan tak ada harapan sekalipun, Tuhan ternyata diam-diam tengah bekerja. Dan Ia bekerja dengan seribu satu cara untuk menopang tangan kita, hingga sekalipun kita jatuh tetapi tetap tak akan tergeletak.

Saya menangis hari demi hari ketika itu, mengeluh mengapa Ia tak kunjung mengulurkan tangan dan membantu. Saya meratap dalam doa yang menyayat-nyayat, memohon Ia melakukan keajaiban yang dahsyat. Namun ternyata keajaiban itu muncul dengan cara yang sangat sederhana: teman-teman saya. Maka siapapun anda yang tengah berada dalam himpitan masalah, merataplah. Meratap dan terus berharaplah, karena Ia diam-diam tengah menyiapkan keajaiban untuk anda yang tengah lelah. Saya tahu pasti, karena itu semua pernah saya alami. Tuhan memberkati! (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).

Mama Minta Pulsa? Tak Usah, Ya!

Pada awal ‘90-an ketika membawa pager saja sudah dianggap tajir, maka bukan main dampak sosial dan psikologis yang didapat oleh seseorang ketika ia membawa telepon genggam. Sekalipun sesungguhnya sulit digenggam karena ukurannya lebih mirip radio dua band, namun harga yang mencapai belasan juta (terlebih mengingat rendahnya nilai dolar saat itu) membuat pemilik mobile phone era tersebut merasa sangat sah menganggap dirinya ‘kaum terpilih’. Namun jaman ternyata berpihak kepada ‘kaum tak terpilih’, karena waktu berjalan hanya untuk membuktikan bahwa telepon genggam dapat dimiliki oleh siapapun termasuk para penerima BLSM. Telepon genggam juga bukan lagi milik eksklusif kaum menengah perkotaan, sebab warga kampung urban, suburban, dan rural pula telah percaya bahwa hand phone adalah bagian dari kebutuhan dan gaya hidup. Demikian merakyatnya telepon genggam di Indonesia hingga negara ini ditetapkan sebagai basis pengguna terbesar di Asia. Meskipun sesungguhnya Cina dengan penduduk lima kali lipat dari Indonesia lebih pantas mendapat predikat ini, namun fanatisme orang Indonesia terhadap telepon genggam membuat fakta berkata lain.

Adiksi orang Indonesia terhadap telepon genggam memang tak terbantahkan. Mencari anak SD di perkotaan yang tak memiliki HP mungkin sama sulitnya dengan mencari tempe saat harga kedelai import melonjak tinggi. Lelang HP di mall-mall selalu berhasil menghasilkan antrian yang melingkar bagai ular naga nan panjangnya bukan kepalang. Di masa mendatang nanti, orang bisa jadi berganti handphone lebih cepat daripada Lucky Luke menembak bayangannya sendiri. Sebagai akibatnya status pulsapun melonjak drastis menjadi  kebutuhan primer, dimana perusahaan operator adalah pihak yang paling diuntungkan olehnya. Pada periode 2011-2013, rata-rata pendapatan per pengguna (Average Revenue Per Unit/ARPU layanan data di Indonesia meningkat dari Rp.32 ribu menjadi Rp.34 ribu/ bulan. Dan secara umum, pendapatan layanan data operator telekomunikasi pada tahun 2012 meningkat 96% menjadi 2,3 miliar US dolar dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan menurut data Finance Today, pendapatan operator telekomunikasi pada tahun ini akan meningkat 59% menjadi 3,6 miliar US dolar.

Penghasilan yang sungguh fantastis, hingga sama sekali tak mengada-ada bila operator telekomunikasi dituntut untuk lebih serius dalam menunaikan CSR (Company Social Responsibility). Logikanya sederhana: apa yang telah didapat dari masyarakat mustinya dikembalikan kepada masyarakat, terlebih ketika hal itu mencapai bilangan yang spektakuler. Secara positif CSR telah ditunjukkan oleh PT XL Axiata Tbk, yang sejak tahun 2006 telah memulai program ‘Indonesia Berprestasi’. Dari program ini telah bergulir bantuan komputer dan koneksi internet dengan target 60 sekolah dan 300 murid per tahunnya. Program ini dilengkapi dengan training Bahasa Inggris dan penggunaan internet yang baik, bantuan alat multiplexer transmission untuk 14 universitas di Indonesia, insentif pendidikan bagi murid berprestrasi yang kurang mampu, pembangunan sekolah, taman membaca dan perpustakaan, perpustakaan keliling, serta taman pintar telekomunikasi di Yogyakarta.

Sungguh menginspirasi! Namun tetap itu bukan alasan untuk membuat siapapun berpuas diri. Taburkan sejumput inspirasi, maka program yang selama ini berkutat pada pendidikan an sich  tersebut dapat melebarkan sayapnya lebih lebar pada pencerdasan umum dengan dampak peningkatan kualitas bangsa. Dan tarif komunikasi yang kian murah dari waktu ke waktu adalah jembatan besar bagi tujuan ini. Kalau dulu kita harus menghamburkan sekian banyak uang untuk membeli berbagai macam buku untuk menambah wawasan, kini dengan bekal pulsa tipis atau beberapa ribu rupiah modal ke warnet kita sudah bisa mendapatkan informasi apapun yang kita butuhkan. Namun seperti sekeping koin yang tak pernah memiliki hanya satu sisi, demikian pula dengan teknologi komunikasi. Ada sisi kelam dalam hal ini, di mana tarif komunikasi termasuk internet murah digunakan untuk mengunjungi situs pornografi dan berbagai situs sampah lainnya. Tarif komunikasi yang sangat bersahabat ini pula yang kemudian ditangkap oleh sebagian pihak untuk melakukan tindakan penipuan, diantaranya lewat sms ‘Mama minta pulsa’. ‘Mama minta pulsa’ memang belakangan sudah dijadikan bahan lelucon. Namun bagi kelompok yang masih terpasung dalam keluguan logika, ‘Mama minta pulsa’ tetap punya peluang besar untuk membuat mereka kehilangan sedikitnya dua puluh ribu rupiah. Jumlah itu meningkat seiring dengan kebutuhan ‘Mama’, apakah ia sedang di kantor polisi atau di rumah sakit. Belum terhitung rasa panik karena ‘Mama’ mendapat celaka.

Sungguh menyedihkan nasib kaum yang belum tercerdaskan tersebut. Secara umum, tingkat kecerdasan seseorang dinilai dari latar belakang akademis serta banyaknya titel yang ia miliki. Namun tentunya itu adalah logika sederhana yang cenderung naïf, karena fakta di lapangan menyatakan bahwa banyak orang berhasil dan tokoh-tokoh besar berkelas internasional sekalipun yang hanya memiliki ijazah SMA. Bill Gates, Bunda Theresa, Affandi, Bob Sadino, dan Thomas Alva Edison adalah segelintir dari sekian banyak manusia besar tanpa gelar sarjana. Di luar itu ada tak terhitung individu yang menikmati kehidupan mapan dan atau bermanfaat bagi umat tanpa bekal ijazah akademis, karena mereka berhasil mengasah kecerdasan di kuadran luar sekolah. Tetapi tidak semua orang seberuntung itu. Dan inilah yang harus ditangkap oleh perusahaan operator komunikasi untuk menunaikan CSR dalam kerangka pencerdasan masyarakat, sehingga demikian kualitas hidup rakyat Indonesia secara umum bisa meningkat. Ada sedikitnya tiga variabel normatif yang wajib dimiliki oleh seseorang untuk dikatakan memiliki hidup yang berkualitas, yakni derajat pendidikan dan pengetahuan, kesehatan pribadi, serta tingkat ekonomi yang layak.  Ada dua perkara dalam hal yang bisa dimanfaatkan, yakni tarif murah dan potensi kaum perempuan.

Mengapa perempuan?
Karena perempuan adalah sosok yang berperan sangat penting dalam tinggi rendahnya kualitas seorang anak, sejak ia kecil hingga dewasa. Peran sentral perempuan dalam diri seorang manusia itulah yang melahirkan adagium ‘perempuan adalah tiang kehidupan’. Namun bagaimana seorang perempuan bisa tiang kehidupan yang menghasilkan keluarga dan keturunan yang berkualitas, bila dirinya sendiri tidak lebih daripada ‘tiang yang rapuh’? Sekalipun belum pernah diteliti secara ilmiah, namun dalam kehidupan sehari-hari kita bisa dengan mudah melihat segerombolan perempuan berkumpul untuk membicarakan hal-hal yang tidak perlu. Ini bisa meningkat hingga ke taraf menyebar gosip, yang berujung pada pendzoliman terhadap pihak lain. Pada babak lain, adegan dua perempuan saling cakar dan menjambak rambut memerebutkan laki-laki kiranya bukanlah kasus yang spektakuler
.
Tetapi siapakah sesungguhnya kita hingga merasa berhak menghakimi mereka? Sebab kerapkali para perempuan itu bahkan tidak tahu apa yang telah mereka perbuat. Struktur sosial dan struktural yang menasbihkan laki-laki sebagai tiang ekonomi membuat perempuan tak terhindarkan lagi dipaksa masuk ke ruang sub ordinat, salah satunya dengan implikasi pada terlewatinya perempuan dalam pembagian potongan kue pendidikan. Ini berlaku terutama di negara dunia ketiga dan atau berkembang, termasuk Indonesia. Inilah perkara besar yang membuat perempuan dinobatkan sebagai warga kelas dua, sehingga secara umum maupun profesional nilainya dianggap lebih rendah daripada laki-laki. Andaipun mendapat kue pendidikan, pada kalangan akar rumput kerapkali itu hanya berupa remah-remahnya saja. “Kau hanya akan berakhir di kasur dan dapur” adalah lagu tema yang memaksa cita-cita banyak perempuan terkubur, sedangkan sesungguhnya wilayah kasur dan dapur itu adalah cikal-bakal apakah seorang anak akan bertumbuh menjadi manusia dewasa yang berkualitas atau tidak. Cerita klasik berakhir, dan tinggallah para perempuan meneguk ludah menatap laki-laki mengunyah potongan kue pendidikan yang terbesar. Sedangkan hiburan termewah bagi para perempuan malang itu hanyalah sinetron-sinetron stripping dengan muatan ibu mertua yang dzolim, anak-anak rebutan warisan, tetangga yang saling sirik satu sama lain, arwah-arwah penasaran serta segala setan gentayangan, dan sebagainya, yang lama-kelamaan mereka percaya sebagai sebuah kemutlakan. Dengan kisah yang berawal dan berakhir sedih seperti ini, masih bisakah kita menudingkan jari?

Namun setidaknya di hulu sana masih ada sekelip cahaya, karena bagaimanapun rendahnya posisi seorang perempuan di komunitasnya, ia tetap memiliki dua kekuatan natural yang didapatkannya secara cuma-cuma yakni sifat nurturing (memelihara/mengasuh) dan berkomunikasi. Karakter nurturing yang bersifat given ini membuat perempuan secara alamiah akan merasa bertanggung jawab pada keluarga dan orang-orang yang dikasihinya, sejak terbentuk hingga waktunya kembali ke bumi. Kecenderungan merawat dan mengasuh ini memberi dampak devosi natural, dengan kecenderungan memberikan yang terbaik pada orang-orang terdekatnya. Dan ini tidak terbatas pada suami dan anak-anak saja, melainkan juga kerabat, tetangga, teman-teman, dan berbagai manusia lain yang dekat di hatinya. Sedangkan dalam hal berkomunikasi, sebuah studi menyatakan bahwa perempuan menghamburkan sedikitnya 25 ribu kata setiap harinya sedangkan laki-laki hanya kurang dari sepertiganya saja. Ini membuktikan bahwa perempuan secara natural memiliki potensi sebagai komunikator yang ulung, selain kebutuhan untuk didengarkan yang lebih tinggi dibandingkan laki-laki.

Perkawinan Kekuatan Perempuan dan Komunikasi Murah
Penggabungan dua kekuatan natural di atas akan menghasilkan kecenderungan perempuan untuk memberikan yang terbaik dan bersifat membangun bagi orang-orang yang dikasihinya. Maka perempuan baik yang telah tercerdaskan maupun belum, adalah materi besar yang bisa digarap oleh perusahaan operator telekomunikasi dengan memanfaatkan tarif murah dalam kerangka CSR. Dan bila kekuatan natural perempuan serta komunikasi murah ini dikawinkan oleh operator, maka kelemahan perempuan secara kultural yang menghambat akses mereka terhadap pendidikan akan dengan mudah dipatahkan. Untuk ini maka kita perlu membaginya dalam empat hal, yakni materi untuk meningkatkan kualitas perempuan, metoda serta penyampaian materi, pihak-pihak yang perlu diajak bekerjasama, serta program lanjutan.

1.    Materi Peningkatan Kualitas Diri
Seperti telah dipaparkan di atas, kecerdasan seseorang tidak semata ditentukan oleh latar belakang pendidikannya saja, selain fakta bahwa tidak semua orang punya kesempatan untuk menempuh pendidikan formal hingga ke jenjang tinggi. Terlebih bila dikaitkan dengan perempuan yang waktunya banyak tersita untuk urusan domestik yang tiada habisnya sejak anak lahir hingga tumbuh besar dan hambatan kultural seperti diuraikan di atas, sehingga kesempatan melanjutkan jenjang pendidikan formal seringkali jauh dari jangkauan. Di sinilah operator dapat memberikan pendidikan informal melalui sms gratis atau paket berlangganan murah berbagai tips, informasi, dan pengetahuan umum. Untuk meningkatkan gairah pelanggan dalam menyebarluaskan informasi, operator perlu memberikan insentif seperti pulsa gratis bila pelanggan mencapai kuota tertentu dalam peran serta membagikan informasi-informasi tersebut. Mengingat teknologi yang terus berkembang, tentunya bukan hal sulit bagi operator untuk memantau aktifitas pengiriman sms para pelanggan. Pantauan juga perlu dilakukan terhadap jenis kelamin pengguna, yang bisa dilakukan dengan cara crosscheck identitas saat otorisasi kartu.


Operator bisa membagi berbagai informasi tersebut dalam paket langganan dengan kategori-kategori berbeda sesuai kebutuhan dan atau minat pelanggan. Kategori pertama misalnya paket informasi gizi dan kesehatan, misalnya manfaat tempe untuk meningkatkan kecerdasan anak serta mencegah berbagai penyakit pada orang dewasa, bahaya penggunaan MSG terlalu banyak serta pengganti penyedap rasa yang alami, tips membedakan gula merah non dan bersulfit serta manfaat gula merah non sulfit, dan sebagainya. Kategori lain adalah paket informasi ekonomi dan usaha, yakni informasi berbagai peluang usaha yang bisa dilakukan di rumah tanpa harus mengabaikan keluarga. Dalam hal ini tips perlu diperluas dengan pembagian khusus mulai dari pilihan usaha, pemahaman pemasaran, peluang dan strategi pemasaran serta penjualan, peningkatan kualitas serta standarisasi produk, manajemen keuangan, dan lain-lain.


Kategori selanjutnya adalah lingkungan hidup seperti isu pemanasan global, perubahan iklim, dan sebagainya. Misalnya, dampak buruk penggunaan tas plastik dan stereofoam untuk selanjutnya ajakan membawa kantung belanjaan sendiri dari rumah, kebiasaan membakar sampah dengan residu yang bersifat racun bagi tanah dan persediaan air tanah, krisis air global yang bisa ditangkal dengan cara menghemat penggunaan air serta menghentikan kebiasaan buruk membiarkan kran menyala saat menyabuni piring, gosok gigi, dan sebagainya, membuat sumur resapan sangat sederhana untuk mencegah banjir sekaligus menyimpan air tanah, serta berbagai isu lingkungan lain. Kategori lain yang menarik adalah paket langganan belajar bahasa asing dengan fasilitas audio, sehingga dengan demikian pelanggan bisa melatih kemampuan conversation tanpa harus berburu bule di pelabuhan atau bandara.  


Masih banyak kategori yang bisa ditawarkan oleh operator, namun ada satu hal dasar yang sangat penting dilakukan oleh pihak operator yakni motivasi kepada pelanggan. Pelanggan perlu diyakinkan bahwa menjadi cerdas dengan terus-menerus meningkatkan pengetahuan dan wawasan, adalah hal terindah yang bisa dihadiahkan oleh seorang perempuan kepada dirinya sendiri. Motivasi selanjutnya adalah bahwa berbagi –termasuk informasi- adalah hal yang sangat mulia, dan peran serta perempuan di sini akan meningkatkan kualitas hidup keluarga secara khusus serta bangsa secara umum. Motivasi ini perlu terus-menerus ditanamkan, dengan keniscayaan bahwa ‘apa yang kita dengar terus-menerus cenderung akan kita percaya’. Penanaman motivasi secara spartan akan membuat pelanggan memercayai kebenarannya secara psikologis. Sebagai akibatnya secara otomatis mereka akan merasa puas pada diri sendiri, ketika sudah melakukan hal-hal positif yang ditanamkan dalam benak mereka tersebut. Dan secara langsung atau tidak, self worth and esteem tersebut akan semakin mendorong mereka untuk kian aktif dalam kegiatan pencerdasan dan peningkatan kualitas hidup tersebut. Pada akhirnya, secara alamiah self worth and esteem akan meningkatkan nilai tawar perempuan itu sendiri. Dan…..voila! Tak peduli apakah seorang perempuan menghabiskan waktunya di balik tembok dapur atau di mana saja, ia akan tetap berakhir sebagai perempuan yang cerdas, berwawasan luas, dan penuh harga diri!


2.    Alat dan Metoda Pengasahan Serta Penyampaiannya.
Yang pertama adalah mengembangkan layanan SMS menjadi langganan paket murah sms berisi berbagai tips dan informasi dari operator seperti telah dijelaskan di atas. Paket murah ini tentunya sudah dilengkapi fasilitas forward sms secara gratis, sehingga pelanggan bisa menyebarluaskannya pada kenalan/sanak keluarganya yang tidak berlangganan paket tersebut. Yang kedua adalah memanfaatkan internet, mengingat kebanyakan telepon genggam sudah dilengkapi dengan fasilitas ini. Operator bisa memanfaatkannya untuk menyebarluaskan link-link yang memuat berbagai informasi positif dengan harga langganan murah. Termasuk di sini adalah langganan tips dan informasi atau grup yang dibentuk oleh operator di Facebook. Yang perlu diedukasikan sejak awal dalam hal ini adalah bahwa internet bisa menjadi pisau bermata dua, yang bila digunakan secara keliru akan menghasilkan dampak negatif dan sebaliknya. Tanpa pengetahuan yang cukup tentang manfaat positif internet, masyarakat bisa menggunakannya untuk hal-hal buruk atau sebaliknya paranoia terhadap internet. Yang ketiga adalah menyediakan fitur-fitur interaktif sehingga pelanggan mendapat keleluasaan untuk bukan hanya menyebar informasi, melainkan juga berdiskusi dengan pelanggan lain sekalipun mereka sebelumnya tidak saling mengenal.


3.    Kerjasama dengan lembaga lain.
Sebagai contoh, dalam sms peningkatan kualitas ekonomi operator dapat bekerjasama dengan pemerintah. Dalam hal ini materi dapat dikerucutkan ke program eknomi kerakyatan seperti KUR, PNPM Mandiri, dan sebagainya. Lembaga-lembaga terkait dalam program ini (dan program-program kesejahteraan rakyat lain) juga perlu dilibatkan, sedikitnya dalam level informasi. Instutisi lain-lain yang perlu digandeng adalah kelompok PKK, Dharma Wanita, LSM Anti Kekerasan Terhadap Anak dan Perempuan, dan lain-lain. Besar pula peluang operator untuk menjadi intermediate bagi pihak perempuan dan lembaga-lembaga tersebut, mengingat kerapkali kaum perempuan terlebih dari kalangan menengah ke bawah sulit untuk mendapatkan akses ke lembaga formal manapun.


4.    Program Lanjutan
Langkah berikut adalah merancang berbagai program, yang setidaknya merupakan penguatan motivasi sekaligus moda publikasi. Yang pertama adalah pembentukan komunitas, yang bila digarap dengan serius akan menjadi movement tersendiri. Dengan peserta para pelanggan paket-paket langganan seperti tersebut di atas, program ini bisa diklasifikasikan menurut letak geografis untuk memermudah acara kopi darat. Program-program pengembangan kualitas diri sendiri, keluarga, dan masyarakat yang terstruktur dan terukur tersebut hendaknya didokumentasikan dengan baik termasuk implikasinya terhadap pelanggan dan komunitas di sekitarnya, misalnya dampak industri rumahan membuat asesori dari bahan bekas terhadap peningkatan ekonomi warga dan perbaikan kesehatan lingkungan. Selanjutnya adalah kompetisi antar komunitas dengan sub-sub tema seperti lingkungan hidup, kesehatan, pendidikan anak, ekonomi kerakyatan, dan sebagainya. Kompetisi bisa digelar antar wilayah hingga level nasional, dengan publikasi proses kompetisi untuk semakin merangsang minat dan kesadaran masyarakat akan program ini serta berbagai manfaatnya. Akan semakin menarik dan memotivasi bila operator juga memberikan penghargaan untuk kategori ‘Pemimpin Komunitas Terbaik’.


Ke depan saat semua program di atas sudah berjalan baik, operator dapat memberikan pendidikan teknologi internet dan multimedia bagi perempuan dan atau ibu rumah tangga terutama kalangan menengah ke bawah. Program yang dapat dikembangkan di sini misalnya perpustakaan on line, diskusi on line, dan kelas on line dengan pendamping yang disediakan oleh operator. Di sini operator kembali dapat bekerja sama dengan Pos Yandu, PKK, dan berbagai organisasi keperempuanan level dasar, dengan kader-kader yang dapat dilatih pula menjadi pendamping. Dengan demikian, kefasihan teknologi bukan hanya hak perempuan kantoran dengan tas kerja yang disesaki berbagai gadget keluaran terbaru atau perempuan rumahan kelas menengah dan menengah ke atas, namun juga milik perempuan ‘akar rumput’ yang selama ini kerap terbelakangkan.

Bila ini semua terwujud, maka sesulit apa kita mendongkrak kualitas masyarakat? Kaum lugu yang selama ini menjadi bulan-bulanan ‘Mama minta pulsa’ akan dengan mudah tertawa dan membalas “Mama minta pulsa? Tak usah, ya!”. Sebab Si Lugu kini telah cerdas. Dan bukan hanya mampu melawan para scammer, ia bahkan telah sanggup mencerdaskan orang-orang disekelilingnya. Dan bukankah ini adalah salah satu komponen utama percepatan peningkatan kualitas kehidupan bangsa? Inilah hal yang tentunya kita rindukan sebagai bangsa secara kolektif, yakni potensi rakyat Indonesia dengan jumlah hampir 250 juta ini tergarap maksimal dan membantu Indonesia untuk selekasnya mendapat gelar Negara maju dan makmur.

Peningkatan kualitas bangsa ini tentunya juga berdampak pada kemajuan ekonomi yang akan meningkatkan daya beli, sehingga dengan demikian secara finansial perusahaan operator akan menuai buah yang telah ditanam dengan susah-payah. Dan di atas segalanya, perusahaan operator komunikasi akan mendapatkan citra baik sebagai perusahaan yang berperan besar dalam kemajuan bangsa dan Negara. Lebih dari itu perusahaan operator berhasil merobohkan tembok terakhir antara ‘kaum terpilih’ dan ‘tidak terpilih’, sebab apakah seseorang memilih telepon genggam model radio dua band, tempat minum anak TK, atau apa saja, ia tetap memiliki hak dan peluang yang sama untuk mencerdaskan dirinya. Citra ini pula yang akan menentukan preferensi masyarakat, sebab siapapun tentu lebih memilih perusahaan yang dikelola untuk kebaikan bersama dan bukan untuk membuncitkan perut para pemegang sahamnya semata. Pada akhirnya, keputusan untuk menjadi operator pilihan bangsa ada di tangan perusahaan telekomunikasi itu sendiri. (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).

Selasa, 14 Mei 2013

Only the Good Die Young……


Saya benar-benar terhenyak mendengar kabar kepergian Ustadz Jeffry Al Buchori. Yang membawa berita duka itu adalah suami saya yang hari itu pulang menjelang subuh. Ia menyampaikannya dengan suara yang terdengar sangat jauh dan ekspresi nyaris hampa. Saya nyaris tak percaya dan kemudian berkata dengan suara gemetar,”Ya Tuhan, padahal orangnya baik sekali. Dan sebagai suami Uje benar-benar patut dijadikan suri tauladan.” Kemudian dengan air mata berlelehan di pipi saya bergumam,”Kenapa musti Uje yang dipanggil pulang? Dia masih muda, teladan yang baik di antara begitu banyak teladan yang buruk, dan sangat humanis. Mengapa bukan mereka yang khotbah-khotbahnya diwarnai ajakan untuk membenci orang lain saja yang mati? Kenapa orang-orang yang berhati buram justru dibiarkan hidup sampai tua?”

Lalu saya terduduk lemas mengenang khotbah-khotbahnya. Meskipun seorang Kristen, tapi saya gemar mendengarkan ceramahnya. Paling tidak beberapa tahun lalu, waktu program beliau  masih ditayangkan secara teratur di sebuah televisi dan otak saya masih cukup mampu untuk mengingat jadwal siaran tersebut. Ini adalah sebuah bentuk penghargaan, mengingat secara pribadi saya cenderung sangat menghindari televisi. Namun tidak bagi Ustadz Jeffry. Dan walau sepatahpun tidak mengerti artinya, namun saya sangat suka bila di sela dakwahnya mendadak Uje melantunkan ayat-ayat Al Qur’an dengan nada-nada tinggi yang merdu. Terdengar sangat liris di telinga dan di hati, dan kalau seorang Muslim, saya pasti melelehkan air mata karena terharu mendengar lantunan ayat yang demikian indah tersebut. Materi dakwahnya, selain segar dan lucu, juga seringkali bersifat universal dan berlaku umum untuk semua orang yang percaya Tuhan, tak peduli agamanya apa.

Selanjutnya saya tahu bahwa jenazah Uje dihantar ke peristirahatan terakhir oleh manusia-manusia yang menyemut karena begitu banyaknya. Dan saya sama sekali tidak heran. Mengapa saya harus terkejut jika seseorang yang begitu banyak menyebarkan kebaikan, pulang dengan diantar oleh begitu banyak manusia? Satu kalipun Uje tidak pernah melontarkan kata-kata yang merendahkan keyakinan orang lain. Uje mengajak para penyembah Allah dan pengikut Nabi Muhammad untuk hidup sesuai tuntunan agama, itu saja. Untuk menunjukkan kebaikan Islam, Uje sama sekali tidak merasa perlu mencari-cari keburukan agama lain. Untuk mengangkat kemuliaan Nabinya, Uje tidak merasakan manfaat menghujat Nabi orang lain. Untuk mengajak umat Islam mencintai Junjungan dan Kitab mereka, Uje tidak melihat pentingnya menghasut mereka untuk membenci Junjungan dan Nabi orang lain.

Diberkatilah para pemimpin umat seperti Ustadz Jeffry. Sebab di luar sana, banyak sekali dari mereka yang menyampaikan pesan dengan cara sebaliknya. Mencari-cari kesalahan Kitab orang lain supaya Kitabnya terlihat benar. Menjelek-jelekkan Nabi orang lain supaya Nabinya kelihatan baik. Menghujat Tuhan orang lain gadungan dan sebagainya supaya Tuhan-Nya kelihatan ajaib dan penuh kuasa. Dalam hal ini saya merasa Uje mengenal betul paradoks ini: ketika kau merendahkan orang lain, maka kau justru merendahkan dirimu sendiri. Ya, sebab sebaik apapun seseorang, ketika ia sudah mengata-ngatai orang lain, maka saat itulah keburukannya terangkat ke permukaan. Sayangnya, banyak sekali pemimpin umat yang buta mengenai paradoks ini. Lebih disayangkan lagi, pemimpin-pemimpin semacam itu tidak hanya mewakili satu agama. Dan sebagai akibatnya, banyak umat yang percaya begitu saja. Usai mendengar khotbah yang diwarnai kebencian dan hujatan pada agama orang lain dengan segala aspeknya, umat tersebut pulang dengan menganggapnya sebagai sebuah keniscayaan. Dan ia akan mulai mengejawantahkan keniscayaan tersebut. Di rumah, di kantor, di jalanan, di jejaring sosial dengan kemampuan kecepatan penyebaran berita dan penggiringan opini yang luar biasa, di manapun ia berada. Itu menjawab pertanyaan mengapa pertikaian antar umat beragama tidak pernah surut, bahkan cenderung kian meresahkan hari demi hari.

Tidak tahu dengan anda, namun saya pribadi berpendapat bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak pemimpin umat seperti Ustadz Jeffry. Ini sekali lagi membuat saya bertanya-tanya, mengapa justru Ustadz macam ini yang lebih dulu dipanggil pulang, di usia yang masih begitu timur? Mengapa mereka yang gemar menebar kebencian justru bertahan hidup sampai uzur? Saya bukan orang bijaksana, apalagi Tuhan yang Maha Kuasa, jadi saya hanya bisa menerka-nerka. Mungkin saja Sang Maha Mengetahui mengerti, bahwa bila diberi umur lebih panjang, bisa jadi Uje berubah pikiran dan dalam tiap khotbahnya mulai menyisipkan unsur-unsur dan ajakan untuk membenci. Ya, bisa jadi, sebab hidup ini siapalah yang bisa mengerti, kecuali Sang Pencipta Hidup sendiri? Bila diberi kesempatan berumur panjang, bisa jadi Uje justru akan mengambil jalan menyimpang. Sebab memertahankan kewarasan di tengah popularitas memang bukan perkara gampang. Dan apa jadinya bila Ustadz yang dicintai dan dipercaya oleh jutaan manusia ini, pada suatu waktu berbalik arah dan mengajak mereka untuk membenci umat lain? Tidakkah para pembenci itu akan bertambah tak terkendali, dan menggoyahkan sendi-sendi bangsa ini? Jadi, cukuplah rentang masa ini bagi Ustadz Jeffry. Biarlah saya, seorang non muslim, mengenangnya dengan segenap rasa hormat dan terima kasih, karena dalam hidupnya yang singkat ini beliau telah mengajarkan pada jutaan umat segala hal yang baik saja. Seorang yang baik adalah ia yang dianggap kekasih oleh Tuhan-nya. Jadi, sekalipun air mata saya bercucuran dan dada saya terasa sakit saat menulis artikel ini, saya tak perlu menyesali kepergiannya yang begitu cepat. Sebab hanya yang terkasih sajalah yang diharapkan lekas pulang…..

Selamat jalan Ustadz Jeffry, Indonesia berterima kasih dan Tuhan memberkati………