Rabu, 14 November 2012

Ada di Sini



Apa kabar, saudara? Ada baik? Syukurlah kalau ada. Baiklah, kali ini tanpa banyak cingcong saya akan bicara soal sebab musabab menghilangnya Pancasila. Mau tak mau saya musti menuding Alm. Presiden Soeharto sebagai aktor utamanya, walaupun sesungguhnya saya tak ingin membicarakan kekurangan orang yang sudah tiada. Namun tak ada pilihan lain, jadi beginilah kisahnya: 1. Bung Karno, Bung Hatta dan rekan-rekan merumuskan Pancasila dan meletakkannya sebagai dasar kita berbangsa. 2. Pasca merdeka suasana negeri masih koyak-moyak baik secara fisik maupun psikis, baik rakyat maupun Negara. Jadi konsentrasi bangsa adalah ke arah bangkitnya Negara dan rakyat dari dampak dan trauma pasca perang dan penjajahan. Urusan penanaman nilai-nilai Pancasila menjadi tidak fokus. 3. Singkat kata Bung Karno dikudeta, dan pada awal-awal pemerintahannya Pak Harto boleh dibilang punya kredibilitas dalam kebijakan-kebijakan yang pro rakyat dan kebangsaan. Namun belakangan, terutama setelah segala konglomerasi itu masuk dalam jubah PMA (titik baliknya adalah ketika anak-anak Pak Harto beranjak dewasa), urusan jadi lain. 4. Dalam pada melanggengkan keperluan politik dan kekuasaan, Pak Harto menjadikan Pancasila sebagai alat. UU anti subversi dan tetek-bengek yang sangat represif itu semuanya didasarkan dari Pancasila (tentu saja diselewengkan kiri-kanan). 5. Hasilnya rakyat tertekan, dan taunya ini semua gara-gara Pancasila. 5. Rakyat jadi jeri terhadap Pancasila. Segala sesuatu yang berbau Pancasila selalu dikait-kaitkan dengan otoritarianisme Soeharto dan kenikmatan hidup para kroninya. Plus organisasi-organisasi kepemudaan yang pakai stempel Pancasila ini atau ini, yang padahal semua orang tahu adalah premanisme yang dilegalkan. 6. Era reformasi, semua yang berbau Soeharto dijauhi dengan rasa takut kalau tak bisa dibilang jijik. Tak ubahnya Pancasila. Singkat kata, Pancasila kena getahnya.

Itulah kenapa kemarin saya bilang Pancasila menghilang selama belakangan tahun ini, ditandai dengan politisi yang tambah tak tahu malu dan rakyat yang makin rusuh. Pula saya bilang tak tahu ke mana hilangnya Pancasila. Oke, sekarang saya ralat, ya, bahwa sebenarnya Pancasila itu ternyata tidak hilang-hilang amat, kok. Karena ternyata banyak dari tokoh yang kita kenal ternyata memiliki Pancasila dan menjalankannya dalam setiap aspek kehidupan mereka. Contohnya Gus Dur, Romo Mangunwijaya, Bubby Chen, Mak Tiwar berkaki pecah dengan kuku kaki pada jepat kebanggaan saya, dan banyak lagi. Dan setelah saya telaah, ternyata ada banyak Pancasilais dalam kehidupan sehari-hari saya, hanya saja saya nggak ngeh. Ada dua orang terdekat dalam kehidupan saya yang sangat Pancasilais. Dan mereka sangaaaat… terkenal, di….kalangan keluarga dan teman-teman terdekat. Hihihi…, ya mesthiiiii.... :). 

Yang pertama adalah bapak saya. Karena saya cenderung terobsesi pada apa yang tidak saya miliki, maka adalah hal wajar bila Bapak yang introvertlah yang lebih berperan sentral dalam kehidupan saya, ketimbang Ibu yang meletup-letup dan sama sekali nggak ada bedanya dengan saya itu. Bapak saya ini orangnya halus minta ampun. Beliau tak pernah memerintah orang lain, bahkan anak-anaknya sendiri. Kalau ingin dibuatkan teh, bukannya berkata, “Tolong buatkan teh untuk Bapak,” beliau hanya bertanya, “Di dapur masih ada teh?”. Di sini beliau telah menerapkan sila ke dua butir ke lima, yakni mengembangkan sikap tidak semena-mena pada orang lain. Dan anak-anaknya langsung paham, lalu baku rampas untuk membuatkan. Waktu saya ceritakan hal itu pada mami mertua saya, beliau sambil senyum-senyum bilang, ”Kalau anak Manado ditanya seperti itu pasti cuma menjawab, “Ada.” Sudah sopan itu, yang lain mungkin malah bilang,”Papak lihat sendiri kwa di dapur.”” Hihihi… Dalam hal ini secara tak langsung Bapak saya juga telah mengajarkan kepekaan dalam diri kami anak-anaknya. Masuklah sila ke dua butir ke enam, sebab bukankah kepekaan termasuk nilai kemanusiaan? Beliau juga mengajarkan kami (serta memberi contoh) untuk bersikap baik pada semua orang tak pandang derajat serta latar belakang sosial, agama, suku bangsa, blablabla.

Maka tak heran beliau sama sekali tak mengernyitkan kening saat suami saya si pria Manado dengan penampilan rocker itu, datang ke rumah untuk pertama kali. Kiranya perlu saya ceritakan latar belakangnya, supaya pembaca tahu kontras antara budi bahasa dan pekerti Bapak dengan betapa ajaibnya laki-laki yang kepadanya saya kemudian ‘terjebak’ tersebut :). Antara saya dengan dia dulu hanya berkomunikasi jarak jauh lewat telpon (saya di Semarang dia kelilingan). Lalu dia ngajak pacaran dan saya tolak dengan alasan, ngapain? Buang waktu. Tak tahunya dia sudah merancang rencana sendiri, dan pas keluarga besarnya ada rencana datang ke Jakarta ia menantang saya: “Berani nggak aku kenalin ke Mami sebagai calon istri? Terus kita langsung tunangan atau kalau perlu nikah sekalian.” Saya kaget. Tapi lantaran tak mau ketahuan maka saya justru balik tantang: “Berani nggak datang ke Bapakku langsung minta aku jadi istri?”. Dia tidak telpon selama tiga hari hari. Ternyata dia cuma berpenampilan gahar tapi bermental seempuk tahu, batin saya waktu itu, lalu saya cuekin. Eh, tak tahunya tiga hari kemudian dia telpon dan bilang: “Bapakmu ada? Satu jam lagi aku sampai di Semarang. Mau minta kamu baik-baik ke Jakarta, kukenalkan dengan Mami dan keluarga besarku.” Saya langsung petakilan gila-gilaan :). Untung waktu itu hari Sabtu dan Bapak sedang di rumah. Waktu saya sampaikan proposal gemblung tersebut, Bapak terlihat syok tapi seperti tersihir dan hanya mengangguk linglung:). Sambil menunggu kedatangan si preman yang ternyata punya nyali tersebut, Bapak mengadakan ‘litsus’ tentang bibit-bebet-bobot dan apakah saya sudah menyelidiki semuanya baik-baik. Saya jawab, “Sudah, Bapak. Tapi keputusan di tangan Bapak. Kalau menurut terawangan Bapak tidak baik, ya tidak usah.” Perlu dicatat bahwa saya adalah anak Jawa yang percaya bahwa orang tua itu ‘ngerti sak durunge winarah’ atau bisa merasakan hal baik atau buruk yang belum terjadi. Maka di sini saya melakukan bagian saya dan sisanya saya percayakan pada mata batin Bapak sebagai orang tua.

Jadi demikianlah, dia datang satu jam kemudian dengan kostum celana belel sobek di beberapa bagian, kaus kutung, rambut gondrong sepunggung bekas gimbal yang mekar bagaikan bunga bangkai di taman (belum terhitung ancaman kutu, hihihi…) dan tangan dari atas sampai bawah full tato. Bapak menerima Si Kumuh dengan sangat baik, dan di akhir pertemuan pertama tersebut beliau berbisik pada saya, “Tidak masalah penampilannya seperti itu. Bapak bisa lihat dia dari keluarga baik-baik, hatinya baik, dan penyayang serta bertanggung jawab pada keluarga.” Malam itu juga saya langsung ‘digondol’ ke Jakarta untuk diperkenalkan pada keluarga besarnya (di sini tampak jelas betapa murahannya saya :)). Masuklah sila ke dua butir satu (mengakui dan memerlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan YME) dan dua (mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban azasi setiap manusia tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dan sebagainya) di sini. Kalau Bapak hanya semata orang Jawa feodal dan blablabla yang tak paham makna Pancasila, mana mungkin beliau bisa menerima semua ini?

Lebih lanjut, sebagai seorang muslim dengan istri Katholik dan tujuh putri (enam Kristen satu Islam), beliau sama sekali tak terobsesi untuk mengislamkan kami (padahal saya yakin, di lubuk hatinya yang paling dalam pastilah beliau ingin kami mengikuti ‘jejaknya’). Butir ke enam (mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing) dan ke tujuh (tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa kepada orang lain) sila pertama selama bertahun-tahun beliau amalkan dengan sempurna. Dialog lintas agama selalu beliau bangun di antara kami orang tua dan anak. Menghadiri ibadah keluarga emak saya (bahkan turut serta dalam kebaktian dan bukan sekedar pas makan-makan) bukan perkara luar biasa. Suatu hari ada kebaktian di rumah Pakdhe dan Bapak ikut-ikut menyanyi, kalau tak salah waktu itu lagunya ‘Allah Peduli’. Usai memuji Tuhan, adik saya berbisik, “Mbak May, pasti Bapak nyanyinya gini ya, “Awloh (lafaz ‘Allah’ untuk kaum muslim) mengerti, Awloh peduli….” Saya tersiksa menahan tawa. Lalu kami taruhan :). Sampai rumah kami tanyakan hal itu pada Bapak. Beliau sama sekali tak tersinggung, hanya cengar-cengir sambil berkata, “Bapak cuma mangap-mangap, wong tidak tahu lagunya.” Hehehe… Saya dan adik sayapun kecewa karena tak ada yang menang taruhan :).  Mungkin beliau tak sadar, tapi yang jelas beliau telah mengamalkan sila pertama butir ke tiga yakni mengembangkan sikap hormat menghormati dan bekerjasama antara pemeluk agama dengan penganut kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan YME dan sila ke empat yaitu membina kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam menyelesaikan masalah antara anak-anaknya beliau bukan hanya memberi nasihat semata, namun juga memakai pendekatan lintas agama. Contohnya, suatu kali terjadilah perselisihan besar antara saya dan seorang kakak. Walaupun sama sekali tak ada tetangga atau orang lain yang tahu, menurut ukuran orang Jawa pertengkaran kami sudah sampai taraf memalukan. Setelah menegur kami berdua, beliau berdialog dengan kami secara terpisah dan memberi wejangan seperti ini kira-kira (dengan nada dan pilihan kata dalam Bahasa Jawa yang sangat halus, dan tak bisa diukur derajatnya dalam bahasa Indonesia), “Kalian ini kan punya junjungan yang sama. Apa menurut kalian Gusti Yesus bangga dengan kelakuan kalian saat ini? Apa ini contoh yang Beliau berikan? Kalau Gusti Yesus ada di sini, di depan Bapak yang muslim dan tidak pernah dicekoki kata kasih ini, pasti Beliau merasa sangat malu.” Seingat saya, belum pernah saya tertunduk begitu dalam dan lama, serta membisu bagai patung merasakan panas yang begitu hebat di wajah karena malu seperti saat itu. Orang lain mungkin menggunakan kesempatan ini untuk menjelek-jelekkan agama dan Junjungan kami, lalu memromosikan agamanya sendiri. Tapi Bapak saya tidak, karena ia memahami betul butir ke tujuh sila pertama Pancasila, yakni tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa kepada orang lain.

Bapak saya pula adalah personifikasi sila ketiga, yang kalau saya jabarkan pasti bakal makan waktu seharian untuk anda membacanya. Untuk sila ke empat, Bapak saya tahu betul membangun dialog dengan anak-anaknya, melibatkan kami sebagai partner yang setara dalam setiap pengambilan keputusan, mendengarkan masukan-masukan dari tiap-tiap anaknya dengan adil SESUAI HIRARKI kami masing-masing dalam keluarga. Beliau tak pernah bersikap bossy, dan menghormati kebebasan kami dalam berbicara dan menentukan pilihan. Di sinilah beliau membangun dan mencontohkan demokrasi yang sama sekali bukan demokrasi a la Amerika. Kami berhak mengeluarkan pendapat dan membuat pilihan, namun bukan berarti kami boleh menyinggung perasaan orang lain dan mengambil keputusan yang merugikan orang lain. Urusan pasangan hidup, Bapak punya demokrasi ‘Bibit-bebet-bobot’, yakni kami bebas memilih pasangan hidup dengan batasan tersebut di atas. Dan kami sama sekali tak keberatan. Apa jadinya kalau Bapak saya membolehkan kami memilih semau-maunya, tanpa melihat latar belakang keluarga calon pasangan kami (bibit), hal-hal baik dan buruk saja yang telah ia lakukan sepanjang hidup (track record/bebet) dan kualitas atau bobot (karakter, kepribadian, mental, semangat hidup, dan lain-lain) calon pasangan kami? Bisa jadi kami anak-anaknya akan menikahi buaya darat pertama yang berhasil mengelabui kami. Sila ke empat sempurna Bapak saya jalankan, dengan landasan kebangsaan pada butir tiga dan empat sila ke tiga Pancasila. Maka sayapun tumbuh besar dengan belajar dan menikmati indahnya demokrasi Indonesia, jenis demokrasi yang tak akan pernah bisa ditandingi Negara adi kuasa yang mengaku paling jago sekalipun dalam urusan demokrasi di dunia.

Nah, cukup sampai sila ke empat dulu, soalnya kalau diteruskan nanti kepanjangan. Lagi pula, untuk urusan sila ke lima Bapak bantuan sparing partnernya, yaitu istrinya yang mana juga emak saya. Maka saya akan menutupnya dengan kalimat: Pancasila ada di sini, di kehidupan saya, seperti yang telah Bapak saya turunkan kepada kami anak-anaknya. Jadi, sampai di sini dulu teman-temaaaan…Merdeka!!!


Jumat, 09 November 2012

Maka Tak Ada Pilihan Lain: Kembali ke Dasar



Memang tidak mudah membayangkan kondisi di Sulawesi Utara seperti saya sebut di posting sebelumnya. Kalau mau menghayati ya musti tinggal selama beberapa waktu di sana. Itupun tidak hanya semata nyangkul nyari duit, pulang istirahat, kalau ada waktu dugem atau cari hiburan lain, nyangkul lagi, istirahat lagi, dst. Musti banyak bergaul dan bertukar pikiran dengan masyarakat sekitar, baik etnis asli atau etnis-etnis pendatang. Dan terutama membuka mata hati serta melihat semua dari perspektif positif. Atau boleh juga kalau datang ke Sulut dengan niatan mau bikin penelitian kualitatif, kemudian hasilnya dibawa ke kampung halaman dan disebarluaskan di sana atau di mana-mana. Tapi inipun ada resikonya, yang pertama adalah butuh waktu dan biaya. Resiko kedua (yang jauh lebih berbahaya), yakni kemungkinan besar si peneliti karena terlalu menghayati penelitian kualitatifnya jadi keenakan, terus ogah pulang. Hehehehe… Mungkin, lho, soalnya hidup di Sulut sini memang bak hidup di dunia utopia dambaan Karl Marx. Bila demikian halnya, lalu bagaimana kerukunan antar etnis bisa ditegakkan seantero Indonesia? Kalau memang seruan saya seperti pada posting sebelum ini terlalu ribet dalam pelaksanaannya, maka tak ada pilihan lain selain kembali ke dasar. Dasar apa? Dasar Negara kita Pancasila. Ya, dasar Negara kita Pancasila, bukan “Dasar lu gila!!!” (hehehe...makin lama saya makin garing, ya?). 

Klise? Terserah. Tapi memang benar, jadi saya tak punya pilihan lain selain mengangkat Pancasila ke permukaan. Lhah, memang selama ini Pancasila ke mana? Emmmm….terus terang saya tidak tahu, wong saya bukan Doraemon yang punya pintu ke mana saja. Namun kenapa Pancasila menghilang kira-kira saya tahu sebabnya, hanya saja saya baru akan mengupasnya di posting mendatang supaya yang ini tidak kepanjangan. Baiklah, saya mulai. Saya tidak tahu apakah saya yang terlalu lebay atau bagaimana, namun dengan segenap keluguan sekaligus rasa percaya diri, saya yakin bahwa ada dua perkara di sini:
1.      Semua permasalahan bangsa hanya bisa ditangkal dengan Pancasila.
2.      Cita-cita menjadikan Indonesia bangsa yang jaya hanya bisa dicapai bila segenap elemen bangsa dengan teguh dan penuh rasa Indonesia, mulai mendasari segenap aspek hidupnya dari Pancasila. 

Oke, sampai di sini saya dihadang resiko protes kaum agamis puritan yang biasanya punya dalih: Pancasila adalah berhala. Baiklah, untuk kaum yang satu ini saya akan ngeles dengan mencantumkan ini: ‘Manusia Indonesia percaya dan taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab’. Terdengar familiar? Atau malah belum pernah dengar sama sekali? Hihihi… Itu tadi butir ke dua sila pertama Pancasila. Jadi mau dibilang berhala bagaimana, sedangkan yang tersirat di situ adalah kembali kepada masing-masing kitab? Baiklah, karena saya menulis kata ‘tersirat’ di sini, maka ada kemungkinan saya akan dihadang oleh mereka yang gemar bilang, “Maka tak mungkin Pancasila ditegakkan, karena sifatnya sangat multi tafsir.” Jadi sebagai prolog, ijinkan saya mengupasnya dengan menggunakan pendekatan logika pikir orang barat yang anti tafsir dan timur yang sarat tafsir. Namun pertama-tama, marilah kita semua berasumsi bahwa dikotomi ini bersifat umum, dus bukan berarti seratus persen.

Oke, langsung saja.
1.      Orang barat atau Indonesia berpikiran barat (secara umum) sulit untuk melihat sesuatu di luar warna hitam putih. Semua musti hitam atau putih. Warna lain membuat mereka bingung. Bagi orang barat 1+1 harus sama dengan dua. Aksen membuat mereka tersesat. Contohnya, sulit bagi mereka untuk memahami mengapa seorang gadis dan pemuda mau-maunya dijodohkan oleh orang tua mereka dengan seseorang yang tidak mereka cintai. Sulit bagi orang barat atau siapapun yang berpikiran barat untuk melihat, bahwa ada banyak jenis cinta di luar cinta eros yang punya pengaruh besar dalam sebuah relasi intim. Bagi mereka cinta adalah jika dua orang (entah beda jenis atau tidak) merasakan unsur kimia yang kuat, yang membuat dada bergetar, jantung menggelenyar, dan sebagainya. Unsur hormonal tersebutlah yang bagi mereka MUSTI menjadi satu-satunya pendorong bagi cinta. Sebaliknya, bagi orang Indonesia (secara umum) adalah bodoh memaksakan kehendak hidup bersama dengan orang yang ia cintai secara eros, jika itu berdampak pada menyakiti hati orang tua dan lain-lainnya. Mudah bagi orang Indonesia untuk berkata, “Orang tua tau yang terbaik untuk anaknya. Jadi pilihan mereka pastilah yang terbaik untukku.” Orang barat boleh berpikir sampai jidat mereka keriput, dan saya tidak akan heran kalau mereka berakhir dengan tetap tidak mengerti. Sekali lagi, karena hanya ada dua warna bagi mereka. Karena 1+1 sama dengan harus dua.

2.      Kecenderungan untuk melihat warna hanya hitam dan putih dan 1+1 harus = 2 punya dampak menutup ruang tafsir dan pemahaman. Ini pula menutup kesempatan bagi ruang pengasahan dan pertumbuhan nurani serta rasa. Tidak heran jika saat membuat hukum atau apapun, mereka sibuk dengan batasan kata. Kalau mau bicara ekonomi, musti ada kata ekonomi. Tidak heran pula ketika orang barat (atau timur berpikiran barat) jadi bingung ketika tidak ada kata ekonomi pada sila ke lima. Kata ‘usaha’ dan ‘kerja keras’ yang dengan SANGAT MUDAH dipahami oleh orang Indonesia sebagai bagian dari makna ekonomi secara umum dan khusus, membuat mereka setengah mati berpikir keras. Jadi saya bisa mengerti mengapa kata ‘hikmat’ yang muncul pada sila ke IV membuat mereka jauh lebih kebingungan. Bagaimana tidak, sedangkan kata ekonomi tidak muncul dalam sila ke V saja membuat mereka hilang arah, padahal itu begitu sederhana. Apalagi memaknai ‘hikmat’ yang begitu luas dan dalam sehingga membutuhkan hati dan nurani yang terasah betul untuk memahami, terlebih melaksanakannya? Hal serupa juga mereka alami ketika menemukan kata gotong royong, ke-Tuhanan yang Maha Esa, azas kekeluargaan dan sebagainya. Jika orang Indonesia hanya butuh beberapa lembar kertas untuk menuliskan UUD ’45 dan Pancasila dan itu sudah cukup untuk membuat paham, mereka mungkin butuh berjilid-jilid buku yang bisa jadi lebih banyak ketimbang ensiklopedia Britania Raya. Lha iya, wong tiap patah kata musti dijelaskan secara rinci dengan segala batasan dan contohnya dalam rangka keterbatasan ruang pikir mereka. Untunglah tak semua dari mereka seperti itu. Karena faktanya, para negarawan kelas internasional telah secara aklamatif menobatkan Pancasila sebagai Super Ideology. Dan justru di sinilah letak ironinya: butuh orang-orang sekaliber negarawan International bagi orang barat untuk memahami Pancasila, yang justru dengan demikian mudahnya dimengerti oleh rakyat Indonesia kelas jelata, paling tidak saya.  

Kepanjangan, ya, prolognya? Ya maaf :). Berangkat dari kalimat terakhir pada paragraf di atas, saya merasa sangat bersyukur dilahirkan menjadi orang Timur, Indonesia pula. Dengan nilai-nilai yang ditanamkan oleh orang tua, keluarga besar, guru-guru di sekolah, dan siapapun orang baik yang mau mengajari saya atau setidaknya kepada siapa saya pernah mencuri ilmu kehidupan, maka sama sekali tak sulit bagi saya untuk memahami Pancasila. Dan setelah prolog yang panjang sekali tadi, saya hendak kembali pada inti pembicaraan saya, bahwa satu-satunya pilihan yang masuk akal untuk menegakkan persatuan Indonesia dengan tak terhitung etnis adalah Pancasila. Dan kalau anda menebak saya akan menggeber sila ke tiga persatuan Indonesia, maka anda salah total :). Pendekatan yang paling bagus untuk ini menurut saya justru sila ke dua. Ini, ya, butir-butirnya:
1.      Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan YME.
2.      Mengakui persamaan derajad, persamaan hak dan kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin, kedudukan sosial, warna kulit, dsb.
3.      Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia.
4.      Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa selira.
5.      Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang lain. 

Coba, deh, tak peduli anda datang dari etnis manapun, entah yang terkenal suaranya seperti angin sepoi-sepoi saking halusnya atau yang bikin orang terkaget-kaget saking kerasnya, tak peduli anda dari etnis yang mengedepankan keterusterangan atau sebaliknya kesantunan sehingga setiap pesan musti dibungkus dengan kata-kata berbunga-bunga putar kiri putar kanan, akankah ada peristiwa baku bacok? Tak peduli dari mana dengan agama apa, kalau paham butir ke-4, manalah mungkin kita pelihara babi lalu dibiarkan berkeliaran di jalan sedangkan tetangga ada yang mengharamkan? Kalau paham butir ke-4 dan 5, manalah mungkin kita naik motor ugal-ugalan di kampung atau pasar dan menggeber knalpotnya bagaikan guntur? Jika kita paham itu semua, manalah mungkin bila kita melakukan kesalahan dan mendapat teguran, bukannya merasa bersalah dan meminta maaf justru balik menyerang, bahkan secara fisik? Dan berbagai hal yang berpotensi merugikan orang lain. 

Butir ke-4 ini juga bisa dijadikan penangkal untuk kesalah pahaman etnis. Misalnya, saya orang Jawa yang terbiasa dengan maksud tersirat dalam sebuah kalimat (bahkan kalau marahpun tidak secara langsung melainkan pakai bahasa sindiran), kalau tak paham benar butir ini akan dengan mudahnya mendakwa orang Minahasa yang terbuka sebagai ‘kasar dan tak kenal didikan’. Sebaliknya, orang Minahasa yang tak paham butir ini bisa pula dengan enteng menuduh orang Jawa ‘munafik dan tukang main tikam dari belakang’. Celaka, bukan? Padahal di Indonesia ini ada ratusan etnis dengan tata dan nilai hidup masing-masing (sebagai perbandingan silakan baca posting ‘Bersatu Tetapi Tetap Beda’). Saya suka frasa yang dipakai di sini: tenggang rasa dan tepa slira. Ini bukan sekedar bisa menerima tetangga kita orang Kristen yang beribadah pakai live musik kerasnya minta ampun rupa di kafe, lama pula. Atau semata menerima tetangga Muslim mengumandangkan adzan atau latihan shalawat Nabi dengan rebana pakai toa pas kita enak-enak tidur, dan sebagainya. Lebih dari itu, frasa ini mengandung kemauan untuk benar-benar mengerti, sungguh-sungguh memahami perbedaan. Dan yang lebih penting, bahwa kebutuhan tiap-tiap orang yang pastinya berbeda satu sama lain. Sampai di sini saya benar-benar tersentuh sekaligus bangga memiliki dasar berbangsa yang demikian indah seperti butir Pancasila yang satu ini. 

Jadi bila rasa ketimuran kita yang Indonesia memang terasah betul, kita tak perlu lagi sibuk bertanya-tanya: ukuran tenggang rasa dan tepa slira bagaimana? Tau dari mana sikap yang ini semena-mena dan sikap yang itu tidak? Blablabla, capek deh. Inilah landasan yang musti dipahami betul dalam urusan persatuan Indonesia, sebelum kita melangkah pada sila ke tiga. Dalam urusan menangkal pertikaian antar etnis, saya rasa butir yang paling tepat adalah yang pertama, yakni ‘mampu menempatkan persatuan, kesatuan, serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan’. Ambil contoh, saya merasa identitas etnis saya didzolimi oleh seseorang dari etnis B. Bila saya tak ambil pusing dengan Indonesia, maka akan mudah bagi saya untuk pulang, mengumpulkan rekan dan handai taulan, lalu menyerbu dzolimin tersebut. Baku hantam, dzolimin yang kaget dan tak siap lalu kalah, apalagi saya main keroyokan. Lalu dia pulang, mengumpulkan sanak saudara lebih banyak lagi, dst, ujung-ujungnya belasan kepala ditebas dan ratusan orang kehilangan tempat tinggal. Belum terhitung trauma psikologis yang pastinya jauh lebih sulit dipulihkan ketimbang rumah yang tinggal puing. Belum lagi cemarnya nama bangsa, karena jaman sekarang apa sih yang nggak dijadikan berita, link, dan sebagainya? Yang terjadi di Lampung lima menit lalu bisa diketahui orang sejagad lima menit sesudahnya.  

Saya jadi ingat Bapak saya. Beliau orang Jawa yang sungguh Jawa, sedangkan saya…. terserah, deh :). Bagaimana menyebut diri Jawa kalau tidak sungkan ngakak di muka umum? Suatu hari Bapak saya menegur sikap buruk ini. Dengan cara sindiran seperti biasa, beliau bilang, “Teman-teman Maya yang banyak orang bule itu waktu pulang cerita ke keluarganya apa, ya?” Melihat saya cuma melongo dengan wajah bodoh karena tak paham sindirannya, Bapak meneruskan, “Mungkin mereka cerita, “Oh, ternyata orang Indonesia urakan-urakan.”” Rambatannya pelan, lho, saudara-saudara, rasa panas di pipi saya :). Jadilah saya insyaf, kalau ngakak ya di rumah saja pas nggak ada orang saja. Tapi lebih seringnya sih lupa. HAHAHAHAHAHA!!!!!! (Husss!!! Maaf lupa, di hadapan saya ada saudara:)). Jadi begitulah, Bapak saya ini gemar sekali menegur dengan bawa-bawa Indonesia untuk  banyak hal. Ujung-ujungnya nasionalisme dan cinta tanah air dan bangsa bisa jadi penangkal untuk melakukan hal-hal buruk. 

Jadi tak perlulah kita semua menjadi orator kawakan macam Bung Karno untuk menumbuhkan rasa tersebut, karena sebagai orang tua yang bahkan paling kalempun kita bisa menanamkannya pada anak-anak kita. Sederhana, ya? Kalau pengin naik level ya kita bisa membawa muatan ini dalam perkumpulan PKK, pengajian, arisan bapak-bapak, rapat kampung, dll. Mau lebih menantang lagi yang buat saja pertemuan khusus warga demi mengupas Pancasila dan aplikasinya. Sekalian mengembalikan fungsi balai desa, to? Bagus lagi kalau wilayah dengan ragam etnis tersebut melakukan kegiatan bersama antar kampung. Seperti Festival Empat Gunung di Merapi itu, lho. Saya bayangkan kalau kejadian itu ada di Lampung sono pasti keren sekali. Setahun sekali warga dan seniman alam tersebut bertemu dalam satu acara besar, kemudian keunggulan seni budaya tiap etnis ditumpahkan dalam satu wadah. Sosialisasi dilakukan jauh hari, dengan demikian dari awal sudah ada komunikasi intens antar warga dan pentolan-pentolannya. Semakin kenal semakin sayang, bukan? Lalu rembugan bareng, menuangkan ide, nyusun acara, cari dana, blablabla. Jadi tambah dekat dan memahami, kan? Pas hari H undang semua orang, mau pejabat kek, wartawan kek, turis, sanak saudara di lain kecamatan, para pedagang asongan terdekat di kota anda, terserah. Lalu bukannya bacok-bacokan, mereka semua bersatu dalam gerak dan isi kepala menampilkan yang terbaik dari etnis mereka. Indahnyaaaaaaa……

Anda yang tinggal di Lampung sana atau mana saja, ingin mencobanya? Maka, Tuhan memberkati rencana dan kerja anda!

Minggu, 04 November 2012

Ebony and Ivory




Konflik horizontal yang melibatkan berbagai etnis vs warga kampung Balinuraga benar-benar membuat hati saya pedih luar biasa. Bukannya hal itu tak pernah terjadi di Indonesia –terlebih pada pasca lengsernya Soeharto. Bukan pula yang paling hebat (bandingkan dengan kasus Sampit), tapi dengan lugu dan percaya diri saya merasa hal serupa tak akan mungkin terjadi lagi. Kalau bentrok ya paling-paling karena urusan tanah atau senggol-senggolan waktu nonton dangdutan. Atau rebutan gadis kembang desa, lalu para pemuda dua kampung berkelahi dan kelewatan sampai akhirnya merugikan warga kedua belah kampung. Namun yang ini lain. Dan sekalipun pemicunya memang jamak, namun bukankah apa saja bisa jadi pemicu kalau memang di bawah dan di dalam sudah rapuh?  

Kiranya saya tak perlu menceritakan ulang kejadian Napal dan yang terakhir melibatkan warga Balinuraga vs etnis-etnis lain tersebut, karena selain saya bukan wartawan, paling-paling anda juga sudah mendengarnya dari berbagai berita. Namun dari berbagai berita dan cerita dari teman-teman yang menjadi saksi mata (atau setidaknya tinggal di dekat situ), mereka mengambil kesimpulan sama: orang Balinuraga memang songongnya minta ampun dan dibenci oleh bukan hanya penduduk asli melainkan juga para pendatang lain. Sebagai tambahan, penduduk kampung Balinuraga bukan berasal dari Bali, melainkan Nusa Penida. Etnis Bali yang tinggal di situ damai dan akur dengan yang lain. Saya jadi ingat peristiwa Sampit. Waktu peristiwa itu berlangsung, info dari kerabat serta teman yang tinggal di sana mengatakan, tidak ada satupun etnis pendatang di sana yang ENGGAK NYUKUR-NYUKURIN orang Madura. Luar biasa, bukan? Padahal perlakuan sadis yang diterima etnis Madura di sana sudah melewati akal dan budi. Tapi waktu saya memrotes, mereka malah lebih nyolot. Begini rata-rata mereka bilang, ”Memang, sih, sadis. Tapi coba kamu ada di sana dan melihat kelakuan orang Madura sehari-hari, pasti pendapatmu sama. Lagipula suku asli yang membantai orang Madura itu kan melakukannya di bawah pengaruh ilmu, jadi nggak sadar. Sebab mereka sesungguhnya orang-orang yang baik hati dan pengampun. Jadi kalau secara sadar biar seribu tahun mereka tak mungkin melakukannya. Dan kalau nunggu seribu tahun, pasti orang Madura yang lebih dulu menghabisi mereka kalau dilihat dari kelakuannya selama ini.” Dan lain-lain. Jadi begitulah, tak peduli sekejam apapun perlakuan yang diterima orang Madura, ujung-ujungnya selalu ada rasionalisasi untuk membela suku asli. Jadi saya tidak bisa bicara apa-apa lagi, karena kesombongan etnis Madura sudah melampaui batas akal dan budi mereka.

Saya jadi teringat sebuah sekeping tanah di Indonesia, tempat sekian banyak etnis menetap di sana dan hidup damai sejahtera dengan penduduk asli. Yup, mana lagi kalau bukan di Sulawesi Utara? Kalau dilihat di peta, Sulut ini memang sekutil sekali. Bahkan boleh dibilang agak ngenes. Bayangkan, sudah kecilnya segitu, jadi bagian dari pulau yang sangat besar pula, jadi tambah kentara kecilnya. Tapi nyatanya etnis pendatang di sana banyak sekali dan hampir semua sudah bikin kampung sendiri. Kampung Cina, Arab, Ternate, Bugis, dll. Hebatnya, Kampung Islam bahkan sudah jadi nama kelurahan secara resmi. Bentrok? Hohoho… mimpilah kau, Bro! Seperti yang saya koarkan di berbagai kesempatan: kalau Sulut rusuh, saya berani bertaruh Indonesia bakal buyar. Suwer. Padahal orang-orang Manado itu sama sekali nggak ada halus-halusnya. Bulan-bulan pertama tinggal di sini saya selalu takut kena serangan jantung karena cara bicara mereka yang meledak-ledak, padahal untuk ukuran orang Jawa saya sudah bisa dibilang kasar. Dalam urusan ngobrol, hanya dibutuhkan MAKSIMAL 3 orang Manado untuk menghasilkan efek riuh-rendah yang cuma bisa diciptakan oleh MINIMAL 10 orang Jawa. Ada kejadian yang (lumayan) lucu, begini: seorang teman suami saya waktu itu sering datang ke rumah karena urusan pekerjaan. Saya tertekan setengah mati setiap dia datang dan memilih mengurung di kamar lalu menutup telinga dengan bantal. Namun lama-lama saya tak tahan dan menggelorakan protes pada bapaknya anak-anak. Saya bilang, ”Sudahlah, lebih baik nggak usah kamu terima dia lagi. Tiap kali datang selalu marah-marah. Memangnya kamu punya hutang belum dibayar?”. Suami saya melongo, terus cekikikan dan berkata, ”Memang begitu bicaranya. Kayak belum tau cara bicara orang Manado saja.” Saya ngeyel, ”Sudah cukup banyak orang Manado yang aku temui, dan nggak gitu-gitu amat. Lagipula apa kamu nggak punya harga diri? Sudah bagus dia diterima sebagai tamu, disuguhin baik-baik, eh, malah membentak-bentak yang punya rumah.” Cekikikan suami saya kian menggila. Lalu katanya, ”Kalau begitu siap-siap saja, karena ada beberapa temanku yang suaranya lebih parah ketimbang dia.” GUBRAKS :).

Plus (menurut pengakuan orang-orang Manado sendiri) mereka itu punya harga diri tinggi dan paling kuat ‘baku lawan jago’. Yang paling sederhana adalah urusan gaya hidup, yang diwakili oleh kredo ‘Biar kalah nasi yang penting menang aksi’. Jadi tak peduli ngana cuma tukang ojek atau supir mikrolet, kalau urusan penampilan ngana tak bakal kalah dengan bos-bos di atas sana. Dan karena mereka adalah orang-orang keras kepala, maka berkelahi baik single maupun rombongan adalah hal jamak bagi mereka, baik dari level anak SD sampai Opa-Opa! Itu sudah saya buktikan, jadi dalam urusan harga diri model apapun saya mendapati bahwa orang-orang Manado itu sama sekali tidak mengada-ada. Jadi misterius bukan, mengapa para pendatang itu hidup damai dengan mereka dan bahkan enggan pulang kampung? Ah, nggak juga, sih. Karena di balik sikap keras dan gengsian itu mereka punya sisi yang sangat unyu dan chibi-chibi burger:). Saya tidak mau ngoceh panjang lebar dan bikin capek jari, kalau pengin lihat penjabaran dan contohnya silakan tengok posting saya berjudul ‘Kamse dan Upay’. Jadi saya perjelas saja di sini: orang Manado bukan sekedar ramah (apalagi ramah model saya yakni rajin menjamah, hihihi…). Lebih dari itu mereka sangat welcome. Terbuka dan mengundang siapapun masuk. Orang yang baru datang akan merasa bahwa mereka sangat diterima. Dan siapa yang tidak merasa nyaman dan tersanjung diperlakukan seperti ini? Tapi jika dikembalikan ke urusan kesombongan etnis seperti saya sebut di awal tulisan di atas, bagamana para pendatang itu bisa melebur masuk, tetap memertahankan identitas budayanya, tanpa keinginan untuk berpongah secara ras dan budaya?

Ehm, begini, saya bukan sosiolog ya, jadi pendapat saya ini kemungkinan besar secara ilmiah tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. Ini hanyalah hasil pengamatan saya selama bergaul dan berbincang dengan manusia-manusia yang saya cintai ini: sikap ramah, terbuka dan kebaikan hati serta harga diri mereka ublek jadi satu, menghasilkan enerji yang membuat orang lain (para pendatang) merasa nyaman SEKALIGUS segan, yang menjadi penangkal bagi para pendatang itu untuk menepuk-nepuk dan membusungkan dada.  Ini dia analisa saya:
1.      Etnis-etnis tersebut hidup mengelompok dan menyelenggarakan warisan adat yang mereka bawa dari tempat masing-masing.
2.      Dalam pada itu mereka hidup membaur dengan penduduk asli.
3.     Mereka melihat penduduk asli menerima semua pendatang dengan baik dan bergaul dengan mereka tanpa pilih kasih dan tak pandang bulu (tak peduli bulunya tebal atau tipis, di luar atau di dalam. Hihihi…becanda saya jelek, ya?.
4.     Dengan contoh perilaku yang diberikan oleh penduduk asli, maka para pendatangpun mengadopsinya dengan pula penghormati dan menerima etnis pendatang lain. Sedangkan yang punya rumah saja menghormati dan menyediakan tempat bagi semua tamu, masak si tamu malah sok-sokan pada tamu yang lain? Begitu kira-kira gampangnya.

Dengan pemahaman yang saling dibagikan satu sama lain baik oleh penduduk asli maupun para pendatang seperti di Sulawesi Utara tersebut di atas, maka secara umum kehidupan yang mereka capai adalah:
1.    Etnis Arab hidup mengelompok dengan segala sorban, hidung mancung bengkok, tatapan mata setajam elang, ana-ente mereka, dan lain-lain. Orang Cina dagang di kompleks pecinan (di sini disebut toko Cina) dengan kelenteng, dupa, dan tetek bengek nilai agama dan budaya mereka sendiri. Dan sebagainya berbagai etnis lain.
2.     Dalam pada itu, mereka membaur dengan manis. Kalau satu etnis menyelenggarakan acara atau hari besar keagamaan, mereka membuka pintu dan berkunjung satu sama lain. Dan lain-lain.
3.    Etnis-etnis yang hidup tersebar dan tak membentuk kelompok etnis sendiri hidup membaur dan mengikuti pola hidup penduduk asli.

Jadi  tak ada etnis yang hidup eksklusif dan mendongakkan kepala tinggi-tinggi serta ditakuti karena sakti mandraguna seperti Balinuraga di Lampung sana. Atau yang ke mana-mana bawa celurit lalu jelalatan dengan tatapan jagoan kampung nan tak terkalahkan seperti etnis yang dibenci di Sampang sana. Soal senjata tajam saya ada cerita yang (kali ini beneran) lucu. Tersebutlah di perumahan tempat saya tinggal seseorang dari Bugis atau mana saya lupa. Sebut saja namanya Oom Rosid. Oom Rosid ini kerjanya berkebun, jadi tiap sore ia pulang ke rumah dengan kaki penuh lumpur sambil memanggul kelewang. Pokoknya penampilannya bikin anak yang paling bengal sekalipun langsung ciut nyalinya. Nah, tiap sore hari, ada saja anak yang keluyuran dan main-main padahal belum mandi. Si Mamak teriak-teriak tak digubris, hingga akhirnya dari jauh tampaklah Oom Rosid berjalan dengan tenang membawa kelewang. Mamak-mamak kontan berseru dari pagar rumah masing-masing, “HE, NAPA OOM ROSID!!!”. Anak-anak langsung menengok dengan leher kaku dan wajah pucat pasi. Oom Rosid (dengan dilandasi simpati pada mamak-mamak) mengayunkan kelewang satu-dua kali, dan anak-anak itupun sontak bertemperasan ke rumah masing-masing sambil menjerit, “Mamaaaak…. Se mandi akang pa kita!!! (Mamaaaak…mandiin aku!!!)”. Sebatas itulah senjata tajam diperlakukan oleh etnis luar yang tinggal di Manado. Hihihi….

Jadi kalau mau damai tak peduli seribu etnis sekalipun ngumpul di satu tempat, maka contohlah apa yang sudah ditunjukkan oleh saudara-saudari kita di Sulawesi Utara sana. Ratusan tahun mereka menerima sekian banyak orang dengan latar belakang budaya, agama, tradisi, dan bahasa berbeda. Nyatanya tak satupun pernah ada perkara pertikaian bahkan saling bunuh oleh karenanya (paling banter karena di bawah pengaruh Cap Tikus, yang belakangan juga sudah berupaya diredam oleh slogan berhenti minum a k a ‘STOP JO BAGATE’, hehehe…). Karakter yang siap menerima, ramah, baik hati, serta gemar menolong dipadukan dengan seni memelihara harga diri membuat siapapun yang datang menjadi betah sekaligus MALU menyombongkan diri. Pendatang yang melihat ketulusan mereka juga belajar dan menyerap semua contoh yang telah diberikan tersebut, kemudian menularkannya pada yang lain. Sebaliknya, penduduk asli juga menghargai rasa hormat yang telah dikembalikan para pendatang tersebut, hingga semua berakhir dengan rasa saling memahami yang kian besar. Maka yang terjadi antara mereka adalah pembelajaran yang bersifat mutual, sehingga dengan demikian mereka bisa serempak bernyanyi dengan lantang, “EBONY AND IVORY, LIVE TOGETHER IN PERFECT HARMONY….”. Kalau saja semua daerah di Indonesia bisa belajar dari manusia-manusia asli dan pendatang di Sulawesi Utara, pasti lagu tersebut bisa berkumandang di seluruh penjuru Indonesia. TUHAN memberkati kerukunan antar etnis di Indonesia, TUHAN memberkati contoh yang telah diberikan rakyat Sulawesi Utara (Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga).