Kabarnya di dunia ini ada sekitar
sepuluh ribu bahasa, dan hampir sepuluh persennya –yakni tujuh ratus tiga puluh
sekian- disumbang oleh Indonesia. Itu yang ketahuan, karena masih banyak lagi
wilayah lingual yang belum tereksplorasi di negeri luar biasa kebanggaan saya
ini. Bau-Bau ini saya ada urusan di Baru-Baru. Eh, salah. Baru-baru ini saya
ada urusan di Bau-Bau, Sulawesi Tenggara:).
Mengapa daerah ini disebut demikian saya tidak tahu pasti, yang jelas saya
tidak berani mengendusi penduduknya satu demi satu untuk membuat kesimpulan:). Dan saat mengobrol
dengan seorang penduduk asli yang terdidik dengan baik, saya mendapat informasi
bahwa wilayah Sulawesi Tenggara memiliki sedikitnya 70 bahasa daerah. Ya,
T-U-J-U-H P-U-L-U-H bahasa daerah. Dan kalau anda pikir bahwa di sana Bahasa
Indonesia adalah bahasa pemersatu yang digdaya, maka anda salah terka, persis
seperti saya sebelumnya. Karena ternyata mereka punya bahasa pemersatu sendiri,
yakni Bahasa Wolio, yang sudah eksis jauh sebelum Bahasa Indonesia resmi dinyatakan
sebagai bahasa Nasional. Bahkan ada sebuah suku di sana dengan bahasa yang
memiliki banyak sekali kesamaan dengan Bahasa Korea, sehingga ini mengundang
minat para ahli bahasa dari Korea untuk membuat penelitian di sana. Namun
hingga tulisan ini diturunkan, misteri yang membentuk kesamaan tersebut belum jua
terkuak.
Sekalipun kali ini saya bicara
soal bahasa, namun postingan ini masih ada kaitan dengan posting sebelumnya.
Untuk itu saya perlu mengisahkan kali pertama saya mendarat di tanah Sulawesi
Utara. Ketika itu saya masih dalam keadaan bunting, merasa sangat tidak nyaman
karena pinggang dan perut sakit -belum terhitung tekanan udara dalam pesawat-,
terkatung-katung di bandara karena pesawat tertunda dalam rangka cuaca buruk
selama sekian jam, dan baru mendarat sekitar jam dua malam. Total waktu yang
saya habiskan sejak pesawat meninggalkan Semarang hingga tiba di Manado adalah
sekitar 15 jam. Pokoknya sesuatu banget, deh. Saya dan suami dijemput oleh
kakak ipar dan suaminya yang tinggal hanya sekitar sepuluh menit dari bandara,
dan ketika saya tiba, semua orang yang ada di rumah bangun untuk menyalami saya
dengan wajah ngantuk yang gembira. Saya –nyaris pingsan karena kelelahan- hanya
bisa duduk terpekur dan sekuat tenaga berusaha menampilkan senyum ramah,
mengingat mereka bela-belain menginap di rumah kakak ipar tersebut hanya untuk
menyambut kedatangan saya.
Teh hangat yang harum menggoda terhidang di meja, namun
sebagaimana pantasnya orang Jawa saya diam dengan sabar menunggu dipersilakan. Tapi
betapa terperanjatnya ketika salah seorang dari keluarga suami berkata,
“Goyang, jo.” Darah diam-diam naik ke kepala (darah memang biasanya mendidih
lebih cepat pada orang hamil yang kelelahan dan nyaris pingsan:)), dan saya bisa
merasakan wajah saya panas karena rasa tersinggung. Batin saya, sudah bunting,
kelelahan, terkatung-katung selama belasan jam, eh, datang-datang malah disuruh
goyang. Saya diam saja, berjuang keras meredakan amarah, namun lagi-lagi
seseorang berkata, “Goyang, jo, lalu minum.” Ini sudah keterlaluan, kata saya
dalam hati sambil mengumpat. Masa untuk secangkir teh hangat saja saya disuruh
ngibing dulu, apalagi kalau saya dapat cemilan kaviar? Apa mereka bakal
menyuruh saya striptease? Karena rasa tersinggung sudah sampai ke ubun-ubun,
maka saya naikkan pandangan yang tak ramah, dan tampaklah bahwa mereka saling
celingukan dengan tampang bingung. Untung suami saya menyambar cepat, “Goyang
maksudnya aduk, supaya gula tercampur.” Astaga! Saya hanya bisa kembali
menurunkan pandangan lekas-lekas, dan menyeruput teh diam-diam untuk menutupi
rasa malu. Untung saja orang-orang Manado ini terlalu cuek untuk menyadari kebodohan kultural saya. Peristiwa itu membuat saya bertekad
untuk lebih berhati-hati dalam bereaksi, sekalipun itu dalam hati.
Namun
rupa-rupanya bukan hanya keledai yang terperosok dalam lubang yang sama. Ini kali
terjadi ketika saya diajak jalan bertiga oleh suami dan sahabatnya, seorang
Cina Manado, pebisnis muda yang tampan dan menarik, dan menyesaikan SMP dan SMA
di Singapura dan kuliah di Amerika. Namanya juga orang berpendidikan baik, maka
wajarlah jika ia adalah teman mengobrol yang menyenangkan. Kami sudah sering
berjumpa, karena ia boleh diibaratkan ‘istri kedua’ suami saya (istri
pertamanya gitar, istri ketiga dan berikut adalah kuas, komputer, dan
lain-lain, sedangkan saya entah istri keberapa:)).
Saya senang dengan anak muda yang waktu itu berumur sekitar 26 tahun tersebut
karena wawasannya luas, pekerja keras, sikapnya membumi dan optimistis, ramah, dan
pilihan katanya selalu baik. Namun rasa suka saya teruji saat tiba waktu
memesan menu, dimana ia memanggil waiter dengan cara demikian, “Sst, cewek!
Cewek!”
Simpati saya runtuh seketika itu
juga. Bagaimana mungkin seseorang yang kuliah di Amerika dan sebagainya bisa
berkelakuan tidak ubahnya pengangguran yang suka nongkrong di jalanan di pulau
Jawa, dan menggoda tiap gadis yang lewat dengan tampang mesum menjijikkan? Rasa
muak tersebut dipertajam dengan simpati saya pada waiter, yang saat dipanggil
‘cewek’ dengan tidak hormat tetap melayani dengan sikap baik. Betapa kebutuhan
hidup memang seringkali membuat orang terpaksa membuang harga diri, demikian
ratap saya dalam hati atas nama perikeperempuanan. Maka sepanjang sisa waktu
saya sama sekali tak mengeluarkan sepatah katapun kecuali bila ditanya, itupun
seperlunya, dengan nada dingin pula. Bisa jadi kelakuan saya membuatnya merasa
tak enak atau apa, karena waktu kami berjalan di parkiran saya dapati diam-diam
ia menarik suami saya dan berbisik-bisik. Saya memalingkan pandangan, pura-pura
tak melihat. Lebih tepat, sama sekali tidak peduli dengan apa yang ia katakan
atau lakukan, karena saya benar-benar merasa jijik.
Sampai di rumah, suami saya
menegur kelakuan saya tadi dengan nada hati-hati, karena kian besarnya
kandungan membuat saya kian mudah tersulut emosi. Keruan saja amarah yang sejak
tadi saya pendam tersembur bagaikan asap Gunung Soputan. Begitu emosinya
sampai-sampai suara saya gemetar. Tak dinyana suami saya justru tertawa
cekikikan. Saya menyipitkan mata tanda geram (maksud saya kian menyipitkan,
karena mata saya kan sudah sipit dari sononya:).
Di tengah derai tawanya, ia menjelaskan bahwa, “Memang begitulah cara orang
Manado menyapa perempuan muda yang tidak dikenal. Kalau laki-laki mereka sapa
‘cowok’.” Saya menyanggah keras sambil memandangnya dengan tatapan hina,”Nggak
usahlah kamu tutupi kelakuan sahabatmu itu! Kamu pikir aku nggak tau sapaan
Nyong dan Nona??!!”. Suami saya tambah tergelak-gelak, dan sambil mengusap air
matanya berkata,”Terserahlah kalau nggak percaya. Buktikan saja sendiri kalau
lagi jalan di pertokoan atau di mana. Makanya jangan kebanyakan bengong.” Dan
ternyata setelah saya buktikan esoknya, penjelasan suami saya ternyata benar
adanya dan bukan semata dusta untuk menutupi kelakuan tengik sahabatnya. Saya
benar-benar malu dan merasa tak punya muka lagi untuk menemui sahabat suami
saya tersebut. Tapi rupa-rupanya dia dengan mudah melupakan ketidak sopanan
saya, karena dua malam berikutnya ia kembali mengundang kami makan di luar dan
tetap mengajak saya mengobrol dengan ceria seakan tak terjadi apa-apa.
Setelah itu saya benar-benar
kapok dan tak mau jadi keledai untuk kedua kalinya. Bukan hanya bersikap
hati-hati, namun lebih jauh saya lepaskan kerangka pikir saya sebagai orang
Jawa yang selama puluhan tahun tinggal di Pulau Jawa, dengan bahasa dan
implikasinya yang secara sosial dan budaya seringkali sama sekali berbeda
dengan wilayah lain di Indonesia. Dan ini lebih dari sekedar menguasai Bahasa
Indonesia sebagai bahasa persatuan secara baik dan benar. Karena bahasa bukan
semata-mata struktur atau kosakata, melainkan lebih dari itu adalah ekspresi
dari tatanan dan nilai-nilai sosial. Kita bisa tenang-tenang saja sekiranya
tinggal di sebuah negeri dengan satu bahasa, adat, dan budaya. Tapi nyatanya
kita tidak tinggal di negeri yang seperti itu. Kita tinggal di negeri dengan
seribu bahasa, adat, budaya, cara hidup, tradisi, dan segala rupa yang berbeda.
Jangankan bahasa daerah yang memang terbentang jauh antar tiap-tiap daerah,
sedangkan memaknai Bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan saja tiap daerah
memiliki kebiasaan dan nilai sosialnya sendiri-sendiri.
Tidak mudah memang menjadi orang
Indonesia. Mudah jika kita hanya tinggal di tempat kita dilahirkan, duduk manis
saja di situ tanpa beranjak ke mana-mana sehingga tidak perlu bertemu
saudara-saudara dari wilayah Indonesia yang berbeda. Mudah jika kita tidak
menggunakan jejaring sosial, yang memungkinkan kita berkomunikasi dengan
siapapun dari manapun sudut di Indonesia hanya dengan berdiam diri di rumah.
Mudah kalau kita memutuskan untuk menjadi pertapa, sehingga kita tak perlu
repot-repot memelajari keunikan karakter saudara-saudara kita dari wilayah lain
dan cara mereka mengartikulasikan Bahasa Indonesia dari perspektif mereka.
Mudah kalau kita memilih untuk menjadi katak dalam tempurung, sehingga kita
tidak perlu susah payah meninggalkan perspektif budaya asal kita saat
berhadapan dengan mereka dari budaya yang total berbeda di negeri kita.
Tetapi siapa memangnya yang mau
hidup seperti itu, sekalipun itu mudah? Maka masing-masing kita memang tak
punya pilihan selain meninggalkan pola-pola primordialisme, termasuk dalam
berbahasa Indonesia, saat menjumpai saudara kita dari wilayah yang berbeda,
entah kita bertandang ke tempat mereka atau mereka yang bertempat di wilayah
kita. Ketika pola primordialisme sudah tanggal, maka yang tinggal hanyalah
kesadaran bahwa kita tengah berhadapan dengan orang berlainan etnis yang punya
pemahaman bahasa dan budaya sendiri. Dan saat rasa satu Indonesia yang utuh
sudah tertanam kuat, kita musti kembali mengingat bahwa bagaimanapun Indonesia
dibentuk oleh ribuan hal yang berbeda. Dan inilah paradoks yang paling indah
dan menyentuh dari Indonesia, paradoks yang tak ada di Negara manapun di
penjuru dunia: semakin kita beda, semakin kita satu. Semakin kita satu, semakin
kita beda! Indonesialah yang membuat kita beda, Indonesialah yang membuat kita
satu. Luar biasa TUHAN yang mencitakan ribuan perbedaan dan satu persatuan bagi
Indonesia! Luar biasa Tuhan yang menciptakan Indonesia sebagai negeri seribu
bahasa, seribu cita, dan rasa yang berbeda!
Tuhan memberkati anda dan saya!
Tuhan memberkati perbedaan kita bangsa Indonesia!(Yuanita Maya, penulis lepas, ibu rumah tangga)